27 Mei 2006

Monday, June 04, 2012


Kembali mengingatkanku pada hari yang bersejarah. Ini peringatan ke-6, ya... tahun ke enam setelah kejadia itu. Bagi orang lain itu mungkin tak berarti, tapi bagiku, bagi keluarga kami, bagi kami warga yang mengalaminya, tanggal itu sangat berarti.
Hari itu hari Sabtu, 27 Mei 2006, pukul 05.53, selama 57 detik. Gempa bumi sebesar 5,7 SR mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya. “dan sekitarnya” itu patut diberi tanda kurung, sebab hampir se-Jawa Tengah bagian Selatan merasakannya. Tapi korban terbanyak notabene dari kabupaten Klaten (Wedi, Bayat, Cawas, Trucuk) setelah Yogyakarta karena dekat dengan episentrum gempa. Sumbernya kalau tak salah ingat di Bantul, Yogyakarta.

Setiap orang punya cerita sendiri-sendiri tentang ini....

Ceritaku adalah waktu itu aku sedang menyapu ruang keluarga, adikku yang paling kecil sedang mencuci piring, adikku yang kedua sedang menyeterika baju seragamnya, ibuku masih dikamar dengan sholat subuhnya, dan ayahku yang sejak tadi malam pergi ke Yogya.
Aku sudah hampir marah ketika merasakan goncangan yang kuat itu, aku kira adikku yang kecil mulai ngambek dan menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. Tapi otakku mengatakan hal yang lain, itu goncangan yang terlalu kuat untuk ukuran anak kelas 2 SD. Spontan aku langsung lari ke ruang tamu tepat ketika ibuku berteriak  “gempa..gempa..”. Tanganku seperti tercekat membuka gerendel pintu, kami langsung berhamburan keluar (aku tak sempat memikirkan apa-apa lagi).

Kami berdiri didepan rumah seperti tak berdaya. “la haula wa la quata illa billah” dan kalimat-kalimat dzikir lainnya keluar dari mulut kami. Kami melihat tembok rumah tetangga roboh seketika, kemudian genteng-genteng dirumah kami yang merosot satu per satu, yang ada di bayanganku waktu itu “apa ini kiamat??”.

Gempa telah berhenti, dan berita semakin heboh. Perhatian kami tertuju pada gunung Merapi, apa ini bagian dari letusan gunung Merapi? Hampir semua orang berpikiran sama. Tapi merapi baik-baik saja (tak ada tanda-tanda mengeluarkan lahar ataupun wedus gembel). Kami langsung menyalakan televisi, tapi beritanya baru “telah terjadi gempa dan berpotensi terjadi tsunami”, belum ada berita lainnya. 

Beberapa jam kemudian kami baru tahu  kalau gempa yang terjadi pagi itu adalah gempa tektonik, bukan gempa vulkanik. Yang aneh setelah itu, Merapi justru baik-baik saja dan tanda-tanda akan meletusnya tak tampak lagi. Hikmah dibalik suatu peristiwa...
Bener-bener setelah itu, saluran listrik terputus dan seluruh sinyal telepon mengalami ganngguan (kecuali telepon rumah) selama seharian. 

Cerita itu berlanjut....

Yah, saat di kabupaten kami sedang mengadakan gelar seni yang wajib diikuti siswa SMA se kabupaten. Waktu itu aku berempat (aku, mia, ratih dan selly) naik motor berboncengan ke Klaten. Pas berangkatnya sih oke-oke dan lancar-lancar saja. Kami tiba disana, samping SMA 3 Klaten, kami duduk-duduk dulu di depan kantor DPD PAN Klaten. Tak sampai lima menit kami duduk, dari arah berlawanan tampak arus kendaraan menjadi crowded. Kami panik dan segera naik motor kembali. Entah apa sebenarnya yang terjadi, dari situ kami berempat terpisah. Aku berboncengan dengan mia, ratih dengan Selly entah kemana. Di tengah jalan pun aneh, lajur jalan ke arah Yogya sepi sekali, sedang lajur jalan ke arah Solo padat merayap. Aku menebak orang-orang bergerak ke arah utara, benar-benar macet... sampai-sampai aku dan mia mengambil jalan yang salah itu untuk mempercepat jalan. Yang ada dipikiranku saat itu, pulang..pulang...dan pulang. Apapun yang terjadi, aku harus berkumpul dengan keluargaku. Baru aku tahu kemudian kalau itu adalah isu tsunami, jadi orang-orang berlarian ke arah utara menghindari laut selatan. Padahal kalau di logika, di pesisir selatan itu kan dibatasi dengan Pegunungan Kidul, kalaupun ada tsunami, airnya pasti tak begitu cepatnya karena terhambat gunung-gunung itu. Tapi ya bagaimana lagi, namanya kondisi panik... orang yang paham pun ikut panik duluan.

Berikutnya, aku baru mengalami seumur hidup nyeberang di Jl. Solo-Yogya hampir setengah jam belum bisa nyeberang. Kendaraan padat merayap, jauh lebih crowded daripada hari lebaran sekalipun. Terutama hari dimana Pak Presiden mengunjungi lokasi kejadian (di RS Soeradji Tirtonegoro atau orang-orang lebih familiar dengan RS Tegalyoso, dimana banyak sekali korban disitu).

Beberapa saat setelah gempa kami mengecek kondisi rumah.. dinding rumah kami banyak yang retak, tapi alhamdulillah tak ada yang roboh, dan genteng rumah kami merosot semua (mungkin karena atap rumah kami yang terlalu curam). 

Yang menarik, 4 hari pasca gempa besar tersebut ada event World Cup 2006 (yang dilaksanakan 4 tahun sekali). Warga langsung bersemangat memasang televisi. Di hari-hari menunggu renovasi rumah, mereka menonton bersama-sama pertandingan sepak bola. Mengingatkanku ketika pertunjukan layar tancap masih ada dulu... ramai sekali, kurang lebih seperti itu.

Sekolah kami tak luput dari kerusakan gempa. Pada tahun itu juga, aku adalah bagian dari yang terkena dampak gempa. Karena banyak bangunan yang diperbaiki, maka kelas XI dimasukkan siang. Yah... saat itu aku kelas XI SMA, aku ikut masuk sekolah siang (seumur-umur ini kali pertama aku masuk sekolah siang), sewaktu pulang kesulitan menunggu bus. Tapi bagiku, ini masih lebih baik daripada sekolah dibawah tenda.

Yang aku ingat, gempa susulan sering terjadi. Bahkan hingga 2 bulan pasca gempa besar itu, kami masih sering terbangun di tengah malam untuk berlari keluar karena gempa yang sangat kuat (walau tak sekuat dan tak selama gempa besar itu). Sering kali aku belum benar-benar sadar dr tidur, tanganku ditarik untuk lari keluar rumah oleh adikku.

Mengenang 27 Mei 2006,
Segala sesuatu mungkin saja terjadi.
“Musibah-musibah itu datangnya diwaktu pagi hari. Maka, celakalah bagi orang yang tidur di pagi hari”. Itu nasehat yang sering aku dengar, dan aku buktikan sendiri. Gempa-gempa itu lebih sering terjadi di pagi hari, ba’da sholat subuh. Ingatkah dulu tsunami Aceh juga terjadi di pagi hari?. Sebagai pelajaran bagi orang-orang yang mau berpikir....

You Might Also Like

2 comments

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA