Ambisi, Egoisme dan Hati Nurani

Thursday, December 23, 2010

Di akhir kepengurusan saya memang sudah bimbang, mau bagaimana selanjutnya. Mungkin dari situlah letak kesalahan saya karena saya terdorong oleh keinginan kawan yang ingin melanjutkan perjuangan ke BEM KM dan saya yang juga punya keinginan yang sama terus didorong untuk terus maju. Di tambah pula keinginan saya tahun ini utnuk mengajar di lembaga bimbingan belajar, tambah campur-aduklah pikiran saya.

Ketika itu saya dimintai tolong oleh kawan saya yang menjadi Ketua BEM Fakultas untuk menjadi Tim Formatur. Saat itu saya sudah takut kalau-kalau saya akan diminta menjadi BPH ataupun kadep, maka sebelum saya mengiyakan, saya bertanya terlebih dahulu pada orang yang lebih tahu akan makna sebenarnya jadi tim formatur. Setelah yakin bahwa tugas formatur hanya merumuskan, mewawancarai dan mengeplotkan pendaftar ke divisi masing-masing saja, saya mengiyakan. Yang saya takutkan waktu itu adalah kalau saya sudah diharuskan melanjutkan BEM Fakultas, maka saya tak bisa dan tak punya kesempatan lagi untuk melanjutkan ke BEM KM.

Saat itu saya sudah mendaftar dan tinggal melalui seleksi wawancara saja. Seketika saya berada di depan sekret, kawan saya mengajak saya untuk kembali bergabung dalam kominfo lagi karena dia satunya 45 di sana. Saya bilang saya akan membantu, tapi dari luar saja, tidak masuk dalam struktur keorganisasian. Bukannya saya tak mau terikat, tapi saya tak mungkin terikat pada dua kelembagaan pada tahun yang sama. Kemudian dia mengatakan kalau seharusnya saya yang menjadi kadep, bukan dia. Selepas apakah seperti itu kenyataannya, tapi justru kata-kata ini yang membuat pikiran saya kacau lagi.

Saya teringat ketika saya menjadi kadiv Gebyar Pertanian dengan banyak anggota, tapi saya seperti tak mempunyai SDM karena mereka sangat sulit untuk digerakkan. Saya sendiri, mengerjakan hal-hal yang sudah saya amanahkan pada mereka tapi tak kunjung selesai, walaupun pada akhirnya saya jadi bisa banyak hal, tapi saya sangat bingung. Di saat saya butuh SDM untuk publikasi, tak ada yang peduli, bahkan sms saya pun tak ada yang membalas. Saya menangis waktu itu, tapi saya kemudian bangkit lagi dan mengatakan pada diri saya sendiri, bahwa sebagai seorang kadiv saya harus serba bisa dan tahan banting. Masalah seperti ini memang tak seberapa, dan suatu saat saya akan menemui hal yang lebih parah dari ini.

Saat itu saya benar-benar mengharap adanya bantuan SDM, karena setiap publikasi saya selalu meminta kawan-kawan dekat diluar divisi saya untuk membantu. Itu belum hari H, saya tambah bingung membayangkan hari H akan seperti apa. Kawan saya yang exchange dari luar negeri pulang, saya berharap semoga saya sedikit terbantu dalam hal ini.

Sekarang posisi itu berbalik, gantian kawan saya yang mengalami hal itu. Tapi ini belum ada anggota, dan dia sendirian. Beberapa kali dia sudah SMS saya mengajak saya bergabung kembali, dan jawaban saya tetap sama. Iya, jawaban saya tetap sama dan saya tidak akan menceritakan langkah yang telah saya ambil, karena saya takut dia merasa saya telah benar-benar meninggalkannya dalam hal tugas-tugas ini. Tapi saya berpikir ulang, sebetulnya kolaborasi yang sangat baik kalau saya melanjutkan kepengurusan di BEM A lagi. Saya yang suka menulis, dan dia yang suka fotografi. Memang malam itu saya jadi banyak berpikir dan menimbang-nimbang mana yang harus saya lakukan. Saya yang egois untuk mengejar ambisi atau bagaimana?? Saya akan lanjut tanpa memperdulikan lagi keadaan yang seperti itu, padahal saya pernah mengalami keadaan yang sama terpuruknya?? Jahat, egois, atau bagaimanakah saya ini?? Saya akan meninggalkan tempat awal saya bangkit menulis?? Benarkah dengan meninggalkan semuanya saya akan tetap terpacu untuk menulis?? Saya jadi mempertimbangkan tawaran itu.

Esoknya saya ceritakan unek-unek saya pada sahabat dekat, saya berharap ada sedikit solusi. Sebenarnya saya juga tak butuh solusi, karena saya sudah punya solusinya. Saya hanya butuh dukungan, dukungan dan semangat saja, itu cukup membuat saya kuat kembali. Sayang, dia tak berkomentar apa-apa. Dua-tiga orang kawan yang saya ajak berdiskusi untuk masalah ini memberikan respon sama. Tak ada komentar, tak ada dukungan. Dan esok paginya saya belum memperoleh keputusan final.

Sampai malam saya wawancara BEM KM pun pikiran saya masih campur aduk, bahkan membuat saya semakin tidak yakin dengan apa yang saya lakukan sekarang. Sewaktu saya menunggu antrean wawancara, sedangkan dua kawan saya sudah masuk terlebih dahulu, saya masih gundah. Bahkan saat wawancara, apa yang saya lakukan sebenarnya?? Sama sekali tak mencerminkan diri saya sendiri. Saya menganggap wawancara hanya obrolan biasa saja. Kenapa saya??

Esok pagi, saya ceritakan kondisi saya pada kawan yang lain. Inilah yang sedikit membuka pikiran saya. Dia mendukung sepenuhnya keinginan saya untuk kembali melanjutkan perjuangan di Fakultas. Dia juga yang yakin kalau Kominfo tahun ini akan berbeda dengan Kominfo tahun sebelumnya jika saya melanjutkannya. Dan semakin mantaplah saya. Seketika saya SMS kawan saya yang Ketua BEM dan menyatakan keinginan saya, dan apakah itu masih bisa?? Jawabannya masih bisa. Dan saat itu juga saya mengundurkan diri dari tahap penyeleksian anggota BEM KM agar saya juga tidak merugikan BEM KM kalau saya diterima nantinya.

Setelah saya mengambil keputusan final ini, saya merasa semakin tenang dan mantap saja hati saya. Kemudian saya koreksi diri saya kenapa saya bisa sebegitu mendadak seperti ini mengambil keputusan. Saya tahu, ada sedikit kesalahan saya dalam memilih teman utnuk diajak pertimbangan. Saya meminta pertimbangan pada mereka yang sudah bosan dengan BEM Fakultas dan ingin ke KM. Itulah yang membuat saya tak mendapat dukungan ketika saya mengungkapkan unek-unek saya ingin kembali ke BEM A. Seharusnya saya imbang dalam meminta pendapat, atau malah meminta pada orang yang tak terlibat dalam kedua organisasi tersebut.

Saya tak akan mengatakan kalau saya telah bergabung kembali pada kawan saya tersebut, biarlah ini menjadi surprise buatnya. Saya telah bersepakat dengan kawan saya untuk hal ini, tak ada yang boleh tau kenapa saya berubah secepat itu, tak perlu dia tahu kalau saya sudah mendaftar BEM KM, yang saya ingin semua orang tahu kalau dengan adanya saya dan kawan saya di kominfo, semuanya akan berbeda dan akan lebih baik lagi.

Siang itu kawan saya kembali SMS saya meminta bantuan saya untuk masuk lagi dalam kominfo. Saya hanya senyum membaca SMS ini, dia belum tahu keputusan final saya. Atas saran kawan saya, jangan dibalas SMS itu. Biar saja nanti dia tahu surprise ini. Agak kejam sicH!! Tapi tak sekejam kalau saya memutuskan untuk tak bergabung sama sekali. He..he..

Mungkin secara kasat mata orang akan menganggap saya kalah karena tak melanjutkan lanhkah saya sampai titik terakhir, tapi saya merasa senang dan menang karena hati nurani sayatelah mengalahkan egoisme saya. Semangat selalu kawan!! Perjuangan tak harus ditempat sama, tapi bisa dengan cara berkontribusi di tempat yang berbeda.

Beruntung yang baca blog ini, karena saya tak akan mengungkit-ungkit lagi masalah ini. Biar cukup yang membaca blog ini yang tahu alasan saya. Setidaknya saya tidak menyembunyikan semuanya hanya untuk diri saya sendiri.




You Might Also Like

5 comments

  1. hikshikshiks.............
    SIIIIAALLLLLL
    aku wes netik uuaaaaaaakeeeeeeeeeehhhhhhhhhhh..ilang!!!sial!!!

    ReplyDelete
  2. Bismillahirrohmanirrohim...
    semoga gak ilang lagi

    Cukup tau..
    karena memang rencana tak selalu jadi realitas...

    aku sangat mendukung keputusanmu...
    jujur saja..aku tak merasa kau mintai pendapat mengenai keputusanmu yang ini..tentang kembimbanganmu...
    aku merasa kehilangan semngat dan kebersamaan bersama kalian selama 2 minggu kemarin karena sibuk di JATIM FEST

    aku merasa ikut andil dalam kebimbanganmu karena memang dari awal aku sudah getol ngajakin untuk masuk BEM KM..bukan aku sudah bosan di BEM A,,tapi aku merasa bahwa di BEM Km itulah tempat tantangan dan totalitas karena disana kita bisa berpikir luas dan menyeluruh dengan sasaran yang lebih luas daripada BEM A...

    dan jujur saja satahun di BEM A kemarin aku ngerasa belum bisa berkontribusi secara total..

    tak semua orang seberuntung kamu za..dimana kamu selalu dibutuhkan tanpa bicara apapun..karena aku tidak..
    ngomong-ngomong BEM Km..
    seperti halnya denganmu yang tak melanjutkan perjuangan sampe akhir..aku pun begitu..
    kalau kamu sudah ikut wawancara,, aku malah belum..
    dari awal aku tau kita sama2 pengen masuk BEM KM, aku sudah daftar online,,sudah ngatri 2 jam untuk wawancara yang akhirnya ditolak gara2 belum di sms jadwal wawancara..cukup sakit hati gara-gara ditolak wawancara(karena aku gak tau kalau sebelum wawancara harus terima sms jadwal wawancara dulu dan aku merasa tidak ada pemberitahuan dan tidak ada info ini sebelumnya, jadinya aku asal ke SC n datang wawancara aja meskipun ditolak) padahal adek kelasku yang juga belum dapat sms ternyata bisa ikut wawancara..
    ngerasa gagal sebelum wawancara...
    karena sampai saat inipun aku gak dapat sms apapun tentang BEM KM...baiklah sepertunya rencana masuk BEM KM gagal!!!

    kalau kamu gak masuk BEM Km tapi masih diterima di BEM A..kalau aku tidak..tak ada yang memintaku..(hikshiks)
    meskipun d OMDA aku juga bisa aktif tapi serasa katak dalam tempurung..aku ingin berada dalam tantangan dan totalitas,,,berpikir menyelurh dan melihat betapa luasnya dunia dan berbagai macam orang..

    teringat perjuangan kemarin di IMAJATIM dan BEM ..dan ngebayangin gmn nasibku di smester depan jika gak ada kegiatan???lha wong sekrang nganggur dikosan aja udah boring..

    sekarang aku yang SANGAT BIMBANG..
    setelah semster kemarin penuh tekanan dan membayangkan akhirnya jadi pengangguran???its not me...
    BINGUUUUUUUUUUUNG.......
    what should I do???

    tapi, semoga Allah menyediakan rancangan dan rencana yang lebIh indah daripada rencanaku..amin
    skarang hanya bisa ikhlas menerima kenyataan...
    (TO BE CONTINUED.........)

    ReplyDelete
  3. satu lagi......
    sudah dari kapan dulu..aku pengen banget maen ke Jateng,,kerumah kalian..sudah terbayang dan terencana dipikiran betapa senangnya bisa liburan di rumah kalian...sudah kugembor2kan bahwa liburan ini aku akan maen ke Jogja kerumah kalian..
    tapi, cukup sakit hati saat kalian bilang gak jadi pulang tanpa memberi tahuku dulu...
    yasudahlah..harus bisa terima kenyataan..
    bingung juga..saat tri bilang jadi pulang padahal aku sudah merencakana hal lain setelah kegagalan rencana awal..antara iya dan tidak..
    hmmm...
    meskipun rada sakit hati..tapi toh aku sekarang sudah gak kepikiran lagi..,mngkin memang belum saatnya aku silaturrahmi kerumah kalian..pasti ada kesempatan yang lebih baik untukku bisa ekspedisi jawa Tengah bersama kalian..

    ralat "saya salah memilih teman untk pertimbangan.
    Kawan sejati seharusnya mnunjukkan mana yg terbaik untuk saya walaupun itu tak sesuai apa yang saya inginkan"
    mungkin bukan salah pilih teman tepatnya..kesalahan ada pada komunikasi/cara penyampaian kita terhadap suatu masalah yang perlu pertimbanngan tersebut..yang kurang pas dan tepat penyampaiannya hingga ternyata teman kita menyangka bahwa obrolan tersebut cuma sekedar obrolan biasa tanpa perlu masukan dan pertimbangan.
    sahabat harus berani menerima kritik dan masukan dari sahabatnya

    atleast...yakinlah bahwa kamu tak pernah sendiri..disaat kamu lupa karena kesibukanmu,,aku dan yang lain akan tetap ada untuk mendukung tiap kerja kerasmu..

    semoga dimanapun kita berada nantinya..pertemanan ini akan terus ada..kita akan saling mendukung..

    SEMANGAT DI BEM A KABINET GAHARU

    ReplyDelete
  4. commentku akeh banget ternyat..heheheh
    ..gawekne aku blog ae za..

    ReplyDelete
  5. Setelah saya menguraikan semuanya saya menjadi lebih tenang, tak ada lagi beban. Sedikit berpikir dewasa, hidup memang dipengaruhi bagaimana kita berkawan. Saya sadar kesalahan itu memang tidak sepenuhnya saya, tapi juga bukan berarti kalian. Kalian cukup andil dalam hidup saya, mempengaruhi keputusan-keputusan saya, itu berarti kalian memiliki pengaruh bagi saya. Meski begitu keputusan akhir tetap ada di saya.

    Liburan ini, saya juga tak menyangka kalau tak berjalan sesuai rencana. Tak pulang memang sepertinya hampa,, tapi kita masih berencana lain yang semoga tak kalah indahnya dengan rencana saat itu. Hmm..jalan-jalan ke kota tua bersama si kembar Ana-Ulya dan Sindra,, sepertinya akan seru.

    ****Sepertinya dirimu juga berbakat untuk mengikuti jejakku menulis di blog. Ayolah!! Sebelum idemu dibajak orang lain!! Liburan ini saya banyak jadwal kosong, kapan ajha kalau mau bikin blog, nti saya bantu.

    ReplyDelete

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA