Matematika, Strategi dan Kreativitas Belajar

Thursday, April 11, 2013

Sekedar share tentang Matematika yang dianggap 'momok' bagi sebagian besar siswa. Dulu saya juga menganggapnya demikian, tapi seiring waktu saya justru semakin suka dengan Matematika. Bagaimana ceritanya ya?.. Hehhe.

Saat SMP, saya sekolah di pondok yang selalu dibiasakan dengan pola belajar menghafal. Itu memang efektif, untuk pelajaran Bahasa bukan Logika. Dipastikan saat menghadapi UN SMP saya kelabakan bukan main, karena sejauh ini nilai matematika saya selalu jelek. Saya ingat kata-kata ibu saya "Nggak ada manusia yang bodoh, yang ada hanya perbedaan waktu yang dibutuhkan untuk memahami suatu hal". Itu saya jadikan cambuk semangat belajar saya. Saya yakin, kalau saya berusaha saya pasti bisa mengatasi.

Waktu itu dalam 2 bulan saya kemana-mana bawa buku yang sama dan selalu ngerjain soal-soal yang sama setiap harinya. Namanya matematika, nggak bisa ditaklukkan dengan hafalan, harus dijiwai belajarnya dengan kinestetik alias gerakan tangan. Selalu sedia coret-coretan dimana saja untuk bisa latihan matematika, alhamdulillah waktu itu lulus dg nilai UN 9.00 untuk matematika.

Nah, di SMA saya terkendala besar untuk Matematika. SMA saya SMA Negeri yang pasti tingkat kompetisinya sangat tinggi. Saya masih percaya sepanjang mau berusaha saya pasti bisa. Meski di kelas X nilai Matematika saya masih jeblok, namun ketika masuk IPA saya bertekad untuk bisa menguasai matematika. Kebetulan guru saya unik, setiap hari melakukan ujian mencongak, bayangkan saja soal-soal matematika dilakukan dengan mencongak. Siapa yang selesai duluan harus sebut jawabannya, kalau benar, dia akan maju menuliskan di white board. Kehormatan banget rasanya...!! Kalau satu kelas nggak ada yang bisa, siap-siap spidol boardmarker mendarat di meja anda, berarti anda bernasib sial. Ini yang paling menyebalkan. Dan lagi, rasanya sangat 'terhormat' bisa mengerjakan soal dengan tingkat kesulitan tinggi. Darimana tahu soal itu tingkat kesulitannya tinggi? Kalau dalam satu kelas hanya 1-2 orang saja yang bisa menyelesaikan, dia hebat!! Ini membuat saya tertantang, tiap malam selalu meluangkan waktu belajar matematika.

Sering juga guru saya tersebut memberi soal setara soal olimpiade untuk dikerjakan secara berkelompok. Paling sial kalau partner kelompok gak mau berusaha, mau gak mau harus cari tahu jawaban sendiri. Tapi, dari berbagai variasi soal seperti ini saya sering menemukan cara berbeda untuk memecahkan soal yang sama dengan jawaban yang sama. Intinya, banyak jalan menuju Roma. Jangan terpaku pada satu cara, tapi cari yang paling mudah dan efisien. Alhamdulillah sejak kelas XI nilai matematika sedikit lebih baik.

UN dan SNMPTN tentu jadi momok tersendiri. Nggak tanggung-tanggung waktu itu generasi pertama pelajaran Fisika, Kimia dan Biologi masuk bahan UN jurusan IPA. Mau nggak mau ya belajar, kan ujian tetep harus dihadapi, daripada buang-buang energi buat protes mending buat belajar. Kebetulan waktu itu ikut bimbingan belajar, tapi itu saja nggak cukup, butuh lebih banyak effort buat bisa ngerjain soal UN apalagi lolos SNMPTN.

Menghadapi UN dan SNMPTN tentu saja nggak cuma pinter, tapi butuh strategi biar bisa mengerjakan soal sebanyak-banyaknya dengan benar. Alhasil jam belajar pun ditambah, dan sepertinya memang berpengaruh. Sebab semakin jenuh kita berusaha menyelesaikan soal yang rumit, semakin penasaran kita menemukan solusinya, semakin berpikir, dan semakin tau trik praktisnya. Dari semua jenis soal SNMPTN, saya rasa matematika lebih mudah dibandingkan Fisika yang lebih aplikatif. Entah kenapa tinggal coret-coret aja bisa menemukan hasilnya.

Dulu saya rasa matematika penyebab stres, sekarang bagi saya ini solusi stres. Bayangkan tiap hari berkutat dengan hafalan dan logika, sekali-kali coret-coret bisa jadi pelampiasan. Hehhehe,.. Buat yang sedang menghadapi UN dan SNMPTN, semangat ya..!!

You Might Also Like

0 comments

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA