Islam, Eropa dan Renaissance

Sunday, November 11, 2012

Tiba-tiba pembahasannya begitu berat. Yaa, ketika dengar buku "99 Cahaya di Langit Eropa" langsung berburu setengah mati ke Gramedia (takut banget kehabisan, padahal waktu itu H-5 sebelum Sidang alias ujian akhir sarjana).

Awalnya aku hanya berpikir, mungkin akan menambah semangatku untuk jadi "scholarship hunter" ke Eropa. Tapi setelah membaca, it's more about that..

Bukan hanya keinginan untuk belajar keluar Eropa, tapi juga mempelajari jejak Islam di negeri-negeri tersebut. Merasakan sholat di masjid-masjid besar, menjaga keistiqomahan, dan tentu saja keindahan yang berbeda dari negeri ini.

Kalau boleh saya mengutip kata-kata dari The Alchemist:

"Pergilah, jelajahilah dunia, lihatlah dan carilah kebenaran dan rahasia-rahasia hidup; niscaya apapun yang kaupilih akan menghantarkanmu menuju titik awal. Sumber kebenaran dan rahasia hidup akan kau temukan di titik nol perjalananmu. Perjalanan panjangmu tidak akan mengantarkanmu ke ujung lain, justru akan membawamu kembali ke titik permulaan.

Pergilah untuk kembali, mengembaralah untuk menemukan jalan pulang. Sejauh apapun kakimu melangkah, engkau pasti akan kembali ke titik awal.

(Paulo Coelho - the Alchemist)

Islam dan Renaissance. Hmm, selama aku menempuh pendidikan (SD, MTs, SMA) aku belum bisa menarik benang merah dari kedua nama tersebut. Apalagi dikaitkan dengan Eropa. Yaa, Renaissance dengan Eropa sangat erat, tapi hanya sedikit yang tahu kalau semua berasal dari peradaban Islam. Menurutku sejarah itu terputus-putus, atau mungkin sengaja dibuat seperti itu. Bahkan aku kenal dengan Dinasi Abbasiyah dan Umayah, kemudian Turki Ustmani, penaklukan Andalusia dan Selat Gibraltar oleh Thoriq bin Ziyad, semua itu aku baca sendiri karena motivasi menang di lomba cerdas cermat agama dan penasaran akan kisah-kisah sahabat nabi. Waktu itu saya masih SD, dan kebetulan menemukan buku Agama MTs yang isinya tentang Tarikh Islam, jadi cerita ini di sejarah SD pun nggak ada (mungkin belum ada).

Sejarah yang saya baca selalu terputus-putus. Sejarah yang ditulis dibuku-buku Islam terjemahan (semoga versi arab gundulnya masih lengkap) terkadang hanya sampai pada kekalahan Andalusia, kemunduran kekhalifahan Turki Utsmani, perang salib, tidak dijelaskan mengapa. Kemudian di sejarah SMP tentang Renaissance, semuanya mengkisahkan tentang Eropa, Romawi, yang entah saya juga nggak bisa menarik benang merahnya. Sampai suatu ketika ada ceramah akbar di pondok putri yang diisi oleh Ustadz Madrasah Aliyah menjelaskan tentang semuanya. Dari kisah para sahabat, khulafaur rasyidin, umayah, abasiyyah, turki utsmani (Ottoman).

Turki Utsmani adalah masa kejayaan Islam, apalagi dengan adanya Islam di Cordoba, Andalusia Spanyol (klo nggak salah ini adalah dari misi penaklukan Selat Gibraltar oleh Thariq bin Ziyad). Pada masa itu Islam menjadi pusat peradaban, dimana perkembangan ilmu pengetahuan sangat pesatnya. Ingat Avecina (Ibnu Sina) dan Averroes (ibnu Rusyd), beliau-beliau ini beberapa diantara nama yang dikenal hingga saat ini. Di Spanyol, semua masyarakat baik yahudi, kristen maupun Islam hidup bebas (bebas menjalankan agamanya masing-masing) dan terciptalah kehidupan yang harmonis dibawah dinasti Islam yang berkuasa. Masjid Cordoba adalah pusat (ya.., masjid adalah pusat segalanya. Bahkan pendidikan pun berawal dari masjid).

Perang salib (Crussade war) terjadi dan mengakhiri peradaban Islam di Eropa. Di saat itulah renaissance berkembang. Sebab-sebabnya banyak.. internal dan eksternal. Kalau menurut saya salah satunya karena penaklukan, ya..penaklukan identik dengan pemaksaan. Mereka yang ditaklukkan memang kalah saat itu, tapi dari kekalahan tersebut ada luka yang bisa menimbulkan dendam. Bisa jadi perang salib terjadi karena keinginan untuk merebut kembali wilayah yang dulu telah diduduki.

Hmm, Islam adalah agama rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta alam). Dan ada ayat dalam al quran (QS Al Baqoroh) yang menyebutkan “Laa iqroha fiddin” (tidak ada paksaan dalam memeluk agama). Jadi jelas menyebarkan Islam bukan dengan jalan kekerasan ataupun paksaan. Jadi ingat misi agen Islam dalam buku 99 Cahaya di langit Eropa, yaitu Senyum kepada siapa saja, Jujur dalam berdagang dan Kuasai bahasa Inggris (yang terakhir ini agaknya bisa disesuaikan dengan geografis).

Renaissance adalah zaman penerangan. Tahukah siapa pencetusnya? Itulah Averroes, dengan dua teori kebenarannya. Agama dan ilmu pengetahuan adalah suatu kebenaran yang tak terpisahkan. Ia menyadari bahwa jika manusia dipaksa menerima kebenaran secara mentah-mentah (biasanya dengan dogma) tanpa diberi kesempatan untuk menggunakan akal mereka (manusiawi bagi manusia untuk berpikir) maka itu adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja. Yaa, dan itu telah terjadi.

Buku yang ditulis Averroes menjadi inspirasi bagi Rosseau dan Voltaire untuk berpikir dan menorehkan karya-karya besar. Ketika pemikiran tak lagi dikekang maka perkembangan pengetahuan menjadi luar biasa. Tapi, mungkin ini karena luka masa lalu (ketika mereka dikekang dengan dogma-dogma tanpa kebebasan berpikir), agama dan sains menjadi terpisahkan. Kemudian muncullah sekulerisme, dan tak heran jika saat ini banyak manusia-manusia ateis.

Ini juga karena ‘menghafal’ adalah taraf kecerdasan paling rendah dalam otak kita (pelajaran pengembangan karakter). Okee, ketika sudah dicekoki hafalan, otak kita jadi malas untuk melakukan sintesis, akibatnya otak kita tidak berkembang (dalam artian tidak ada output dari hasil pemikiran kita). Karena itu tahap belajar yang paling baik adalah dengan mempelajari, pahami kemudian sintesis-lah (mencoba berpikir out of the box dari teori yang sudah di dapat).

Oleh karena itu, jangan dalam memaknai  hafizh Al Qur’an dengan menghafalnya ‘teksbook’. Tapi sintesis kata-perkata dan artikan pelan-pelan, pahami, niscaya lebih menempel di otak (selain sekaligus belajar bahasa arab).

Catatan unik bagi saya adalah tentang Masjid Cordoba yang pasca perang Salib diubah menjadi gereja (sampai sekarang) dan Gereja Hagia Sophia di Turki yang setelah masa Turki Utsmani menjadi Masjid (sekarang menjadi Museum). Saya sependapat jika lebih tepat menjadikan kedua bangunan tersebut menjadi museum, biarlah sejarah itu menjadi peringatan bagi orang-orang yang mau mengambil hikmahnya.

Saya ingat pesan cerita ibu saya, bahwa dengan mempelajari/mengamalkan agama lebih dalam akan menambah kecerdasan kita sehingga tidak mustahil nilai-nilai akademis kita menjadi lebih baik. Mungkin itu karena agama dan sains tak terpisahkan

Meski banyak bersinggungan dengan agama-agama sama'i (agama yang turun dari langit, yaitu agama yang turun sebagai wahyu kemudian oleh Nabi dan Rasul untuk disampaikan kepada manusia) tapi saya nggak mau blog ini jadi blog hitam (blog yang penuh kontroversi), jadi postingan ini saya filter. Bagi yang ingin diskusi lebih lanjut bisa lewat email arinal.izzah@gmail.com





You Might Also Like

2 comments

  1. dalam agama budha tibet ada istilah "kora" yaitu mengelilingi. seorang budha yang taat ada yang mengelilingi gunung atau mengelilingi potala palace atau mengelilingi kota setidaknya manusia sekali mengelilingi sesuatu semampunya dia.
    begitupun dalam islam dianjurkan untuk berhaji yang salah satu ritualnya adalah mengelilingi ka'bah.
    sebagaimana bumi mengelilingi matahari, matahari mengelilingi pusat glaksi hingga elektron mengelilingi inti atom.
    lantas apa makna mengelilingi. setelah lama berpikir aku menyadari bahwa itu berarti kemanapun kita melangkah dan sejauh apapun pasti menuntun kembali kepada titik awal.

    ReplyDelete
  2. seperti siklus yang akan selalu kembali ke titik awalnya.

    terimakasih tambahan informasinya kak..

    ReplyDelete

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA