Idul Fitri dan Tradisi Mudik Lebaran

Saturday, July 26, 2014

Setiap ramadhan selalu punya cerita indah tersendiri, entah setiap tahunnya tak pernah sama. Semenjak hidup di perantauan kisahnya semakin berwarna. Ya, ini kisahku dan mungkin juga beberapa perantau lainnya.

2 tahun lalu saya menghabiskan 1 bulan ramadhan penuh di rumah, bukan karena libur atau tak ada kegiatan, tapi saya memilih mengerjakan skripsi di rumah agar tak tergoda kegiatan-kegiatan kemahasiswaan lainnya. Tahun lalu menghabiskan hanya 1 minggu di Bogor, dan sisanya full di rumah. Tahun lalu adalah tahun pengharapan, antara cita-cita dan realita. Tahun ini, 1 bulan full di Bogor dengan agenda yang bisa dibilang cukup padat. Bukan karena jadwal kuliah, tapi banyak target yang saya kejar bulan ini agar Agustus nanti saya bisa fokus penelitian sebelum jalan-jalan.

Mudik? Yah, saya tak pernah melewatkannya barang sekali saja selama hampir 7 tahun saya di Bogor. Mudik pertama dan kedua, saya masih ikut mudik bersama teman-teman KMK. Tahun ke-3 dan ke-4 saya dan adik saya mencoba petualangan baru, yang mungkin tak pernah saya rasakan jika tak ada adik saya, yah.. mudik dengan kereta ekonomi. Pengalaman terburuk adalah mudik tahun ke-3, dimana saya dan adik saya berdiri sepanjang perjalanan Jakarta-Klaten, efeknya sampai rumah badan saya demam tinggi. Tahun ke-4, kami kehabisan tiket ke Klaten dan hanya memperoleh tiket sampai Semarang. Akhirnya kami bertualang ke kota kelahiran (Kudus) mengunjungi saudara-saudara kami yang sudah lama sekali tak bertemu.

Tahun ke-5 saya pulang sejak awal bulan Ramadhan, dan tahun ke-6 saya masih menjadi penumpang setia kereta ekonomi yang kian hari sistem-nya semakin baik. Tahun ke-7, saya juga masih menumpang di kereta Gaya Baru Malam Selatan yang tiketnya sudah saya dapatkan mati-matian sejak 3 bulan yang lalu.. Semoga perjalanan lancar.

Jika ditanya kenapa kami begitu berjuang untuk mudik meski harus naik kereta yang bisa sepanjang perjalanan kami berdiri? Yap, saat itu kami masih bergantung dengan orang tua. Rasanya berdosa sekali menghambur-hamburkan uang hanya untuk transportasi mewah, padahal yang sederhana pun kami bisa. Setiap segala sesuatu ada pengorbanannya. 

Kenapa kami harus mudik walaupun hanya 3-5 hari saja di rumah? Karena moment itulah yang dinanti-nantikan, hasil jerih payah satu tahun, pada akhirnya akan digunakan untuk membahagiakan orang-orang tercinta, ayah, dan ibu. Bukan tentang macetnya perjalanan menggunakan bus, terlambatnya kereta, atau mahalnya harga tiket pesawat, tapi tentang moment yang bisa jadi tahun depan belum tentu terulang kembali, berkumpul bersama sanak saudara, bertemu kawan-kawan lama, itulah silaturahmi. 

catatan anak rantau
Bogor, 26 Juli 2014

You Might Also Like

0 comments

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA