Belajarlah, karena Ilmu Tak Mengenal Usia

Monday, October 27, 2014

source: www.wordholic.com
Umur berapa kamu bisa naik sepeda motor? Mungkin sewaktu SMP kamu sudah kemana-mana dengan sepeda motor, atau SMA. Masih lumayan lah.. Nggak malu-malu, dan lagipula masih wajar belajar selagi masih sekolah.

Tau kapan saya bisa naik sepeda motor dengan lancar? Awalnya saya malu mengatakannya, tapi kemudian saya pikir saya patut bangga. Kenapa? Ceritanya panjang.

Dulu kelas 6 SD saya pernah diajari ayah saya naik sepeda motor. Bisa? ya, cuma memainkan gas saja saya sudah bisa. Tapi selama SMP saya 3 tahun di pondok, dan tak pernah latihan lagi. Boro-boro latihan, menyentuh motor pun nggak pernah. Hilang sudah ilmu saya.

Kelas 1 SMA, saya kembali diajari ayah saya. Kali ini lebih mantap, setiap pulang dari SMA dan dari les saya selalu latihan. Harusnya saya sudah bisa naik motor sendiri. Tapi kenapa? Ya, saya nggak punya nyali untuk mulai naik motor sendiri, terlebih ayah dan ibu saya nggak mengizinkan saya pakai motor kalau saya belum benar-benar lancar. Toh kemana-mana transportasi umum juga banyak. Alhasil, ya selama SMA saya nggak berani naik motor.

Saat kuliah, saya pindah keluar kota yang jauh sekali dari kampung halaman. Beli sepeda motor? boro-boro, untuk biaya kuliah saja orang tua harus berjuang mati-matian. Dan karena kultur di kampus saya juga berjalan kaki, saya juga terbiasa dengan berjalan kaki. Kalau pergi ke kota ya naik angkot, toh kota 1000 angkot.

Suatu ketika, menginjak semester 1 program Master, saya dapat lokasi penelitian yang cukup pelosok. Angkot ada sih, cuma saya harus memutar yang cukup jauh dan bisa memakan waktu hampir 2 jam hanya untuk perjalanan saja. Saya mulai berpikir, ini tidak praktis, tidak efisien, dan nantinya saya tidak bisa cekatan dalam mengambil tindakan. Dan mulailah terbersit kembali 'seandainya saya bisa naik motor'.

Lalu, ah bukannya saya memang bisa naik motor, hanya tidak berani saja. Ya, akhirnya saya membeli motor dari uang tabungan saya dan mulai latihan mengendarainya. Seminggu pertama, saya hanya gantian saja, dan sering diklakson orang karena jalan nggak bener. Lama-lama saya makin kebal, ah saya ini kan latihan, kalo nggak pede saya nggak bakal bisa. Malu? Ya sebenernya iya, tapi 2 bulan kemudian kan saya pasti sudah lancar.

Minggu ke-2, sedikit kemajuan. Sudah berani menurunkan motor di belakang kosan yang terhitung curam. Tapi sekaligus tantangan, yaa.. ketika saya menaikkan motor pada tanjakan itu saya jatuh langsung dan nyaris masuk parit (kalo inget ini rasanya pengin ketawa, kok bisa ya...). Setelah itu ketakutan saya makin menjadi-jadi, nggak berani naik dan nggak berani turun di tanjakan belakang kosan. Yaa tiap hari minta tolong teman atau penjaga kosan, tiap kali menaikkan atau menurunkan motor (kocak juga kalau ingat ini). 

Tiga bulan, empat bulan dan sampai 6 bulan saya belajar motor. Kendala saya masih satu, saya nggak berani menaikkan dan menurunkan motor. Suatu hari karena nggak ada yang diminta tolong akhirnya saya menaikkan motor sendiri, modal nekat dan menarik gas pelan-pelan, kaki saya turun ke menginjak tanah sambil melangkah.. Dan yaa ternyata cuma seperti itu cara menaikkan motor. Akhirnya saya berani menaikkan motor sendiri.

Beberapa minggu kemudian terjadilah hal yang tidak saya inginkan. Tidak ada orang di kosan, tidak ada penjaga kost, dan saya pulang terlalu awal. Mau tidak mau saya harus menurunkan motor sendiri, karena terlalu lama ditinggal di atas sangat berbahaya dicuri orang. Setengah takut dan keringat dingin. Tiba-tiba ada bapak bapak dan istrinya lewat, lalu ditanyalah saya mau kemana. Saya jawab saja jujur "Saya mau menurunkan motor pak, tapi saya takut". Dan tau apa responnya? Yasudah diturunkan saja pelan-pelan, bapak pegangi motornya dari belakang. Akhirnya saya turunkan motornya pelan-pelan, rem tangan mencengkeram kuat, dan kaki masih turun menginjak tanah sambil melangkah pelan-pelan. Hampir satu menit, dan akhirnya saya sampai di bawah :D

Ah terimakasih bapak... Pada akhirnya ketakutan saya akan curamnya turunan sedikit teratasi :)

Hari-hari berikutnya saya sudah berani menaikkan dan menurunkan motor sendiri. Ah, keberanian itu kadang harus dipaksa, menunggu kondisi terpaksa baru keluar dan baru mau belajar. Tapi kemudian ini yang membuat saya yakin, selama kita masih mau belajar semuanya masih bisa teratasi.




You Might Also Like

2 comments

  1. yang penting sekarang keahlianku melebihi skill-mu naik motor :D
    *selalu ada hikmah*

    ReplyDelete

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA