Amount yang fantastis

Wednesday, June 14, 2017

Ini memang bukan kali pertama, tapi rasanya tiap kali memperoleh sesuatu saya selalu dihadapkan dengan uang yang nominalnya fantastis di awal.

Let's say, pertama kali saya dapat kesempatan ke Jepang, saya sudah didaftarkan beasiswa JASSO oleh pihak universitas yang menyelenggarakan program kegiatan, dengan catatan travel expense tidak ditanggung. Secara matematis, saya akan menerima beasiswa sebesar 80.000 Yen, jadi saya harus berhitung agar uang tersebut cukup untuk tiket pesawat, sewa apato dan bea hidup selama di Jepang. Well, saat itu saya 'berhasil' memperoleh tiket pesawat pp Jakarta-Tokyo dibawah 5 juta, berarti masih ada sisa sekitar 2.5 juta-an untuk living cost dkk. Perlu diperhatikan bahwa beasiswa JASSO itu baru cair ketika saya sudah tiba di Jepang, sehingga dengan kata lain saya harus 'nalangi' dulu semua pengeluaran saya selama di Jepang. Beruntungnya, dihari kedua setelah tiba di Jepang, pihak university mau berbaik hati meminjamkan uang senilai 80.000 Yen kepada kami, yang selanjutnya wajib kami bayar kembali saat beasiswa JASSO sudah cair. Jadi, jumlah amount yang fantastis itu hanya bikin deg-degan di awal saja dan tersolusi di ketika tiba di Jepang.

Berikutnya saya berkesempatan mengikuti international conference di Australia dengan sponsor dari ACIAR. Dana dari sponsor ini hanya mencakup biaya perjalanan dan biaya registrasi kegiatan. Sederhana-nya, saya ikut kegiatan di Australia gratis dan ditanggung transportasinya, tapi saya harus mikir bea hidup dan tempat tinggal selama di sana. Dari bantuan 1350 AUD ini saya mikir gimana caranya biar nutup ongkos pesawat dan penginapan. Well, saya kurang beruntung karena dapetnya pesawat harga 12 juta-an. Walhasil, tinggal sisa 1,5 juta buat penginapan. Itu belum termasuk makan, dan saya putar otak biar bisa hemat makan. Jadi saya bawa mie instan yang banyak, karena toh selama conference saya dapat fasilitas makan, lalu saya makan banyak-banyak, dan mie instan itu saya makan di hari pertama dan terakhir saja di Australia, karena sudah tidak ada conference. Dananya darimana? Well, karena status saya masih 'student' saya bisa mengajukan bantuan dana dari kemahasiswaan, tapi cairnya belakangan setelah acara kelar dan membuat laporan pertanggungjawaban. Jadi, saya juga harus mikir nalangi uang yang bisa dibilang 'fantastis'.

Terakhir, para awardee monbusho (monbukagakusho) pasti sangat paham dengan kondisi ini. Beasiswa ini cairnya ketika si penerima sudah tiba di Jepang, dan nggak tanggung-tanggung harus nunggu sebulan dulu. Secara nggak langsung itu himbauan untuk para penerima agar membawa uang yang 'cukup' untuk kehidupan sebulan pertama di Jepang. Masalahnya, bulan pertama itu nggak sepele, namanya juga belum settle. Yeah, salah satu dan paling penting adalah sewa apato yang sewanya harus dibayar di awal untuk minimal tiga bulan. Kalau satu bulannya 25.000 Yen, 3 bulan berarti 75.000 Yen. Jadi buat apato saja mesti persiapan 7.5-8 juta rupiah. Stress nggak itu? Tapi beberapa universitas mengarahkan mahasiswa baru untuk tinggal di dormitory pada tahun pertama agar mudah mengurusnya, kalau anda beruntung. Tapi itu juga ada beberapa univ yg 'nakal', karena kita diberi dorm yg paling mahal hanya karena monbusho itu beasiswa yg prestisius. Belum selesai, bea makan juga cukup tinggi. Bagi yg sudah pernah ke Jepang sih pasti lebih memilih bawa beras atau mie instan yg kira2 cukup u/ satu bulan, demi bisa menekan ongkos makan sampai beasiswa cair.

Ah entahlah ya ini... tapi intinya, no pain no gain!

You Might Also Like

0 comments

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA