Donor Darah, berjuta Rasanya

Monday, November 19, 2012


Donor Darah adalah salah satu aktivitas sosial kemanusiaan yang terpuji. Betapa tidak, dengan 250cc darah yang kita sumbangkan dalam sekali donor darah bisa menyelamatkan nyawa orang lain. Nggak punya uang n nggak punya waktu bukan halangan, sebab ini Cuma tiga bulan sekali. Dan nggak semua bisa menyumbangkan darahnya, harus memenuhi berbagai syarat dan harus lolos tes kadar hb dan tensi dulu (biasanya ini yang paling susah). Ribet? Enggak juga. Bismillah untuk kebaikan.

Syarat-syarat untuk menjadi pendonor itu antara lain: berat badan >45 kg, tidur lebih dari 6 jam sebelum mendonor, tidak hamil/menstruasi, sehat dan lolos tes kesehatan di tempat J.

Alhamdulillah ini kali ketiga bisa menyumbangkan darah. Sebab nggak semua yang punya keinginan jadi pendonor bisa menyumbangkan darahnya, maka jika kamu bisa menyumbangkan darahnya itu berarti Tuhan memberimu kesempatan untuk berbuat baik.

Donor darah itu addicted, benar nggak sih?. Kalau saya ditanya begitu, jawaban saya “Ya”. Apa ada sesuatu yang bikin addicted itu?. Menurut saya nggak ada, selain sugesti dari si pendonor itu untuk kembali mendonorkan darahnya. Tapi secara logika bisa dijelaskan kenapa addicted. Orang yang mendonorkan darahnya akan kehilangan darah 250 cc, memang itu nggak mempengaruhi metabolisme tapi tubuh butuh waktu untuk bisa menyesuaikan, makanya habis donor darah terasa pusing atau lemas (CMIIW). Kondisi itu menstimulasi tulang belakang untuk memproduksi kembali sel darah untuk memulihkan keadaan, maka akan terbentuk darah-darah baru. Ini sih kalau menurut saya yang membuat badan agak terasa ‘beda’. Waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan kondisi seperti semula adakah sekitar 70 hari (3 bulan), maka dari itu kita disarankan untuk tidak mendonorkan sampai 3 bulan kemudian.

Donor darah berjuta rasanya? Haha, judul yang menggoda. Pengalaman saja sebenarnya. Pertama kali donor darah, yang terjadi adalah darah di kantong nggak kunjung2 penuh akibat vena saya yang terlalu kecil sehingga harus dibantu gerakan tangan. Selain itu, ternyata saya punya masalah dengan darah yang sukar membeku. Kedua kalinya donor darah, masih sering kaget kalau jarum itu masuk ke vena dan masih mengalami yang namanya vena-nya kecil sehingga kantong darah nggak penuh-penuh dan darah yang sukar membeku. Yang agak miris adalah menyaksikan pemandangan orang-orang berlalu lalang di posko donor darah dan menutup wajah dengan tangannya saking takutnya lihat jarum. Weee, nggak usah segitunya juga kali.. Hidup nggak selamanya bisa bebas dengan jarum suntik. Ketiga kalinya, sensasi saat jarum ditusuk dan diambil itu selalu kaget tapi bukan masalah berarti. Alhamdulillah meski vena di tangan kiri nggak kelihatan dan vena di tangan kanan yang kecil ini, tapi nggak ngalami yang namanya lama ngisi kantong darah dan darah sukar membeku lagi. Yang paling berharga dari donor darah ketiga ini adalah saya menyaksikan berbagai situasi pendonor. Di samping kanan saya, ternyata lebih parah dari saya dulu. Darah sampai ngalir mengotori lengan bajunya karena setelah dicabut jarum dan diberi alkohol nggak kunjung beku. Sebelah kiri saya mengalami pusing-pusing dan bahkan nggak bisa berdiri, sesaat setelah saya pindah tempat dan duduk, kemudian dia pingsan.

Banyak yang punya kesempatan untuk berbuat kebaikan tapi mereka tidak melakukannya. Dan banyak yang ingin berbuat kebaikan tetapi tidak diperbolehkan karena tidak memenuhi syarat. Ada juga yang memenuhi syarat tetapi setelah mendonorkan, dia mengalami masalah pada tubuhnya seperti darah sukar membeku, pusing-pusing dan bahkan beberapa pingsan. Tapi semua niat kebaikan akan mendapat pahala, apalagi kalau dapat kesempatan melakukannya. Fastabiqul Khorot!!


You Might Also Like

0 comments

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA