Dialog Hati #2: Endapkan emosi, lalu cermati dengan lebih bijak

Sunday, January 25, 2015

Ada kalanya ketika diri berhasil mengendalikan emosi dengan baik harus diuji dengan kemarahan orang lain yang secara frontal mengganggu emosi kita. Dampaknya tentu saja psikologis kita. 

Jika dihadapkan dengan hal demikian, kita punya pilihan untuk tetap mempertahankan kestabilan emosi sendiri atau turut tersulut emosi, yang kadang secara tidak sadar kita terlalu memperturutkan pilihan kedua. 

Tindakan paling mudah adalah tindakan yang melibatkan diri sendiri karena kita adalah pelaku utama pengendalinya. Menuntut terlalu banyak pada orang lain adalah suatu keniscayaan, karena pengharapan yang terlalu besar lebih banyak berdampak pada besarnya kekecewaan.

Kita tidak bisa mengontrol perlakuan orang kepada kita, tapi kita selalu bisa mengontrol reaksi kita terhadap perlakuan orang tersebut.

Jika demikian maka mendengarkan adalah sikap yang paling tepat tanpa perlu merespon seketika, bukan berarti apa yang disampaikan menjadi tidak penting bagi kita, namun jika respon kita berikan secara langsung justru memperkeruh suasana yang akan memperturutkan kita pada kondisi yang memancing emosi kita. Bukan juga benar atau salah, menang atau kalah yang diutamakan disini tap bagaimana mengelola emosi. Bukankah ketika marah itu bukan orang lain yang kita lawan, tetapi emosi kita? :)

Proses pengendapan selalu memberi ruang hati dan pikiran untuk bekerja secara jernih untuk mencermati secara lebih arif. Pengendapan memberikan ruang menimbang-nimbang baik buruknya sesuatu berdasarkan logika, bukan lagi emosi. Bukankah tak ada manusia yang benar-benar sempurna? Jadi penekanan introspeksi diri harus diutamakan. Orang lain bisa salah, demikian pula dengan diri sendiri. Oleh karena itu mengkritik orang dan merasa paling benar bukanlah memberi masukan dengan tulus tapi malah menghakimi orang tersebut.

*Fastabiqul Khoirot*
*Start Giving Love First not Hoping Love First*
*Manajemen Hati*

You Might Also Like

0 comments

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA