SAYUR dan BENIH, Indahnya Kebersamaan

Monday, April 04, 2011


Keduanya adalah Mata Kuliah Mayor pilihan yang saya ambil di semester ini. Sama-sama asyik, tapi setiap mata kuliah tersebut memberikan arti tersendiri. Mulai semester ini memang kami (Indigeneous 45) sudah memulai menentukan topik khusus yang harus kami perdalam. Itu artinya kami tidak akan kuliah dalam kelas besar lagi seperti tahun-tahun sebelumnya, dan intensitas pertemuan kami sesama Indigeneous akan berkurang. Jika ternyata jadwal kuliah Mayor wajibnya berbeda, dan jika mata kuliah pilihannya berbeda juga, maka probability pertemuan di kuliahnya bisa jadi nol. Semester ini saya hanya mengambil 2 dari 4 mata kuliah pilihan yang ditawarkan mengingat efisiensi dana dan waktu. Maunya mengambil semua, tapi saya nggak mau capek tapi nanti hasilnya nggak maksimal. Lebih baik fokus dan maksimal.
  Judul penelitian saya “Budidaya Padi Organik dengan Penambahan Pupuk Hayati” dengan dosen pembimbing Dr. Ir. Maya Melati, MS, MSc. Judul saya tidak membutuhkan mata kuliah pilihan yang mengikat, artinya saya bebas menentukan mata kuliah saya sesuai minat saya saja. Maka saya mengambil Tanaman Sayuran dengan alasan prospek ke depan sayuran organik masih bagus, dan MK Produksi dan Pengolahan Benih karena pertama kali saya menentukan topik, benih adalah pilihan pertama saya. Ada pertimbangan-pertimbangan lain kenapa saya mengambil mata kuliah tersebut.

Saya suka menanam sayuran karena saya suka makan sayuran. Sebagian besar sayuran itu herbaceous. Menyenangkan sekali melihat tanaman herbaceous karena meningkatkan minat saya makan sayur (he...he...). Budidaya sayuran terbilang membutuhkan keterampilan khusus, walaupun beberapa tanaman sayuran sangat mudah dikembangbiakkan. Sebut saja kangkung yang tinggal tebar bijinya saja sudah bisa tumbuh, dan relatif tahan pada kondisi kekurangan air. Bayam memiliki karakteristik yang sedikit berbeda. Coba saja langsung tebar seperti kangkung, dia hanya akan tumbuh kalau kondisi air mencukupi. Lebih rumit lagi Caisin (mungkin ada beberapa yang menyebutnya sawi, karena saya baru tahu kalau sawi disebut caisin setelah menginjak semester 4 di IPB. It’s no problem, beda daerah boleh saja beda nama), coba saja ditebar, paling yang tumbuh hanya beberapa saja. Bukan salah produsen benih yang mencantumkan daya berkecambah (daya tumbuh) yang tinggi pada benih yang telah bersertifikat, tapi cara budidaya yang baik itulah yang belum kita lakukan.

It’s why according to me that vegetable culture is unique. Every vegetable have their own characteristic. Meskipun caisin bisa ditanam dengan di tebar benihnya (umumnya dialur), akan tetapi hasil optimum dapat diperoleh jika disemai terlebih dahulu. Jangan lupa juga, caisin sangat rentan dengan kondisi kekurangan air. Sedikit saja kekurangan air, bisa saja caisin tersebut gagal berkecambah. (How difficult it?? Not always, only need a specific skill).

 Kelompok sayuran saya juga orangnya rajin-rajin. Kami tidak dibagi, tapi tak ada yang mau lagi menanam caisin karena susah tumbuhnya (Saya pikir, justru disinilah uniknya. Kalau dari sekarang hanya mau menanam yang mudah tumbuh saja, kapan kita tahu trik menanam sayuran yang susah tumbuh itu. Justru saya malu nantinya kalau sampai lulus saya tak bisa menanam caisin dengan baik), jadilah kami hanya bersebelas. Yanuar, Dimas, Mail dan Willy adalah pelopor kelompok caisin, kemudian saya masuk dan mulailah mempelopori kaum hawa untuk ikut serta dalam kelompok caisin (sebut saja Tri, Galuh dan Icha). Delapan orang kelompok Caisin, kemudian ditambah Andre. Mungkin cukup sembilan orang, walaupun dikatakan tak adil karena kelompok lain bisa mencapai 15 orang. Satu minggu kemudian masuklah Rifa dan Muaz ke kelompok kami. Jadilah kami bersebelas, dengan komposisi gender 4 orang perempuan dan 7 orang laki-laki. Komposisi laki-laki terbanyak dalam sejarah kelompok budidaya. Salah siapa tak ada lagi perempuan yang mau bertanam caisin? (he...he...)

 Kebersamaan mungkin tak begitu terasa di kelas ini, tapi sangat berkesan di dlam kelompok kecil kami. Bagaimana tidak, hanya kelompok kami yang rutin sarapan bersama setiap hari rabunya. Salah satu mengkoordinir, yang lainnya mempersiapkan pekerjaan yang lain. Mungkin kelompok kami juga yang HOKnya paling tinggi, karena kami kebanyakan bercanda sewaktu menanamnya. Tapi semoga hasilnya tetap optimal yah....
Kenapa saya mengambil produksi dan pengolahan benih? Tentunya supaya tahu bagaimana proses produksi benih dari lapang sampai masuk industri.  Apa saja yang harus diperhatikan dalam produksi benih, walaupun saya sudah mendapatkannya tahun lalu pada MK dasar dan Teknologi Benih, tapi menurut saya ini sangat penting. Kalau mau kerja kantoran, rencananya mau bekerja di BPSB Delanggu (Klaten) biar dekat dengan rumah. Kalau mau nyambi bisnis, organic vegetable I think okay.

Kebetulan mendapat kelompok benih yang juga cocok dengan orangnya. Dominasi Javanese, always everywhere. Rizal, Christ, Tira, Khusnul, Dini and Me. Yang menjadi kenangan bukan pada kelompok komoditasnya, akan tetapi teman-teman sesama pengambil MK Produksi dan Pengolahan benih sangat terasa kebersamaannya. Kemaren kelompok kami hanya menghitung tomat yang tumbuh dalam tray, lalu memasang mulsa plastik, maka kami paling terakhir selesai. Mulsa datang saat kelompok lain sudah selesai melakukan pemeliharaan, maka kami bekerja di saat mereka selesai. Mereka meminjamkan cangkul kelompok mereka kepada kelompok tomat, dan kami (baik perempuan dan laki-laki) semuan mencangkul tanah agar menjadi sebuah bedengan. Melihat kami perempuan bekerja dengan penuh keringat, maka laki-laki dari kelompok lain (padi, jagung, dan kedelai) turun tangan membantu kelompok kami mencangkul. Maka selesailah pemasangan mulsa itu lebih cepat dari waktu yang diperkirakan.

Minggu berikutnya ternyata mulsa yang kami pasang acak-acakan tertiup angin. Maka kami harus merapikannya dan menunggu bilah bambu untuk menguatkan posisi mulsa. Sambil menunggu, kami kelompok tomat membantu kelompok kedelai membersihkan gulma. Maka setelah mereka selesai, mereka membantu kami mengencangkan mulsa kami kembali, dan kami dapat selesai praktikum lebih awal.

Kami transplanting tomat ke lahan, sedangkan kelompok lain hanya pemeliharaan. Luar biasa sekali hari ini, semua kawan membantu kelompok tomat transplanting (kecuali kelompok padi gogo, dan saya maklum karena gulma di lahan mereka hampir mengalahkan tanaman budidayanya). Jadinya lahan kami seperti lahan anak TK yang dibanjiri manusia. Karena unik dan langka, maka kak Warid mengabadikannya dengan kamera. Hm..., kebersamaan sekelas sangat terasa sekali yah... Mungkin itu juga karena asisten kami menerapkan tidak boleh pulang sebelum semuanya selesai. Terimaksih kakak-kakak kami, sehingga kami jadi merasakan indahnya kebersamaan.

You Might Also Like

0 comments

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA