Fenomena Pulau Sampah dan Antisipasinya

Monday, February 14, 2011

Sampah adalah bagian tersisa dari benda ataupun barang yang telah dimanfaatkan. Apa yang mereka katakan tentang sampah?  “yang tersisa” atau “yang tak berguna”, seperti itulah konotasinya. Akan tetapi dari “yang tersisa” dan “yang tak berguna” tersebut justru menimbulkan masalah yang “sangat berarti” dalam kehidupan dimuka bumi ini.
Bukanlah masalah yang sepele jika sudah menyinggung persoalan sampah, walaupun sampah sendiri dianggap barang sepele. Teorinya sebenarnya mudah saja, “Buang sampah pada tempatnya” maka segala masalah tentang sampah dapat diatasi. Tentu saja, pelaksanaan tak ada yang lebih mudah dari sekadar teori.
Yang terjadi saat ini adalah orang semakin tak peduli dengan apa itu sampah. Mungkin beberapa orang sudah melaksanakan teori dasarnya, yaitu “buang sampah pada tempatnya”. Namun dari sampah yang sudah dibuang pada tempatnya tersebut (dalam tong sampah, maupun pada Tempat Pembuangan Akhir) kemudian dikumpulkan oleh pengumpul dan bukannya disalurkan ke tempat yang lebih tepat (dimanfaatkan, daur ulang, dsb) tapi dibuang lagi ke tempat yang tidak seharusnya menjadi tempat pembuangan sampah (sebut saja sungai, atau bahkan laut). Sampah dibuang ke sungai ataupun ke pantai, tentu saja masalah tak akan berhenti sampai disitu saja. Sampah tersebut nantinya akan terbawa arus air semakin jauh ke tengah laut. Kalau saja sampah tersebut sampah organik, tentu masih bisa membusuk dan dimanfaatkan oleh organisme laut. Nah, apa jadinya kalau sampahnya sampah plastik ataupun sampah-sampah lainnya yang tak dapat diuraikan mikroorganisme? Sampah-sampah tesebut mengapung di atas permukaan laut. Bisa dibayangkan wajah permukaan laut yang dihiasi tumpukan sampah. Wow!!
Fenomena tersebut saat ini sedang hangat dibicarakan dan menjadi topik hangat bagi aktivis lingkungan hidup. Fenomena “pulau sampah”, tentu saja sangat mengerikan dan siapa pun tak mengharapkan terjadinya hal ini. Tak ada suatu permasalahan yang tak ada pemecahannya, demikian juga dengan fenomena pulau sampah.
Pemilahan sampah-sampah harus dilakukan sejak awal pembuangannya. Misalkan dengan tong sampah yang dipilah berdasarkan sampah organik dan sampah anorganik, hal ini dapat disosialisasikan sejak dini kepada anak-anak melalui sekolahan, dan sosialisasi dikampung-kampung melalui ibu-ibu PKK ataupun aktivis lingkungan lainnya.
Sampah-sampah yang telah dipisahkan tersebut dapat dimanfaatkan berdasarkan kategorinya. Sampah organik dapat dibusukkan agar menjadi kompos. Proses pengomposan adalah proses terurainya bahan-bahan organik dengan bantuan mikroba dan biota tanah lainnya. Akan tetapi proses pengomposan alami akan berlangsung lambat dan cukup lama. Maka berkembanglah berbagai metode pengomposan yang pada dasarnya adalah mempercepat proses alami pengomposan.
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mempercepat proses pengomposan adalah dengan menambahkan bahan-bahan yang sekiranya membantu mikroorganisme dalam proses pengomposan. Penambahan gula pasir akan menambah energi pengomposan, karena mikroorganisme membutuhkan ATP dalam menguraikan bahan organik tersebut. Aktivator seperti EM4, biopugan, Bioekstrim, dll akan menambah jumlah mikroorganisme. Semakin banyak jumlah mikroorganisme yang terlibat, proses pengomposan akan berjalan lebih cepat.
Andaikan saja setiap rumah tangga membuat kompos dari residu sampah yang mereka buang setiap harinya, maka jumlah sampah tidak akan menumpuk pada satu titik di tempat pembuangan akhir saja. Dan setiap rumah tangga juga dapat memanfaatkan kompos tersebut untuk kebutuhan masing-masing. Memang, sejauh ini kompos merupakan langkah sederhana untuk mengurangi jumlah penumpukan sampah yang terjadi saat ini.
Penggunaan pupuk kompos memiliki banyak keuntungan. Bagi tanah, kompos dapat memperbaiki struktur fisik, kimia dan biologis tanah. Dengan demikian akan mampu meningkatkan produktivitas tanaman yang ditanam pada lahan yang diberi kompos sebelum ditanami. Kompos juga dapat digunakan untuk memperbaiki struktur lahan kritis, menggemburkan kembali lahan yang telah berulang kali digunakan budidaya, dan dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia.
Jika sampah tersebut sampah anorganik, seperti plastik, kaleng bekas, dll maka pengelolaannya adalah dengan menerapkan reduce-reuse-recycle. Saat ini beberapa supermarket sudah menggunakan jenis plastik yang ramah lingkungan, dimana pada waktu tertentu plastik yang telah digunakan tersebut akan hancur dengan sendirinya sehingga tidak akan mengotori lingkungan. Demikian juga Green peace juga telah menggunakan kartu anggota (ID card) yang terbuat dari bahan yang ramah lingkungan, yang pada waktu tertentu juga akan hancur dengan sendirinya.
Berbicara mengenai lingkungan hidup memang tak akan pernah lepas dari pembicaraan keseimbangan ekosistem, karena pada dasarnya lingkungan hidup dilandasi adanya keseimbangan ekosistem. Tidak akan dicapai kelestarian lingkungan hidup, kalau saja ekosistemnya sudah tidak seimbang. 

You Might Also Like

0 comments

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA