No tittle

Thursday, January 31, 2013


Bukankah sudah kukatakan sejak dulu kalau Kara itu tak boleh mengekang Farida? Beginilah akibatnya. Keluarga itu urusan pokok, fundamental, nggak bisa di nomor dua-kan. Kalau belum mampu mencukupi kebutuhan keluarga, seenggaknya jangan menghalangi wanita untuk bekerja. Beruntung Farida banyak mengalah, mulai mengasah otaknya bagaimana bisa bekerja sambil menunggui anak-anaknya yang masih kecil.

Rema masih tertidur lelap. Anak itu sudah dua hari menginap dirumahku. Sejak kemaren Farida belum memberi kabar kalau dia sudah kembali dari Semarang. Dia hanya berpesan mau bertemu kakaknya di Semarang, cari pinjaman modal usaha. Beruntung Rema yang berumur 3 tahun adalah teman Ifah dan mau menginap dirumahku. Tak bisa kubayangkan Farida menggendong bayinya sambil membawa Rema pergi ke Semarang.

Fandi, suamiku agak terlambat pulang malam ini. Katanya seharian rapat dan belum sempat ke rumah ibunya. Mungkin Fandi akan ke rumah ibu menjenguk kakaknya yang sedang sakit tifus. Adik iparku, Finda, sepertinya juga akan pulang malam. Maklum, semester 5 sangat padat dengan tugas kelompok. Memang sepertinya malam ini akan sedikit sepi.

Mbak Silvia, mungkin dua hari lagi Rida baru pulang mbak.
Nitip Rema dulu ya mbak..
Maaf merepotkan.

SMS itu dikirim Farida dua hari yang lalu. Ini sudah sore dan belum ada kabar lagi. Kebiasaan Farida selalu mematikan telepon kalau sedang ada masalah. Ini membuatku sulit mengetahui kabarnya. Sejak SMA aku mengenal Farida, dia memang selalu menyimpan masalahnya rapat-rapat. Aku tahu kalau dia ada masalah ketika raut wajahnya agak sedikit murung. Tapi aku tahu dia adalah orang yang kuat. Seberat apapun, aku yakin dia bisa menghadapi.

Tadi malam Rema menanyakan dimana mamanya. Aku bilang padanya kalau Mama sedang mencari hadiah untuk ulang tahun Rema. Rema hanya diam menurut dan kemudian tidur bersama Ifah. Hari ini mereka bermain di taman bersama Fandi. Aku harusnya bisa sedikit santai kalau saja Finda tidak tiba-tiba membawa rombongan kawannya kemari mendadak.

Finda tau aku masih lelah karena dua minggu ini selalu lembur bahan editan. Dia mengambil alih tugasku hari ini dan menyuruhku untuk istirahat saja. Aku keluar rumah lewat pintu belakang. Biasanya aku mampir ke rumah Mariana untuk sekedar melihat produk baru dagangan tasnya. Tiba-tiba Hpku berbunyi, Farida menelepon.

“Mbak Silvia, sekarang saya sudah di rumah mbak. Sebentar lagi saya ke rumah mbak Silvia ya?”,
“Oke da.., saya tunggu ya..”

“Kau lama sekali dan nggak ada kabar. Bagaimana di Semarang?”tanyaku menginterogasi Farida.
“Awalnya Rida hanya minta pinjaman modal mbak.., tapi malah Rida dicarikan pekerjaan sama Mas Afin. Kemarin sudah wawancara, minggu depan sudah masuk mbak..”, jawabnya.
“Kamu mau kerja apa da? Dimana?” tanyaku lagi.
“Saya nggak tau mbak dikasih kerja apa, yang penting saya kerja dulu lah.. Minggu depan anak-anak saya bawa ke Semarang. Kalau disana ada ibu yang bisa jagain anak-anak selama saya bekerja mbak,”
“bagaimana Kara?” tanyaku lagi.
“biar mas Kara tetap disini dulu sambil bekerja, nanti kalau sudah agak mapan, Rida baru mau berhenti bekerja,” jawabnya mantab.
“Rida..rida.., harusnya dari dulu kamu berani bilang gitu sama Kara”, sahutku sambil tersenyum.

 #7harimenulis - hari pertama

You Might Also Like

0 comments

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA