Libur Alih Semester (V-VI)

Thursday, February 17, 2011

Ini adalah liburan panjang yang untuk pertama kalinya (sejak saya jadi aktivis) saya habiskan full untuk pulang kampung. Biasanya saya tak mau yang namanya liburan hanya pulang saja, saya ingin ada hal bermakna yang saya dapatkan setelah liburan. Kemarin saya telah merencanakan ikut magang di perusahaan sayuran di dekat kampus, kemudian saya agak kesal karena kawan-kawan saya seolah melepas tanggung jawab untuk mengurusnya padahal mereka yang mula-mula berminat, sehingga saya mengurus magang itu sendiri, maka saya malas untuk melanjutkannya. Enak kali seperti itu, mending saya mengurus yang lain daripada saya ngurus hal-hal yang bukan kepentingan utama saya. Itulah buruknya sifat saya, saya memang mau dan bisa diajak bekerjasama dengan baik, tapi dalam kerjasama itu kalau saya sadar ada pihak-pihak yang mulai memanfaatkan saya, maaka egois saya yang akan berbicara, karena saya tak suka dimanfaatkan.
Waktu itu saya mendapat kabar IPB Goes Field to Merapi untuk liburan ini, tanpa pikir panjang langsung saya ambil. Pikir saya, kalau mereka saja ikut serta dalam pemulihan Merapi, maka saya sebagai anak lereng Merapi akan sangat malu kalau saya sendiri tak ikut. Ternyata mungkin bukan keberuntungan saya, hanya diambil 50 orang dan saya tidak termasuk diantaranya. Hmm...kembali magang, saya sudah males dari kemaren cara ngurus magangnya. Pulang mungkin lebih baik. Lagi pula liburan alih semester depan saya tak bisa pulang karena harus mengikuti Kuliah lapang dan KKP selama 2 bulan langsung setelah akhir semester 6 ini. Saya juga harus periksa mata lagi karena kaca matanya sudah mulai tak nyaman lagi, kalau periksa di Bogor beayanya dua kali lipat periksa di Klaten. Sudah begitu, liburan mendatang saya pasti tak pulang karena mulai sibuk memikirkan penelitian. Ah, sudah pulang saja!!
Pulanglah saya naik kereta Senja Bengawan. Tentunya kalian tahu kereta kelas apa itu, tentu saja kelas ekonomi. Buat apa saya menghabiskan uang banyak-banyak hanya untuk pulang, lebih baik untuk kebutuhan yang lebih penting lagi. Perjuangan memperoleh tiket duduk dari stasiun Manggarai ke Tanah Abang, pertanyaan yang sampai saat ini saya tak tahu mengapa tiap kali saya membeli tiket di Manggarai tak pernah mendapatkan, tapi ketika saya lanjutkan ke Tanah Abang saya masih bisa mendapatkannya, harganya pun jauh lebih murah 2000 perak. Hmm, kenapa bisa seperti itu? Logikanya kan murah kalau saya membeli tiket dari Manggarai karena dari segi jarak tempuh ke stasiun tujuan lebih dekat.
Ini kali pertama saya pulang naik kereta ekonomi dari Jakarta seorang diri, biasanya selalu ada kawan pulang. Ini gara-gara adik saya tak mau menunggu barang beberapa jam saya. Jadwal ketemu PA yang mau tak mau membuat saya akhirnya menunda kepulangan saya. Ah, tak perlu mengeluh dan mencari sebab-sebab yang tak seharusnya. Buktikan saja kalau kau wanita kuat yang tak mengeluh karena suatu masalah! Itu kata-kata yang menguatkan saya di ujung keputusasaan. Pada akhirnya di kereta saya bertemu dengan seorang perempuan seumuran (saya tapi dia sudah bekerja) yang turun di stasiun Klaten. Kami menunggu di tempat duduk yang disediakan di Stasiun Tanah Abang, dari jam 16.00 sampai jam keberangkatan yakni jam 19.30 WIB. Bertemu 2 ibu-ibu yang masih saudara, mereka turun di Stasiun Purwosari Solo. Mulailah kami bercakap-cakap dengan bahasa adat yang kami junjung tinggi dimanapun kami berada. He...he...
Alhamdulillah kereta tak se-penuh sesak seperti biasanya. Saya naik bersama mbak yang turun di Klaten tadi, yang ternyata duduknya berhadapan denganku. Dan dengan semena-mena kami menggeser posisi bapak dan mas-mas yang sudah duduk disamping jendela kereta, he..he... biasanya orang di kereta mau saja kalau diajak tukar tempat oleh kaum perempuan. Saya tak mau-lah dipinggir coz selalu tersenggol orang-orang yang suka berlalu lalang, membuat tidur semakin tak nyaman saja nantinya. Tapi, kali ini memang tiket saya 20A, artinya saya yang lebih berhak atas kursi disamping jendela itu. He....
Di dalam kereta saya lebih banyak tidur, dan kalaupun bangun paling hanya minum saja. Minuman yang saya bawa sudah habis pukul 24.00, niat saya mau beli lagi. Tapi uang 5000 perak yang saya genggam kok bisa hilang ya? Ada yang ngambil apa ya... Satu-satunya uang yang saya pegang waktu itu, karena uang yang lain berada di dalam tas, dan tas sudah saya letakkan di tempat tas di atas kursi, rasanya riweuh kalau harus bongkar-bongkar tas buat ngambil uang. Ya sudahlah, berpuasa saja dulu.
Pukul 04.00 pagi saya baru mulai menikmati perjalanan. Memang belum begitu menampakkan pemandangan sih, tapi menyaksikan stasiun demi stasiun dari daerah Bumi Ayu cukup memberikan kesan. Apalagi saat kereta sudah didaerah Yogyakarta, bisa melihat keramaian kendaraan di daerah stasiun Tugu, tak lain adalah daerah Malioboro. Sayang, sepertinya daerah Merapi masih tertutup kabut tebal, maka saya tak mendapatkan view Merapi mountain dari dalam kereta. Okay, stasiun Tugu dan Lempuyangan sudah dilalui. Maka berikutnya adalah stasiun Prambanan (Tulisannya yang sudah lama itu belum juga diganti juga, “Brambanan”), stasiun Srowot, stasiun Klaten, dan tibalah saya harus turun di stasiun Ceper. Kalau orang rumah tak sibuk, biasanya saya dijemput disini. Sayangnya, hari ini saya harus naik bus. Inilah bus yang semasa SMA menjadi langganan saya! Masih seperti dulu, he...
Hari ini saya habiskan untuk memulihkan badan, dan esok harinya saya langsung tancap gas ke Yogyakarta untuk periksa mata di Optik langganan kami dan dilanjutkan berjalan-jalan ke Malioboro membeli bahan-bahan untuk membuat tas. Tiap kali perjalanan ke Yogya, kami tak pernah tak melewati UIN Sunan kalijaga, bundaran UGM, dan tentunya GOR UNY. Tentu saja, UNY dan UGM kan bersebelahan, lewat satu pasti melewati yang satunya. Yogyakarta: kota perjuangan meraih mimpi. Lalu kami mampir ke rumah Bulik di Maguwoharjo, baru kemudian pulang setelah puku 15.00 sore.
Breefing di SMA N Cawas, ini aku paksakan datang juga. Karena inilah SMA-ku dulu, tempatku mengukir prestasi. Aku dan adikku berangkat bersama naik bus, dan tiba tepat waktu. Tak banyak yang berubah dari SMA ini, hanya kantin dibelakang kelas X sekarang sudah dibangun menjadi kelas baru untuk kelas Unggulan dan Emersi. Saya dapat tugas breefing di kelas XII IPA 2, kelas saya dahulu. Anak-anaknya gaduh sekali, ngeyel, dan suka ngomong sendiri. Mengingatkan saya akan kondisi kelas saya waktu itu. Ha..ha..., XII IPA 2 yang selalu terdepan.
Ada perasaan bangga juga, kali itu alumni SMA N Cawas yang datang mengikuti breefing hampir sepuluh orang, belum pernah seperti ini sebelumnya. Kami juga tak lupa menyalami guru-guru kami, dan surprise banget, ada beberapa dari mereka yang bahkan masih ingat dengan saya, padahal saya kan alumni 3 tahun lalu. Hmm, orang yang memberi kesan pasti akan selalu diingat! Ha..ha... PD kali aku ini.
Mumpung di Cawas, mainlah aku ke rumah Ayu, kawanku sekelas waktu SMA. Absennya nomor 6, sedangkan aku absen no 4 (pertama untuk cewek) dan kami sering sekelompok karena absennya berdekatan. Sekarang kuliah di Agroteknologi UNS, tak jauh-jauh beda bidangnya dengan aku. Menjalin silaturahmi akan memperlancar rezeki, aha..ha... Siapa tahu suatu saat jadi partner bisnis saya, amin....
Kembali ke Yogyakarta, kali ini urusannya ke pasar Bringharjo untuk beli jilbab. Alamak...ternyata gak jauh-jauh beda ama pasar klewer, cuma lebih gede ajah.. Lebih rame, penjualnya lebih g ramah mentang-mentang tokonya laris. Hm...nyadar donk!! Tanpa adanya pembeli tuh kamu g berarti apa-apa disini!! Kalau bukan urusan bisnis (walah!), tak mau repot-repot ke sini. Saya mah lebih nyaman belanja di pasar Klewer, penjualnya ramah dan g kasih harga melambung buat orang asing. So, kalau kamu tak pinter nawar, lebih baik belanja di pasar klewer. Tapi kalau kau tahan banting, pinter nawar, ya beli saja di Bringharjo atau malioboro karena harga dasarnya jauh lebih murah.
Habis itu, lanjutlah jalan-jalan ke GOR UNY lihat-lihat buku di Islamic Bookfair. Baru kali ini ikutan Bookfair di Yogyakarta, biasanya kalau tak di Solo ya di Bogor. Cukup banyak pilihan buku sampai bingung, dan pada akhirnya saya hanya membeli buku yang sudah terplanning saja. Banyak juga mahasiswa yang berkunjung ke sini, bahkan beberapa diantara mereka saya sempat berulangkali melihat mahasiswa mengenakan jaket Universitas yang berlokasi di Solo. Memang, Solo-Yogya bukanlah jaraj yang terlalu jauh untuk sebuah informasi.
Malam hari saya harus begadang untuk berebut kirim email guna menentukan judul topik penelitian/magang tugas akhir. Pukul 23.45 langsung pergi ke warnet (tentu dengan ayah saya, saya tak mungkin sendiri malam-malam seperti itu) dan langsung tancap siap mengirim email. Hua...udah terkirim, dan di jam tangan saya pukul 00.04 ternyata di sent item saya menunjukkan pukul 09.04 dan tanggalnya juga masih tanggal 3 Februari. Hmm, mana saya tak tahu cara pengaturannya gmana. Saya tak mau menyerah, saya punya 3 email yang berbeda dan saya coba ketiganya. Alhamdulillah, dari 3 email yang telah saya kirim hanya 1 email yang jamnya bener. Heuh...mendebarkan saja!
Saatnya KRSan, niatnya tepat jam 09.00 mulai menunggu warnet. Ternyata mati lampu lama banget! Ditawarin Ibu ikut ke Solo, sekalian KRS-an sekalian muter-muter. Ikut deh!1 siapa tahu beruntung. Pukul 13.00 baru mulai KRS-an, mayor sudah masuk semua tapi tetap saja kehabisan SC. Hmmm,,,kumaha?? Puyeng eui... Pengumuman judul topik dan PS pilihan, Alhamdulillah judul yang kupilih lolos.
Setelah KRSan ya tinggal muter-muter ke Solo. Karena kemaren sudah mengintari Pasar Bringharjo di Yogyakarta, maka ke Pasar Klewernya dipending dulu. Kali ini jalan-jalannya ke Jl. Yos Sudarso alias Nonongan Solo, tempatnya pernak-pernik di Solo. Bukan beli pernak-pernik tujuannya, tapi beli buku. He..he..,buku tulis maksudnya.
Liburan yang sempurna! Sayang, tak bisa kembali ke Bogor bersama adik saya karena dia harus balik lebih awal. Sendiri dan lagi-lagi sendiri naik kereta ekonomi, tapi lama-lama saya biasa. Bertemulah kawan-kawan se-kampus di stasiun manggarai, dan ketika di angkot tambah banyak saja kawan yang saya kenali. Astagfirulloh, tas saya hamper saja kecopetan. Untung saya tak menaruh dompet di kantong tas paling luar!! Pengalaman emang guru yang terbaik.
Welcome to bogor! Welcome the new spirit!!

You Might Also Like

0 comments

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA