Survey dan Analisis Tanaman

Monday, August 30, 2010

12 Juli 2010

Pagi ini selepas sholat subuh dan langit sudah tak begitu gelap lagi, kami beranjak keluar rumah menyusuri rumah-rumah penduduk, kebun maupun lapangan. Kami memetik daun-daun yang kami anggap tanaman obat, menebak namanya kalau sudah tahu, dan membawa brangkasannya pulang untuk analisis lebih lanjut kalau kami tak mengetahui namanya.

Niatnya menyusuri jalan yang tak pernah kami lewati karena yakin bakal ada jalan balik. Ternyata perkiraan kami meleset semua. Semakin jauh saja kami melangkah. Tapi pemandangannya bagus sekali di sini. Seperti lukisan pegunungan saja.

Wah, tanaman obat yang dikumpulkan di tas kresek yang ku bawa sudah melebihi kuota. Banyak sekali, bagaimana menganalisanya ya? Pertanyaannya salah, bukan bagaimana tapi kapan mau nganalisisnya. Tapi, pertanyaan itu seolah-olah terlalu sibuk saja sampai tak punya waktu untuk nganalisis tanaman. Hmm..mau atau tidak sih nganalisis tanaman?

Memang yang jadi problem, rencana selalu tak indah saat pelaksanaannya karena banyak banget godaaannya. Nyampe rumah, belon tentu daun-daun yang sudah kita petik tadi bener-bener kita analisis. Itu terjadi karena niat yang kurang tertanam. Ho..ho…kenapa jadi cerita yang seperti ini??

Aku dan Fatma sedang menganalisis daun, dan tiba-tiba anak-anak SMP datang ke rumah kami minta tolong dibuatkan mahkota dan selempang untuk Ospek alias MOS SMP. Bagaimanapun juga keberadaan kami di sini adalah untuk berbaur, melebur dengan masyarakat ini. Akhirnya kami menunda analisis tanaman obatnya, dan membantu mereka (lebih tepat jika dibilang membuatkan) membuat mahkota dan selempang. Aku tak begitu ahli dalam hal seperti ini, jadi Fatma yang lebih terlibat langsung. Menggambar desainnya, sedangkan aku hanya menjiplak, mengukur kertas dan menggunting. Awalnya hanya dua orang saja yang datang minta tolong, lama kelamaan terus bertambah. Rumah ini jadi berasa lebih ramai daripada biasanya. Tapi aku senang, setidaknya kedatangan kami di sini memberi manfaat untuk mereka.

Melihat waktu yang masih memungkinkan, kami sepakat untuk menjalankan rencana yang sempat beberapa kali tertunda. Setelah menyiapkan apa yang harus dibawa, kami bergegas berangkat ke saung Pak Bakri. Ternyata Pak Bakri juga ada disana, kami menawari bapak untuk ikut makan bersama kami. Tapi bapak menolak. Kami makan malam (tapi dilaksanakan sore hari, ceritanya)di saung bapak. Memang nikmat sekali rasanya, karena sekeliling saung adalah kebun-kebun tanaman obat bapak yang terhampar luas. Di depan Saung yang kami tempati, ada beberapa empang dengan banyak ikan (tapi aku tak pernah tahu apa ikan yang ada, karena aku tak begitu tertarik dengan ikan). Di sebelah Barat (kalau langit cerah) akan tampak bukit-bukit nan indah. Makan dengan lauk telor dadar, ikan asin, dan sambel terasi beralaskan daun pisang,…nasinya masih hangat pula dan pas (tak terlalu lembek ataupun keras). “Hmmm….lezatnya…”.

Setelah makan, kami ngobrol-ngobrol sebentar dengan bapak tentang rencana mau buka lahan untuk kebun contoh tanaman obat. Semoga esok terlaksana dengan baik. Amin…

Kami pulang melewati kebun, dan mampir dulu untuk jajan makan kecil. Dasar, sifat kekanakan tak hilang juga yah…. Habis makan nasi, masih pula beli jajanan. Apalagi Agustin itu tak pernah bisa sehari saja tanpa minum es.

You Might Also Like

0 comments

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA