Pandangan Pertama Takkan Terlupa

Saturday, January 26, 2013

Today, we are going to attend "Global 30", the Japan Education Expo at University of Atmajaya, Jakarta. 

Berangkat sudah siang, tiba di stasiun Bogor pukul 08.30 dan langsung berjalan cepat menuju loket pembelian tiket. Meski jalan tergesa, tapi "stttt", selintas mataku melihat tulisan "SOE HOK GIE" terpampang diantara deretan buku-buku. Kemudian pandanganku kembali lurus ke depan, dan menoleh lagi memastikan benar tidak aku melihat buku tersebut. Karena tergesa-gesa, aku tak melihat apa-apa. Ah, mungkin salah lihat, batinku.

Di loket pembelian tiket terjadi perdebatan kecil, karena Commuter Line ke arah Tanah Abang jam 09.00 ditunda jadi jam 09.30. Mau diakalin naik ekonomi dulu ke manggarai, berhubung selisih waktunya gak banyak, yasudahlah. Oke, fine.. kita nganggur 1 jam. Temen-temen yang lain beli gorengan dan usul mau foto-foto di taman topi, kemudian aku kembali berjalan melewati si penjual buku tadi. Kuamati lagi dengan jeli. Ternyata benar memang, ada tulisan "SOE HOK GIE" terpampang besar pada buku yang berjudul "Catatan Seorang Demonstran".

Di taman topi, mulailah perdebatan. "Itu buku kan susah dicari, punya scan-nya pun sakit dibaca mata. Kalau menunggu nanti, pasti buku itu udah hilang". Ternyata perdebatan hati itu menguatkan kakiku untuk kembali. Okee, hari ini aku mengalah. "Apalah arti uang dibandingkan wawasan, toh buku itu butuh perjuangan mencarinya", itu mengalahkan niatku untuk menabung minggu ini.

Setelah terjadi tawar menawar, kemudian aku mengeluarkan beberapa lembar uang puluhan ribu, dan sekarang buku itu telah di tanganku :) That's first sight!! Kalau dalam teori komunikasi, inilah yang namanya kesan pertama dalam memilih barang di toko.. sekian lama memilih-milih akhirnya tetap pada pilihan awal. Alhamdulillah.., hari ini sesuatu banget deh!!

Segitunya ama buku Soe Hok Gie, emang kenapa sih? Ya nggak papa, cuma ada banyak hal yang bisa dipelajari dari cara pemikiran beliau. Sama seperti cara berpikirnya Pak Habibie maupun Pak Amien Rais yang kritis, dan cuma nggak mau jadi seperti kebanyakan orang Indonesia yang memperlakukan 'orang cerdas' bak habis sepah dibuang begitu saja kemudian menyesal setelah mereka dielu-elukan bangsa lain atau bahkan telah tiada dan berharap banyak agar mereka mau kembali seperti dulu. Why?? Bukannya saya bilang kalau mereka gak mau melakukan sesuatu lagi untuk negeri ini, tapi segala sesuatu ada umurnya.. Ibarat jangan suruh orang tua buat angkat beban berat lagi,... So, buat mereka yang telah rela mengorbankan banyak hal demi negeri ini, hargailah, dukunglah.

You Might Also Like

0 comments

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA