Realita Politik antara Kaum Aktivis dan Kaum Apatis

Wednesday, January 23, 2013

Sebagian orang berteriak-teriak mempertahankan pendapat agar golongannya memiliki tempat atau bahkan mampu berkuasa. Di sisi lain ada yang berharap bahwa lembaga pendidikan kampus itu harus bersih, tanpa harus dikotori kegiatan 'partai' masuk kampus yang menyisipkan keberadaannya melalui politik kampus. Sebagian lagi memilih mengasingkan diri dari dunia perpolitikan karena bagi mereka politik itu kotor, penuh tipu daya. Benarkah seperti itu?

Mereka mengusung slogan 'Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada Kemunafikan' untuk menghindari dunia perpolitikan. Bilamana Soe Hok Gie berani mengutarakan pendapat-pendapatnya yang dia anggap benar bahwa senat harus bebas dari kepentingan golongan, dan ia juga turut aktif dalam dunia perpolitikan kampus itu sendiri. Mengkritik kebijakan orde lama dengan berani dengan kritik-kritik yang membela kepentingan kaum rakyat, kemudian menggerakkan teman-temannya untuk turun ke jalan. Setelah berhasil menurunkan orde lama, ia pula yang mengajak teman-temannya untuk kembali ke bangku pendidikan dengan pandangannya yang jauh ke depan. 'Apa gunanya saat ini kita mengkritik kebijakan pemerintah jika pada saat setelahnya kita justru bergabung dengan wakil-wakil rakyat itu yang kemudian kebijakan-kebijakan kita tak lagi mementingkan kepentingan rakyat, melainkan menjadi kepentingan golongan? Pada akhirnya kita yang dahulunya mengkritik kemudian akan menjadi bagian yang akan menjadi pihak yang pertama kali mengkhianati kepentingan rakyat'. 

Lantas, apakah slogan tersebut salah? Jangan mempersoalkan salah atau benar tentang itu, yang harus dikritisi adalah apakah penempatan kita menggunakan kalimat tersebut menjadi slogan sudah benar? Tak mau turut serta mewarnai dunia perpolitikan adalah salah satu ketidaksempurnaan penerapan slogan tersebut. Bagaimana bisa? 

Politik tak pernah tabu ataupun kotor, yang kotor adalah orang yang bermain di dalamnya. Mereka yang memanfaatkan politik untuk kepentingan golongannya semata, mereka yang mencari kekayaan, mereka yang mencari jabatan semata. Politik adalah amanah, politik adalah media, dan politik adalah sistem dimana siapapun yang berkuasa akan bisa mempengaruhi seluruh aktivitas kehidupan. Maka bagaimana ada yang mengatakan tak mau terlibat pada dunia politik, padahal dalam kesehariannya saja sudah dipengaruhi oleh penguasa negerinya?

Mereka yang menginginkan kehidupan yang lebih baik, mereka yang ingin politik itu bersih, tak banyak yang mengambil langkah nyata. Bukankah setiap segala sesuatunya butuh usaha? Ketika dunia perpolitikan mulai dihiasi oleh mereka pemangku kepentingan kelompok, mulailah mereka 'yang tak banyak mengambil langkah nyata' tersebut berteriak-teriak bagai pahlawan kesiangan. Memang benar, itu masih lebih baik daripada yang tak bereaksi sama sekali. Tapi adakah usaha untuk mendengungkan kebenaran itu?

Apa pantas mereka mendengung-dengungkan kalimat 'Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan' jika sejak awal tak ada i'tikad mempertahankan kebenaran? Hal inilah letak kesalahan penempatan slogan tersebut. Kasus ini tak bisa disamakan dengan Soe Hok Gie, ia sejak awal telah mendengung-dengungkan kritikan-kritikan tajam demi pemerintahan yang lebih baik, bahkan ia memberi solusi atas masalah-masalah tersebut. Ketika Soe hok Gie sudah berusaha, namun bukannya mendapat kawan tetapi musuhnya justru semakin banyak, inilah ia berprinsip bahwa 'Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan'.

Menjadi apatis hanyalah pilihan untuk bunuh diri, karena ia membiarkan kepentingan apapun membayangi hidupnya. Sebagai manusia dan bagian masyarakat yang tak akan pernah terlepas dari kegiatan politik, hanya satu pilihan yang bisa dilakukan yaitu terlibat aktif. Aktif tak selalu berarti untuk menjadi tokoh-tokoh yang selalu berebut posisi/jabatan, tapi bersuaralah demi kepedulian terhadap nasib bangsa ini kedepannya.

You Might Also Like

0 comments

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA