Ular “derik” Mengancam

Thursday, February 17, 2011


15 Juli 2010
Bangun pagi langsung makan singkong, (g pagi, g siang n g malem…singkong melulu). Bantuin Yulia masak nasi goreng, tapi ngracik bumbu dulu coz nasinya belum matang. Nguleg bumbu, mpe halus banget. Aha..nyampe pulang go Field aku jadi pinter masak niy..
Setelah nasinya matang, mulai dech kita goreng-menggoreng. Aku nge-goreng tahu, trus Yulia yang masak nasi goreng. Selepas makan, cuci tangan dan langsung siap-siap ke kebon. Kita ke kebon lengkuas yang kita tanam kemaren tapi lewat empang bapak, lewat belakang kebon. Hm,,perbukitan yang indah banget. Rasanya pengin banget punya rumah dengan view yang indah seperti itu.
Eh, bapak yang kurang waras itu mandi disitu lagi. Tak jadi dech kita turun. Pak Bakri bilang lewat jalan samping ajha, lewat tempat yang bala. Berliku-liku n penuh tantangan. Nembusnya kita lewat jalan di depan empang. Kata bapak, di pinggir jalan ada ibu-ibu yang nyabutin rumput. Kita meluncur ke sana lewat kebon lengkuas yang kita Tanami kacang kemaren. Kata pegawai bapak yang bekerja disitu, “ati-ati neng kalo lewat sini, lihat-lihat bawah”. Hm..pasti itu derik yang dibilang pak RW kemaren. Serem!! Sepanjang jalan kita was-was banget, serem. Derik yang mematikan,..derik yang menghantui hari-hari kami belakangan ini.
Lewat kebon lengkuas, trus lewat kebon yang rumputnya masih tinggi-tinggi. Serem. Sepanjang jalan kami waspada dengan tanah yang kami injak. Hmm…segitunya pula. Disini aku merasakan pentingnya sepatu boot, andaikan pake boot kami tak perlu setakut ini untuk berjalan.
Setelah menyeberangi kebon lengkuas sebegitu luas dan menyeberang jalan, bertemu juga orang-orang yang sedang bekerja. Kita menghampiri mereka, membantu menyabut rumput. Tapi g suka deh! Ibu-ibu itu seperti mengejek kami (yang dianggap orang kota). “Teh, nggak usah bantuin. Pulang ajha! Panas-panas kayak gini, nanti kulitnya hitam lho!! Pulang-pulang ntar dimarahin ibu teteh”,. “Hati-hati neng pake sabitnya, ntar kena tangan bias berdarah lho!”,. Ih,, segitu begonya kita sampai pakai parang pun tak bisa? Buat apa kami sekolah di Pertanian, kalau cuma takut kulitnya bakal hitam? Dan tak semua orang, terutama yang mencintai tantangan, takut kalau kulitnya hitam!!
Hh…sabar!! Berhadapan dengan orang yang tingkat pendidikannya berbeda terkadang justru menyulit emosi. Tapi sadarlah, tak perlu ngotot. Karena mereka mungkin hanya bisa mencela dan mencela, tanpa mau tahu seberapa besar tekad kita untuk mencoba hal-hal yang baru bagi kita.
Baru bantuin ibu-ibu itu belum nyampe se-jam udah maen pergi ajha kita. Hm…kesiangan sih!! Cuma mau ke kobon ajha mandinya kayak puteri keraton. Padahal orang kampung mah g pake mandi dulu, pagi buta langsung ke kebun. Ya seperti ini kenapa banyak kegiatan yang melibatkan orang kampung sering gagal. Riweuh sich!! Kalau mau membaur ya bener-bener membaur, g usah setengah-setengah!! Kalau mau mandi dulu, ya bangunnya lebih pagi.
Sekembalinya kami, tak lupa menyempatkan diri membeli sayur di warung Ibu Ira. Lagi dan lagi-lagi kami harus bertengkar untuk masalah sepele. Ah, seperti inikah sikap orang yang sudah seharusnya berpikiran dewasa?? Say amah nggak suka yang namanya kawan tapi masih saling membentuk kubu-kubu tersendiri.
Lagi-lagi saya dan Yulia menjadi juru dapur. Bahkan sempat terpikir, apa kalau diantara kami berdua tak ada yang mau memasak mereka juga akan makan? Hm..untuk berkorban tenaga sedikit saja kok limit amat perhitungannya.
Sore harinya kami membakar rumput yang telah kami babat kemarennya. Waw…asapnya!! Membuatku yang sudah mandi sore berasa belum mandi nih!!

You Might Also Like

0 comments

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA