Penanaman Sikap Disiplin (IPB Kindness movement)

Tuesday, December 20, 2011


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Karakter merupakan watak yang menyebabkan manusia berperilaku. Indikator karakter adalah tindakan-tindakan baik yang dilakukan oleh manusia tersebut yang diistilahkan sebagai virtues atau isi dari karakter manusia yang merupakan sifat baik. Karakter manusia berupa moral knowing, moral feeling dan moral acting. Ketiga tahapan tersebut akan membentuk suatu karakter manusia. Tahapan awal dimana manusia mulai mengetahui kondisi-kondisi tertentu, lalu ia akan merasakan berupa wujud empati dan dalam bentuk konkrit ia akan bertindak sesuai dengan pemikiran dan empatinya (wujud perilaku baik) sebagai tingkatan yang paling tinggi. Perkembangan moral tersebut melibatkan dimensi intrapersonal dimana seorang manusia hanya menghadapi dirinya sendiri dan dimensi interpersonal dimana manusia tersebut berada dalam suatu interaksi sosial.

Usaha pengembangan karakter terus menjadi perhatian terutama dalam dunia pendidikan. Hal yang menjadi perhatian utama adalah peningkatan sikap disiplin terhadap peraturan sehingga dalam hal ini pentingnya untuk tetap melestarikan dan mengajarkan nilai-nilai moral kepada generasi muda. Menurut Megawangi (2007), faktor moral adalah hal utama yang harus dibangun terlebih dahulu baru bisa membangun kehidupan bermasyarakat yang tertib, aman dan sejahtera. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran orang tua dan pendidik untuk mengajarkan faktor-faktor moral sehingga dapat diterapkan pada generasi baru. Tingginya praktek KKN, konflik antar individu maupun kelompok, kriminalitas, dan etos kerja yang semakin rendah merupakan praktik pelanggaran moral berupa kurangnya sikap tanggung jawab termasuk rendahnya sikap disiplin. Hal inilah yang menyebabkan negara kita sulit untuk bangkit dari krisis ini karena adanya hubungan yang erat antara faktor moral dan faktor ekonomi.

Para pakar mengatakan bahwa kegagalan penanaman karakter pada individu sejak dini akan membentuk karakternya ketika dewasa. Karakter juga akan mempengaruhi keberhasilan akademik. Sikap disiplin sangat menunjang keberhasilan akademik sehingga sangat pentingnya penekanan sikap disiplin sejak dini agar siswa paham dan terbiasa mengaplikasikan sikap disiplin termasuk dalam bidang akademik. Sekolah turut berpengaruh dalam pembentukan karakter. Masa kanak-kanak banyak dihabiskan di sekolah, oleh karena itu penekanan sikap disiplin dapat diterapkan di sekolah.

Pembangunan nasional dapat didukung dengan pembentukan moral dan nilai kehidupan pada setiap tingkat pendidikan di Indonesia, termasuk perguruan tinggi dengan tujuan pengembangan karakter manusia ke arah yang lebih baik. Dalam pengembangan karakter di tingkat perguruan tinggi bisa diterapkan dengan pemberian tugas atau project movement yang harus dilakukan oleh setiap mahasiswa untuk dapat menjalankan perbuatan baik di luar kampus. Salah satu tugas atau project movementyang dapat dilakukan tersebut adalah berkunjung dan memberikan materi tentang disiplin dalam menjalani kehidupan sehari-hari, saling tolong menolong dan menghargai antar sesama serta pengenalan karakter yang mulia kepada siswa sekolah dasar (SD) khususnya siswa kelas 3.

Kegiatan yang dilakukan berupa metode yang telah biasa dilakukan oleh guru SD sebelumnya agar suasana kegiatan belajar mengajar masih bisa dirasakan oleh para siswa yaitu pemberian materi dengan metode ceramah tentang kedisiplinan dan perilaku yang baik, tetapi pemberian materi seperti ini dilakukan kira-kira 5 – 6 menit agar kelas tidak terlalu kaku dan membosankan bagi siswa itu sendiri. Untuk selanjutanya diberikan hal-hal berupa ilustrasi tentang materi yang telah diberitahukan tadi dengan maksud agar lebih dapat dipahami dan dimengerti para siswa. Dalam penyampaian materi dan ilustrasi praktiknya, suasana atau atmosfer kelas dibuat menyenangkan dengan saling berinteraksi antara pemberi materi dengan siswa dan juga antar siswa itu sendiri. Untuk lebih menarik lagi, para siswa diberi kesempatan bertanya apa saja hal yang dia ingin tahu tentang materi yang telah disampaikan tadi dan juga apa saja yang ingin mereka ketahui tentang hal yang umum serta memberi mereka hadiah atas keberanian mereka.

Dari kegiatan pengenalan sikap disiplin yang dilakukan pada siswa sekolah dasar (SD) ini diharapakan agar para siswa dapat melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari mereka, memberi contoh kepada orang lain dan dapat meningkatkan cara belajar mereka untuk lebih berprestasi kedepannya. Keberlanjutan kegiatan seperti ini sangat diharapkan untuk kedepannya, sehingga pengenalan sikap disiplin ini bisa dimonitoring apakah siswa tadi melaksanakannya atau tidak. Selain itu, pengenalan dan pemberian contoh sikap yang lainnya juga harus tetap dilakukan, namun karena kegiatan ini hanya tugas dari kampus kepada mahasiswa yang terhimpun dalam satu matakuliah, sehingga tidak ada kelanjutan untuk kedepannya dengan alasan waktu studi mahasiswa dalam menjalani matakuliah ini ada akhirnya.

Pelaksanaan kegiatan ini didasarkan pada pengetahuan yang telah didapat selama mengikuti matakuliah pengembangan karakter dari departemen ilmu keluarga dan konsumen IPB. Hal-hal dan materi yang disampaikan juga didukung dan merujuk pada literatur tentang moral dan karakter yang baik serta pentingnya kedisiplinan. Kegiatan ini sangat bermanfaat sekali bagi mahsiswa dan siswa sekoalh dasar (SD). Bagi mahasiswa, kegiatan ini dapat menjadi wadah untuk melaksanakan dan memprktikan ilmu yang telah didapat selama perkuliahan serta kesempatan untuk berbuat baik dan terjun langsung ke ranah pendidikan sebagai guru, sedangkan bagi siswa SD kegiatan ini bisa menambah rasa kedisiplinan dan menumbuhkan karakter yang baik sehingga menjadi seseorang yang bermoral dan berkarakter baik untuk meningkatkan prestasi.

Tujuan

1. Mengenalkan sikap disiplin sejak dini kepada siswa sekolah dasar.
2. Menjadikan sekolah sebagai tempat strategis dalam mengenalkan serta menekankan pentingnya sikap disiplin sejak dini.

TINJAUAN PUSTAKA

Permasalahan utama yang dialami Indonesia terletak pada kurangnya penekanan pendidikan moral dan karakter sejak masa kanak-kanak di Indonesia. Sekolah seharusnya menjadi tempat penunjang pendidikan karakter selain di rumah. Pendidikan karakter sejak dini akan mudah diterapkan dibandingkan pada remaja yang sulit diatur (uncontrollable toddlers). Sikap memberontak timbul akibat adanya keinginan untuk memanipulasi situasi. Hal ini bisa ditekan dengan dorongan positif dari lingkungan.

Sekolah tempat yang tak kalah penting perannya dalam memberikan pendidikan karakter ternyata di Indonesia juga tidak berjalan dengan baik. Sekolah justru menyebabkan penurunan motivasi belajar dan membentuk individu yang kurang kreatif, takut mengambil keputusan dan resiko akibat kegiatan belajar yang monoton dan persepsi pendidik-murid yang tidak selalu sama. Persepsi pendidik harus lebih fleksibel, bukan menekankan sesuatu hal yang mutlak benar namun lebih ditekankan aspek moral yang dapat ditilik dari berbagai persepsi. Pendidikan karakter sangat didukung oleh lingkungan sekolah.

Kecerdasan sosial mengubah kondisi negatif menjadi positif yang merupakan bentuk nyata dari kemampuan berelasi dengan orang lain. Untuk itulah Goleman (2007) menerangkan betapa pentingnya kecerdasan sosial dalam hidup bermasyarakat. Sementara itu paham spiritualisme meliputi integritas/kejujuran, energi/semangat, inspirasi/inisiatif, wisdom/bijaksana dan keberanian dalam mengambil keputusan.

Budaya korupsi yang marak merupakan praktik pelanggarab moral berupa cerminan sikap kurang kuatnya sikap disiplin yang tertanam.Kurangnya sikap disiplin berakibat pada menurunnya etos kerja dan rendahnya rasa tanggung jawab terhadap negara.

Sistem pendidikan Indonesia hanya memerhatikan intelegensia semata sehingga perlu dijejalkan ribuan teori yang kurikulumnya disahkan pemerintah. Padahal otak tidak hanya mengandalkan logika (kiri) namun juga emosi (kanan). Seperti yang dituturkan Santoso (2007), cerebral cortex bagian kiri hanya memiliki kecerdasan berorientasi kognitif seperti logic, rational mind, math, speech, verbal, visual, detailed, linear, successive, differential, reading, naming dan intellectual. Sementara bagian kanan memiliki kecerdasan afektif seperti relational, imaginative, intuitive, creative, special musical, artistic, emotional, divergent, receptive, spiritual, existential, dan perception of abstract pattern. Otak neo cortex menghasilkan IQ (kemampuan intelektual) yang hanya berperan 20% saja dalam kehidupan manusia. Lain halnya dengan lymbic system yang mengendalikan emosi. Oleh karena itu perlunya keseimbangan antara bagian kiri dan kanan dengan cara dirangsang sesering mungkin oleh orang tua dan sekolah dalam berbagai kegiatan positif.

Dalam pendidikan karakter metode konvensional diperlukan latihan terus menerus. Thomas Lickona, orang yang berkarakter memiliki sifat alami dalam merespon sesuatu secara bermoral yang langsung diaplikasikan dalam tindakan nyata yang erat kaitannya dengan habit atau kebiasaan.


PELAKSANAAN

o Target
Sasaran dari kegiatan IPB Kindness Movement ini adalah murid kelas 3 SDN Babakan Dramaga 01, Dramaga Bogor yang terdiri dari 2 kelas, yaitu 3A dan 3B yang masing-masing kelas terdiri dari 35 murid. Berdasarkan sensus, umur anak berkisar 8-9 tahun.

o Waktu
Kegiatan IPB Kindness Movement ini dilakukan pada hari Selasa, 20 Desember 2011 pukul 13.00 hingga 14.30 WIB.

o Metode
Penyampaian materi berupa kedisiplinan dilakukan dalam bentuk penyuluhan, studi kasus dengan memperlihatkan gambar dan foto yang selanjutnya dibahas dalam diskusi serta dan drama. Pre-test dan post test juga dilakukan dengan memberikan pertanyaan ringan terkait sikap disiplin terhadap seluruh murid. Reward juga diberikan kepada murid yang berhasil mengikuti kegiatan dengan baik.


Memberi gambar sebagai studi kasus 

Mereka berbaris rapi saat Pita memberi kenangan Pensil

Simulasi memilih jalan yang tepat di jalan raya

DISKUSI (Dampak)

Alasan kegiatan IPB Kindness Movement dilakukan di sekolah karena sekolah merupakan tempat kedua dimana anak mendapat pendidikan karakter secara intensif. Masa kanak-kanak hampir dihabiskan pada masa sekolah sehingga anak banyak belajar dari sekolah. Maka dari itu, sekolah merupakan tempat strategis dimana kegiatan ini dapat dilakukan dan mengenalkan sikap disiplin pada anak sehingga anak dapat membedakan secara nyata apa yang disebut ‘sikap disiplin’ dan ‘sikap tidak disiplin’. Nilai-nilai karakter berupa disiplin dalam berbagai aspek ini akan ditanamkan pada anak. Metode pendidikan karakter secara eksplisit memakai standar baik atau buruk yang sifatnya universal.

Dalam kegiatan ini anak dikenalkan pada moral knowing dimana anak mulai sadar akan pentingnya sikap disiplin, mengetahui dengan pasti batasan-batasan moral disiplin, mengetahui apa alasan melakukan sikap disiplin, memandang disiplin sebagai sikap yang baik dan menguntungkan banyak pihak, dan anak mampu memutuskan untuk melakukan sikap disiplin. Selain itu dikenalkan moral feeling, dimana anak memiliki nurani untuk bersikap disiplin, mampu bertoleransi terhadap kepentingan khalayak, mampu mengontrol diri dan mencinta sikap disiplin sebagai bentuk dari kebenaran. Moral action juga dikenalkan sehingga anak dapat melakukannya dan menjadikannya sebagai kebiasaan.

Pendidikan karakter di sekolah dipandang tidak cukup efektif karena hanya mengajarkan moral knowing saja sehingga anak sebatas hanya mengetahui bahwa sikap disiplin itu baik tapi tidak mengetahui bentuk nyata dari tindakan disiplin serta anak belum mampu menentukan sikap disiplin. Pelajaran seperti Pendidikan Kewarganegaraan dan Pendidikan Agama menjadi kurang kongkrit karena hanya disampaikan sebatas pengetahuan saja. Hal yang paling penting diketahui bersama dalam institusi pendidikan bahwa kebiasaan baik saja tidak cukup apalagi hanya sekedar mengetahui kebiasaan baik. Seseorang yang berbuat baik belum tentu benar-benar menghargai pentingnya nilai-nilai moral. Anak harus dikenalkan pada kecintaan terhadap kebiasaan baik yang dalam hal ini ditekankan pada sikap disiplin.

Materi kedisiplinan dibuat menarik dengan tidak hanya memaparkan betapa pentingnya sikap disiplin namun juga bersama-sama membedah serta berdiskusi dengan anak langkah-langkah apa saja yang nyata yang mencerminkan sikap disiplin pada diri sendiri, orang tua, guru, sekolah, masyarakat hingga negara. Studi kasus juga dilakukan dengan mengenalkan anak pada gambar-gambar dan foto-foto sehingga anak mengetahui mana sikap yang disiplin dan tidak disiplin. Anak juga diajak untuk memahami mengapa harus dilakukan sikap disiplin tersebut. Metode drama juga dilakukan untuk memberikan kesan bermain sambil belajar sehingga anak tertarik untuk belajar lebih dalam untuk menerapkan sikap disiplin terhadap diri sendiri, orang tua, guru, sekolah, masyarakat hingga negara.

Hal ini dilakukan karena anak-anak dapat bermain sambil belajar hal-hal yang konkrit sehingga daya cipta, imajinasi, dan kreatifitas anak dapat berkembang. Selain itu dapat menciptakan kondisi nyaman bagi anak untuk belajar sehingga tidak merasa tertekan. Metode yang dilakukan diharapkan meningkatkan bodily kinesthetic intelligent lewat drama serta interpersonal intelligent lewat studi kasus dan diskusi.

Sebelum pemberian materi sikap disiplin, anak-anak SDN Babakan Dramaga 01 umumnya mengetahui bahwa sikap disiplin itu baik untuk dilaksanakan di kehidupan, namun anak belum paham benar apa keuntungan sikap disiplin dan bentuk apa saja kegiatan yang disebut disiplin. Anak-anak SDN Babakan Dramaga 01 ini berumur 8-9 tahun dengan potensi bertindak kasar yang tinggi serta tidak sensitif terhadap perasaan orang lain. Secara nyata terjadi perkelahian kecil dan saling meledek antar sesama murid. Anak perlu diberi penghargaan sekecil apapun kebaikan yang dilakukannya. Dalam kegiatan ini, anak diberi reward ketika mereka melakukan kegiatan ini dengan baik.

Pre-test yang telah dilakukan memberikan hasil bahwa anak belum mengerti benar tindakan konkrit sikap disiplin macam apa yang harus dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini berubah dengan hasil post-test yang menunjukkan peningkatan pemahaman tentang bentuk nyata sikap disiplin dalam bermasyrakat. Pre-test menunjukkan poin keseluruhan sebesar 176 poin dan meningkat menjadi 199 poin dari keseluruhan sehingga terjadi peningkatan pemahaman sikap disiplin sebesar 23% pada murid-murid.
Hal ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan pengetahuan sikap disiplin dari murid-murid, mampu menunjukkan sikap disiplin serta mampu mengambil keputusan terhadap sikap disiplin. Materi yang diberikan lewat penyuluhan tidak cukup sehingga harus dirangsang dengan studi kasus maka murid mulai bisa membedakan secara nyata mana sikap disiplin dan tidak disiplin. Murid juga dapat memberi contoh sikap disiplin dalam kehidupan sehari-hari di sekitarnya. Lewat diskusi, murid dapat memaparkan keuntungan dari sikap disiplin serta alasan mengapa melakukan sikap disiplin. Terakhir, metode drama yang paling diminati murid karena berhubungan dengan kemampuan kinetik dan bersosialisasi dengan sesama temannya sehingga anak lebih jelas memahami dan mampu melaksanakan sikap disiplin dan menyebarkannya.



KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Perlunya pendidikan karakter yang tidak hanya mengajarkan moral knowing, tapi juga moral feeling dan moral action. Anak lebih memahami bentuk nyata sikap disiplin (baik terhadap diri sendiri, orang tua, guru, masyarakat dan negara) melalui penyuluhan, studi kasus, diskusi lalu dilanjutkan dengan drama sehingga anak memiliki moral knowing, moral feeling dan moral action.

Saran
Murid di sekolah memerlukan kesempatan untuk mempraktekan pendidikan karakter sehingga dapat memberikan pemahaman yang dalam dan murid dapat merasakan arti dari pendidikan karakter dan dapat melaksanakan serta menyebarkan sikap baiknya.

DAFTAR PUSTAKA


Goleman, Daniel. 2007. Social Intelligence: The New Science of Human Relationship. Penerjemah: Hariono S. Imam. Ilmu Baru Tentang Hubungan Antar-Manusia. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 546hal.

Megawangi, Ratna. 2007. Pendidikan Karakter Solusi yang Tepat Untuk Membangun Bangsa. Indonesia heritage Foundation. Depok. 188hal.

Santoso, A.M. Rukky. 2007. Brain Booster: The Roadmap to Success. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 151hal.


Kegiatan ini dilaksanakan oleh:
Topan Prahara
A24080066
Pitaloka Purnamasari
A24080091
M Hisyam Ryzall
A24080106
Arinal Haq Izzawati N
A24080180

You Might Also Like

1 comments

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA