Assalamualaikum Beijing: Review

Wednesday, January 07, 2015

Film yang sedang naik daun di bioskop dan sukses menyedot perhatian publik ini, mereka yang patah hati, mereka yang dalam masa penantian, ataupun mereka yang sampai sekarang gagal move on. Dan film ini juga menceritakan bahwa pada akhirnya kesabaran berbuah manis.

Tag line-nya aja sudah bikin bulu kuduk merinding:
"Jika tak kau temukan cinta, biarkan cinta menemukanmu"


Kenapa nonton? Simple aja jawabannya, kapan lagi jalan-jalan gratis ke China ;). Yang kedua, penasaran patah hati-nya kayak apa sih? Gimana cara di Asma mengumpulkan kekuatan buat bangkit dari patah hati?

Karena film ini adopsi dari novel, pasti akan banyak yang membanding-bandingkan dua makhluk sastra ini. Iyasih boleh, tapi yang harus ditekankan sekali lagi bahwa film dan novel adalah 2 makhluk berbeda. Dan lebih simple lagi, sehebat apapun sutradara itu dia tak akan mampu mewakili semua imajinasi pembacanya *pengalaman banget soal ini*

Beberapa kali nonton movie setelah baca novelnya dan selalu tersisa rasa agak nggak puas, akhirnya saya lebih milih kali ini nonton movie-nya dulu baru baca novel-nya (padahal udah punya novelnya).

Pertama-tama terkesima dengan tata kota di China, dan cuma bilang "WOW". Memang karena satu rumpun, China, Jepang dan Korea agak mirip-mirip, seperti bentuk bangunannya. Di China jalan-nya dibagi 3, khusus mobil, pejalan kaki dan pesepeda (noted: cuma di Indonesia dimana pejalan kaki dan pesepeda gak dapet haknya secara spesial). Berikutnya adalah ketika di Great Wall yang ternyata gede banget.. (duh kapan kesana? *mulai mupeng). Overall dari setting tempat saya nggak banyak komplain. 

Namun dari sisi jalan cerita saya agak merasa kurang emosional. Yap, perasaan Ra ketika patah hati gak dibahas terlalu dalam disini, gimana dia akhirnya bangkit dan move on, padahal itu penting dan bisa jadi motivasi buat yang lagi patah hati #loh!!. Tapi saya juga nggak tahu, yg patah hati-nya nggak dibahas sedetail itu pun saya sampai meleleh nonton film ini *mungkin terlalu lebay menghayatinya*

Nah karena penasaran dari sisi perjuangan Ra move on dari patah hatinya ini akhirnya dengan segala niat, baca deh novelnya, dalam semalem dan khatam. Iya memang bener, nangis-nya lebih sesenggukan. Dari kata-kata penguatan Ra yang menurut saya paling membangkitkan adalah:

"Patah hati perkara manusiawi, tetapi tidak boleh berlarut-larut. Sebab ketika seseorang berlama-lama dalam perasaan nelangsa, dia kehilangan fokus pada semesta kebaikan yang Alloh limpahkan"

"Rasa sakit akan menguatkan seseorang menapaki hidup. Penderitaan akan menumbuhkan kebijaksanaan. Kesengsaraan yang melewati batas akan melahirkan kekuatan yang tak bisa diduga"

Berasa curhat jadinya :) dan poin kedua itu rasa-rasanya nggak asing.

Sisi perbedaan lainny, kalau di movie saya merasa sebagian besar setting-nya di China, sedang kalau novelnya justru setting-nya di Indonesia. Meski itu nggak menggeser makna dari movie ini, dan lebih mempertegas bahwa Novel dan Movie adalah 2 makhluk yang berbeda.

Di akhir, cuma menukil kata-kata paling berat dari buku Assalamualaikum Beijing:

"Cinta itu menjaga, tergesa-gesa itu nafsu belaka"

You Might Also Like

0 comments

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA