Satu Ketegangan Mencair

Tuesday, November 08, 2011


        Ini adalah salah satu moment bersejarah-ku di tingkat akhir selama menempuh pendidikan di departemen Agronomi dan Hortikultura IPB. Adalah suatu keharusan bagi mahasiswa (di departemen kami) yang akan melaksanakan penelitian untuk mempresentasikan rencana penelitiannya di hadapan audience. Kini tiba saatnya, satu ketegangan sebelum penelitian yang harus dilewati.


          Sebenarnya penelitian saya sudah berjalan selama kurang lebih 2 minggu ini, akan tetapi dosen pembimbing saya tetap mengharapkan kami kolokium terlebih dahulu sebelum melakukan penanaman. Jadi penelitian yang sudah saya lakukan baru sekedar aplikasi pupuk organik yang memang akan membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk proses dekomposisi-nya.


          Saya sudah siap 15 menit sebelum jadwal kolokium, langsung menuju ruang seminar untuk mempersiapkan apa saja yang akan dibutuhkan. Tanpa saya sangka ternyata ruang seminar masih dikunci, sehingga saya langsung berlari turun mencari petugas yang bertanggung jawab terhadap ruangan tersebut. Dua kali saya bolak-balik dari lantai atas ke lantai bawah mencari petugas tersebut, dan Alhamdulillah akhirnya bertemu juga dengan Pak Kohar. “Haduh bapak, kok bisa sih pak... Kan ruangan mau dipake kolokium, memangnya pak Wasta g ngasih tau ya pak?”, kataku setengah emosi menginterogasi bapak. Dan bapak ini malah keluar dari komdik (komisi pendidikan) membawa barang2 aneh (backdrop, entah apalah kok jumlahnya banyak sekali dan benih2 aneka warna). Si bapak sepertinya keberatan kalau harus naik ke lantai atas membawa barang2 itu, akhirnya saya disuruh menjaga barang2 itu di tangga dan bapaknya membuka ruangan. Hadoh bapak..., kek mana ceritanya ini. Temen2 pasti mengira saya nyantai banget ruangan belum dibuka kok malah berdiri g jelas ditangga...


          Setelah ruangan dibuka saya langsung naik dan masuk ke ruang seminar. Wah, partner saya kemana ini, kok berasa dari tadi saya muter2 sendiri. Akhirnya saya menyetting semua yang diperlukan itu sendiri, awalnya mau pake notebook kawan saya, berhubung dia lama sekali akhirnya saya setting netbook saya. Tepat saya menyetting netbook, Ibu Maya sudah hadir dan langsung menanyakan “lho, Ayu mana?”, saya bingung mau jawab apa, soalnya memang sedari tadi saya sendiri. Bahkan saya belum sempat memberikan makalah kolokium saya ke Ibu, malah Ibu sendiri yang mengambil dari meja saya (Haduh..., berasa g sopan banget saya ini sama Pembimbing). Ah.., Cuma gara-gara ruangan yang telat dibuka jadi merembet kemana-mana nih... Semoga g mempengaruhi presentasi saya.


          Presentasi pertama adalah teman saya, Ayu. Dia tiba tepat beberapa saat sebelum dia harus presentasi, saya yakin dia pasti amat sangat gugup sehingga nada bicara saat presentasinya agak aneh. Saya juga tau sih kebiasaan dia bagaimana, nanti harus diingatkan lagi jangan sampai hal seperti ini terulang lagi. Setelah tanya jawab dan Ibu mengulas pemaparan Ayu, maka tibalah giliran saya.


          Seharian tadi saya sudah tidak mau sibuk membaca makalah lagi karena takut saya jadi nervous dan nada bicara saya jadi cepat lagi. Maka saya dengan santai maju ke depan dan mempersiapkan power point saya. Setelah dipersilahkan moderator, saya pun mulai menjelaskan secara runtut rencana penelitian saya. Latar belakang yang konsepnya sudah saya pahami, bahan metode, rancangan yang saya gunakan, lay out percobaan, pelaksanaan percobaan hingga apa saja yang harus saya amati.


          Sekilas saja tentang penelitian saya. Penelitian saya berjudul “Pengaruh Berbagai Kombinasi Pupuk dengan Penggunaan Dekomposer dalam Budidaya Padi secara Organik”. Yang menjadi latar belakang saya melakukan penelitian ini adalah karena kebutuhan beras yang semakin menigkat seiring meningkatnya jumlah penduduk Indonesia, maka petani membutuhkan suatu inovasi teknologi budidaya yang dapat meningkatkan produktivitas tanaman dengan kualitas tanaman yang baik dan menyehatkan tetapi juga tidak merusak lingkungan. Usaha-usaha yang saat ini mulai diterapkan adalah mengembalikan kesuburan tanah dengan meningkatkan kandungan bahan organik tanah. Hasil penelitian ini nantinya diharapkan akan menjadi inovasi bagi petani agar dapat meningkatkan produktivitas tanamannya dengan menggunakan kombinasi pupuk organik yang dapat diperoleh dengan mudah. Oke..., wah kok saya jadi kolokium lagi nhe...


Sewaktu mencatat pertanyaan dari teman-teman
          Pertanyaan demi pertanyaan pun mengalir dari teman-teman semua. Pertanyaan yang paling kena adalah pertanyaan dari Agus Rahman (sesama peneliti padi), yang sebenernya sudah diperkirakan tadi malam saat latihan. “Kenapa menggunakan varietas Ciherang bukan varietas padi aromatik? Kalau organik agar hasilnya mampu meningkatkan pendapatan petani kan lebih baik pakai padi aromatik sehingga harga jualnya bisa tinggi? Trus juga kenapa pakai pupuk kandang ayam, bukan pupuk kandang sapi?”. Hmm, butuh waktu sedikit untuk menjawab pertanyaan ini. Dengan segera saya berdiri dan menjawab pertanyaan Agus “Kenapa memakai varietas Ciherang, karena banyak petani yang saat ini menggunakan varietas Ciherang”, nah waktu saya mau menjawab kenapa  bukan aromatik, saya mau mulai menemukan kata kunci untuk menjawab pertanyaan itu kok sulit banget padahal semalem waktu latihan saya bisa menjawabnya dengan alasan yang masuk logika. Hmm “Sebenarnya orientasi dari penelitian ini bukan ke arah situ, tetapi ke arah bagaimana dapat membantu petani dalam meminimalkan input dan memaksimalkan output. Kalau petani menggunakan pupuk kimia akan mahal inputnya dan akan menjadi masalah jika terjadi kelangkaan pupuk. Hal tersebut dapat digantikan dengan penggunaan pupuk kandang, akan tetapi kalau hanya menggunakan pupuk kandang saja akan membutuhkan jumlah pupuk kandang yang meruah. Oleh karena itu dimasukkan Tithonia diversiofolia dalam upaya mengurangi volume pupuk kandang yang melimpah tersebut, dan dalam penelitian ini digunakan dekomposer dengan harapan dekomposisi berbagai pupuk tersebut berlangsung lebih cepat sehingga hara juga tersedia lebih cepat untuk pertumbuhan tanaman. Nah, kalau tanaman dapat berproduksi lebih baik dengan input yang ada di alam, bukankah ini nantinya akan memudahkan petani dalam hal penggunaan pupuk?”,. seperti itu kira-kira jawaban saya tadi malam, entah tadi apa yang sempat terucap untuk menjawab pertanyaan Agus. Kemudian, kenapa menggunakan pupuk kandang ayam, padahal biasanya menggunakan pupuk kandang sapi. “ini mengacu pada penelitian sebelumnya bahwa penggunaan pupuk kandang ayam memberikan hasil yang lebih baik daripada penggunaan pupuk kandang sapi”. Hm...selesai juga menjawab pertanyaan Agus.


Sewaktu menjawab pertanyaan salah seorang teman
          Pertanyaan berikutnya adalah dari Bunga tentang dekomposer yang nantinya akan saya gunakan. Kebetulan sekali semua tentang dekomposer yang akan saya gunakan sudah saya ketik ulang dalam slide power point, sehingga saya tidak perlu repot2 menjelaskan. Hehe,, pelajaran berharga dari Pak Acing tentang persiapan slide untuk menjawab pertanyaan yang kira-kira akan ditanyakan.


Mencatat Ulasan dari Dosen Pembimbing
          Selanjutnya dari Tiwi tentang sejarah lahan... Hmm, ada gunanya juga ngobrol dengan pak Sarta tentang riwayat lahan sehingga saya tahu bekas ditanami apa lahan tersebut. dari Ami menanyakan kok ukuran petaknya berbeda dan tentang sistem tanam padi apa yang saya gunakan, dan kenapa kok 5 bibit per lubang? Ini yang saya merasa jawaban saya kurang mengena... kemudian dari Lukman tentang sejarah lahan juga, bagaimana mengatasi agar tidak terjadi rembesan air dari  sawah konvensional penduduk. Hoho...pertanyaan-pertanyaan akhir ini saya kurang puas menjawabnya karena kurang mengena. Mungkin saya harus lebih banyak bertanya lagi dengan orang-orang yang berkaitan dengan penelitian saya agar ketika ditanya saya dapat memberikan jawaban yang lebih memuaskan. Memberikan pertanyaan itu bukan bermaksud menguji, tapi benar-benar murni dari pikiran kritis.. So whatever the question, jawab semampunya dengan pengetahuan yang kita miliki.


          Alhamdulillah, bu Andri menutup sesi tanya jawab dan senyum bahagia merekah di bibirku (haha...). Lega sekali rasanya, dan tinggal Bu Maya memberikan ulasan tentang presentasi saya. Rasanya bener2 seperti satu ketegangan telah mencair.... (Nyes...). Hmm, walaupun jawaban saya agak aneh seperti itu tapi ibu bilang “Cukup baik kok presentasi kalian, jangan lupa proposalnya ya.. Soalnya nanti kalau proposal tidak segera dikumpulkan, nilai g akan keluar. Nanti sampaikan juga ke Ayu”,... Wah, ibu baik sekali. Padahal hari ini saya sempat merasa g enak dengan Bu Maya dan Bu Arum karena segalanya belum siap saat seharusnya kolokium sudah dimulai...


       Teman-teman langsung maju satu persatu memberikan ucapan SELAMAT ke saya.. Terimakasih teman2 semuanya atas kehadirannya, semoga cepat menyusul kolokium ya....


          Terimakasih buat teman2ku se AGH di Pondok Surya (Nurul Bunga, Mia Budiman dan Rista Delyani) yang semalem telah meluangkan waktu untuk mendengarkan latihan presentasi saya dan memberikan pertanyaan2 yang ternyata memang banyak ditanyakan di kelas, dan juga telah memberi saran dan kritik yang membangun.


"Thanks for my best friends"
          Terimakasih juga buat tim sukses kolokium-ku, the Wadesta (Indra Kurniawati, Tri Rahayu, Hasrat Enggal Prayogi, Diah Rahmi Adiyanti, dan Galuh Hanifatiha) yang telah mengabadikan momen berarti dalam hidupku ini. Hehe,, akhirnya hari ini the Wadesta bisa foto berTUJUH lagi ya....


          Makasih juga buat adik kelas-ku di BEM Faperta Generasi Pembaharu Nur Syahriah dan Yesy Mardianawati atas doa, spirit dan ucapannya, semoga kalian juga lekas menyusul J.


This is Ayu, my partner
          Buat kawanku se-PS (Try Ayu Handayani), semoga besok kita bisa lebih baik lagi. O ya,, mari kita berkonsentrasi pada proposal penelitian yang seminggu lagi harus segera dikumpulkan ke komdik.       

         

Selasa, 08 November 2011




Ami, teman sekost-an paling gokil

Teman-teman tiba-tiba ingin ikut foto bersama :)

WADESTA, akhirnya berTUJUH lagi...

All about my kolokium (buku-buku untuk makalah penelitian) dan  ucapan selamat dr teman-teman

You Might Also Like

0 comments

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA