Bagai Sapi Perah

Saturday, April 09, 2011


Suatu hari saya sedang di sekret BEM melaksanakan tugas saya sebagai anak Kominfo untuk memberi cap pamflet yang akan ditempel di papan umum media center. Kebetulan ada dua orang lagi di sekret BEM, maka kami ngobrol seperti biasa. Teman saya bercerita bahwa sewaktu acara motivation training yang wajib diikuti oleh seluruh anggota BEM, ada salah seorang anak yang mengeluhkan kepada teman saya tersebut. Anak tersebut berkata “Ngrasa nggak sih kak kalau sebagai anak BEM itu kita seperti sapi perah. Kalau ada acara yang sepi, maka kita diwajibkan hadir. Kalau dana kemahasiswaan belum ada, maka kita dipaksa mengeluarkan uang untuk menutupi kebutuhan acara. Tenaga kita seperti dimanfaatkan habis-habisan untuk acara tersebut. Bahkan nggak jarang kita mengorbankan semua waktu kita untuk kegiatan tersebut. Ada nggak sih manfaat yang bisa kita dapat dari BEM itu sendiri? Seharusnya kita sebagai anggota BEM juga berhak mendapatkan suatu reward atas keterlibatan kita. Nah, apa itu?”.
            Sewaktu saya mendalami masalah tersebut, memang iya, saya juga merasakan seperti itu. Ini tahun kedua saya di kelembagaan yang sama, tingkat yang sama, dan di departemen yang sama. Saya merasakan tak banyak sistem yang berubah, masih konstan, seperti ini saja. Hipotesis yang kemudian saya ajukan “siap jadi anggota BEM” tentu dengan hipotesis tandingan “tidak siap jadi anggota BEM”.
            Ketika saya berpikir tentang berapa uang yang saya keluarkan untuk menutupi sementara pengeluaran kegiatan, maka yang ada di otak saya hanya uang saja. Saya tak pernah berpikir bagaimana mencari uang untuk mengganti uang saya (dan teman-teman tentunya) yang telah terpakai. Sebagai organizer, maka arah pemikiran kita bukanlah untung rugi setelah mengorbankan milik kita untuk sebuah acara. Kerangka berpikir kita harus sudah tertata bagaimana menyukseskan dengan pengelolaan dana yang baik. Okelah, uang bisa dicari, tapi kesuksessan sebuah acara akan menjadi image seseorang di kemudian hari.
            Mengelola keuangan harus dibarengi dengan kemauan keras untuk berusaha mencari pemasukan. Ketika saya belajar tentang keseriusan dalam event organizer, maka saya menegrti bagaimana seharusnya. Jadikan acara yang akan kita rencanakan tersebut berharga bagi perusahaan yang akan memasang iklan. Maka seriuslah dalam menyusun rencana, jangan setengah-setengah.
            Kalau ditanya tentang waktu yang saya korbankan untuk kegiatan BEM, saya akan menjawabnya “bagaimana caranya mengatur waktu kamu sendiri agar tidak bertumpang tindih dengan kegiatan BEM?”. Bukan berarti menomor duakan kewajiban belajar saya, tapi saya harus bisa menjadwalkan waktu belajar dengan baik agar tidak keteteran ketika BEM punya acara. Jika dari awal ajaran baru sudah menyicil belajar dengan baik, maka tatkala ujian ada acara, kita tetap biasa menjalankan acara tersebut tanpa harus mengorbankan waktu belajar kita. Intinya ada pada kedisiplinan diri, bagaimana memanajemen waktu kita agar tak mengganggu urusan kegiatan.
            Apa yang bisa kita dapat dari BEM??. Ingatkah kawan akan perkataan “Jangan hidup dari negeri ini, tapi Hidupilah negeri ini” yang sempat bergema pada masa setelah kemerdekaan?. Jika saya balik pertanyaannya “Apa yang bisa kamu berikan untuk BEM?”, apakah jawabannya? Kalau kawan sudah bisa menjawab, maka bolehlah kawan ajukan pertanyaan kawan itu. Kalau belum, lakukanlah dulu. Jangan hanya menuntut hak padahal kita belum menjalankan kewajiban kita.
            Semoga kita bisa meluruskan niat sebelum kita berjalan lebih jauh lagi. Sebab semuanya akan terasa sia-sia ketika amalan kita tak didukung oleh niatan yang baik. إﻨﻤاﻷﻋﻤﻞﺑﺎﻠﻨﻴﺔ, ﺃﻟﻴﺲﻜﺬﺍﻠﻚ؟

You Might Also Like

2 comments

  1. sapi sapi sapi,

    ayo ijat jualan sapi sekarang...

    kunjungi kelik klaten blogs jat, jangan lupa, gak bakal rugi,

    ReplyDelete
  2. kau buka pas ulangtahunku,, okelah kapan-kapan

    ReplyDelete

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA