MEXT Story: Flying to Japan

Thursday, September 28, 2017

Student Visa fixed, tiket sudah ditangan, baju dan barang-barang sudah dipacking. Then, Let's Flying! 

Agak deg-degan rasanya, sejak H-1 minggu. Lebih tepatnya, otak mulai kalap dengan carut marut pikiran dengan hal-hal yang di luar ekspektasi. Nanti kalau uangnya kurang gimana? Kalau bermasalah di imigrasi gimana? Kalau pesawat berikutnya nggak terkejar gimana? Yes, a lot of things. Tapi akhirnya, ya bismillah aja. 

Alhamdulillah dapet tiket penerbangan Jakarta-Haneda dan Haneda-Kagoshima, all by ANA (All Nipon Airways). Sebenernya sih, yang tiket Haneda-Kagoshima itu saya harus bayar sendiri. Berhubung entah gimana, bisa dibilang kalau ini kebaikan ISO aka International Student Office-nya Kagoshima, saya dibelikan dulu tiket pesawat Haneda-Kagoshima, dan bulan depan saya harus membayar cash ke International Student Office. Secara tidak langsung bisa dikatakan bahwa saya belum berangkat ke Jepang, tapi saya sudah punya hutang 1,5an juta di Jepang. 

Well, pesawat take off dari bandara Soekarno-Hatta (CGK) jam 09.55. Saya sudah menunggu di Gate E3 dari jam 09.00, dan ternyata banyak juga orang-orang senasib seperti saya (walopun nggak tau mereka MEXT scholar juga atau bukan) yang naik ANA. Kalau lain kali saya disuruh milih GA atau ANA, saya bakal milih GA. Kenapa? Hiburannya ngerti bahasa-nya, dan makanannya lebih bersahabat di lidah, hhaha. Intinya sih soal fasilitas gak terlalu berbeda, karena dua-duanya sama-sama maskapai papan atas dunia. 

Pesawat landing di Tokyo, Haneda pas jam 06.30 dan saya langsung jalan cepet-cepet biar nggak kelamaan tertahan di imigrasi. Ternyata, imigrasi di Haneda mirip di Melbourne (Australia), jauhh banget dibandingkan Narita. Antriannya mengular panjang. Butuh 30 menit untuk sampai ke counter imigrasi, walaupun banyak counter yang dibuka, tapi tiap counter ada spesifikasinya sendiri-sendiri seperti short visit, mid-long term stay, dll. Setelah melihat tujuan kunjungan saya adalah "study", petugas imigrasi langsung melihat visa saya yang tertera tulisan government scholarship, lalu saya diarahkan ke counter imigrasi bagian mid-long term stay untuk membuat residence card. Disinilah asal muasal keapesan hari itu. Teman-teman yang antri di counter lain hanya butuh sekitar 5-10 menit untuk rekam sidik jari, foto wajah dan buat residence card, tapi di counter saya butuh 15 menit per orang. Bukan saya gak sabaran, tapi saya tiba di depan counter itu 07.30, giliran saya jam 08.00 dan saya harus boarding penerbangan berikutnya jam 08.30. Ini yang bikin saya deg-degan. 

Saya keluar dari imigrasi jam 08.15 dan langsung lari mengambil troli mencari bagasi saya yang ternyata sudah nggak ada. Bingung ke sana kemari mencari petugas ANA, akhirnya saya lihat seorang pramugari mengangkat koper dan tas saya ke troli. Saya langsung lari mengejar pramugari itu "I'm sorry, this is mine". Dan, setelah si pramugari itu lihat jam, lalu bilang ke saya kalau saya sudah tidak bisa drop off baggage saya, jadi saya harus ikut penerbangan berikutnya. Wahh bahaya ini kalau sampai kena charge lagi -_-

Saya dibantu petugas dari ANA membawa bagasi saya ke custom declare. Alhamdulillah no problem, jadi langsung lanjut ke pintu keluar. Ternyata, counter check in domestic ANA ada di dekat pintu keluar International Airport, jadi kalau tadi nggak pake acara tertahan 30 menit lebih di imigrasi, mungkin saya masih keburu ngejar pesawat ke Kagoshima jam 08.55. Tapi, mungkin kalau perjalanan mulus-mulus saja, nggak akan pernah ada cerita. Di counter check in, saya langsung dicarikan pesawat selanjutnya yang kosong. Untuk ANA, baru ada kursi kosong jam 12.00. Sedangkan Solaseed, maskapai lain anak perusahaan ANA (macam Citilink gitulah, masih keluarga sama Garuda Indonesia), ada penerbangan jam 10.00. Saya pilih Solaseed, karena mikir kasihan staff yang sudah nunggu saya di Kagoshima Airport, dan Nahoko yang sudah nunggu di Kagoshima Chuo Eki. Di depan counter, saya udah otak-atik Hape nyari gratisan WIFI Bandara buat kasih kabar ke mereka. Beruntung Nahoko ada aplikasi Whatsapp, jadi langsung bisa saya hubungi. Sedangkan University staff-nya saya hanya bisa hubungi lewat email. 

Perjuangan nggak berhenti sampai situ. Untuk pindah ke domestic terminal, saya harus naik shuttle bus yang disediakan di Haneda Airport. Butuh waktu sekitar 15-20 menit untuk transfer antar terminal. Well, paham saya, kalau saya punya waktu 30 menit dari Haneda pun, saya nggak akan bisa mengejar pesawat ke Kagoshima.

Di pesawat menuju Kagoshima ini saya lebih banyak tidur, karena kecapekan plus agak kurang enak badan. Pas landing di Kagoshima Airport pun cuaca-nya berubah drastis, gelap dan hujan deras, macam nggak ada bedanya sama Bogor. Setelah landing, saya buru-buru keluar dan ambil bagasi. Berhubung penumpangnya nggak banyak, jadi lumayan cepet proses ngeluarin bagasinya. Saya ambil troli dan ambil semua barang saya trus keluar dan sudah ada staff university yang membawa tulisan Kagoshima University. 

Dari domestic airport, saya diarahkan naik shuttle bus dan turun di Kagoshima Chuo Eki bus stop. Yep, karena shuttle bus, wajar kalau tarifnya mahal, sekitar 1200 Yen. Sekitar 1 jam perjalanan dan akhirnya saya tiba. Sudah ada petugas yang membantu menurunkan barang-barang saya. Nah! Bingungnya, mana ini orang-orang yang jemput saya? Bahaya kalau saya angkut-angkut semua barang sendiri, ribet, wkwkwk. Saya benerin tas sebentar, lalu dari arah dalam, terlihat Nahoko dan Yukiko lari keluar. Woa, yeay! #SenyumCeria. Sekedar info, bawaan saya ada 5. 1 Koper 20 Kg, 1 tas jinjing 12 Kg, 1 ransel besar sekitar 8-9 Kg, 1 ransel kecil ringan tapi meruah, dan goodybag yang isinya laptop dan dokumen. Kebayang kan rempong-nya? :)

Nah, ternyata lagi nih, ada 2 orang anak lab yang hari ini juga balik ke Indonesia, Ziki dan Eko, pas banget ketemu di bus stop. Coba kalau penerbangannya nggak direschedule, mungkin nggak bakal rame-rame ketemu di bus stop kayak gini. Well, semua ada hikmahnya.

Lanjut, saya naik taksi dengan Nahoko dan Yukiko, well karena bagasi saya banyak sekali. Langsung menuju Kaikan, alias International Student Dormitory. Saya kebagian kamar paling mahal, paling bagus, di lantai paling atas (lantai 5). Dan lagi, beruntung ada lab member yang lain yang dia bisa dibilang ikut membantu pembagian kamar mahasiswa baru. Kami bertiga membawa barang yang cukup lumayan berat ke lantai 5. 

Setelah perkenalan sebentar dengan pengurus dorm dan brief orientation, saya akhirnya bisa rehat sebentar di asrama, bongkar-bongkar barang dari koper lalu mandi. Malamnya, Saya, Nahoko, Kartika dan Tanaka makan malam bersama di Bangladesh restaurant. Well, restaurant halal pertama yang saya kunjungi di Kagoshima, hhehe. 

Next: Residence Card, National Health Insurance.

You Might Also Like

0 comments

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA