setitik Bagian dari KONTRIBUSI

Saturday, August 07, 2010

Awalnya aku tak terima saat aku dimasukkan dalam anggota divisi kestari alias kesekretariatan MPF, karena aku sudah merencanakan untuk ikut IPB go Field. Tapi, aku tak bisa berbuat apa-apa karena aku tau ini tetaplah sebuah amanah, aku akan kecewa apabila mengetahui orang lain tidak amanah dengan apa yang sudah ia sanggupi, maka aku berusaha menjalankannya sesuai kapabilitasku walaupun aku tak terlalu menyukai tugas itu. Mungkin BPH telah mempercayakan tugas itu padaku karena melihat kinerjaku selama di BEM, dan aku tak mau membuat kepercayaan yang telah diberikan kepadaku menjadi tercemar hanya karena aku tak menjalankan amanah dengan baik.
Kestari, mau tak mau tugasku adalah ketik-mengetik dengan komputer, padahal aku tak punya sarana yang menunjang. Aku tak mau menyerah pada keterbatasan alat, toh manusia zaman dahulu bisa hidup tanpa alat seperti zaman modern ini. Aku tahu aku takkan banyak berkontribusi setelah UAS, maka sebelum UAS dan sebelum Go Field aku maksimalkan tugasku sebagai kestari dengan membuat database dan absensi paniti, disusul menggantikan tugas kadivku yang sedang pulang karena acara keluarga.
Dan go Field adalah puncaknya, tatkala aku meninggalkan kadivku sendirian di Bogor. Sampai suatu malam aku mendapat informasi tentang Auditorium Thoyib Hadiwijaya yang telah di booking oleh Fakultas lain. hm.....
Setelah Go Field aku langsung tancap gas lagi, kembali menunaikan tugasku yang sempat tertunda. Aku tahu, ini sebuah tanggung jawab dan aku tak bisa lari darinya. Surprise bagiku ketika panitia MPF ternyata sangat jauh perkembangannya, dan aku tak boleh kalah. Aku harus maksimal di hari-hari akhir persiapanku menuju MPF tanggal 5,6,7 Agustus. Di sisi lain aku juga menjadi Penanggung jawab kelompok alias PJK di MPD, harus meluangkan waktuku yang ada untuk mengumpulkan mereka mengerjakan penugasan yang diberikan. Di sini, aku merasa keterampilanku membagi waktu di uji.
Menemui Pak Aris Munandar, selaku Wakil Dekan Faperta untuk sekedar minta tandatangan untuk keperluan sertifikat maupun surat-surat keluar. Hm..pengalaman jadi pencari tandatangan orang penting, segitu tak pernah terlupakan.
Satu peristiwa yang sangat berarti bagiku adalah tatkala kasus pelataran gladiator yang terserobot begitu saja oleh Fakultas lain, MPF jadi bertempat di pelataran samping GWW dan masih bermasalah dengan perizinan penggunaan tempat. Bh..aku bolak-balik ngprint surat karena direvisi beberapa kali.. Dan puncaknya adalah aku dan Kade menemui Pak Aris di Ruang Sidang Faperta untuk meminta tandatangan beliau padahal di dalam sedang berlangsung rapat pimpinan. Pak Aris sudah mempersilakan kami masuk, dengan ragu-ragu aku membuka pintu ruang sidang sambil mengucapkan salam. Pak Didy Sopandie, Dekanku sangat terkejut melihat kehadiran kami. Ditambah kami disuruh keluar oleh Ketua Departemen yang tatkala itu sedang berkumpul juga, dan Pak Aris dengan rendah hatinya menyelamatkan kami dari peristiwa itu. "Maaf, ini mahasiswa mau minta tandatangan saya", begitu kata beliau. Alhamdulillah...
Ini sungguh tak terlupakan, dan aku sangat berterimakasih atas kebaikan Pak Aris yang mempermudah proses tandatangan, sehingga Edu bisa langsung mengurus kejelasan tempat di pelataran belakang GWW ke pihak direktorat Faspro Rektorat.
Peristiwa selanjutnya yang tak kalah membuat heboh adalah penandatanganan SPJ, tidak boleh keluar garis. Aku tak tau, apa segitu sulitnya anak-anak mendengarkan perintah, sehingga kesalahan terjadi berulang kali dan harus mengulang tandatangan lagi dari awal. Sedangkan aku, Kade, Hardian dan May harus bolak-balik naik turun sekretarian BEM untuk mengeprint ulang SPJ tersebut.
Smangat!! Perjuangan tidak hanya sampai disini, dan itu akan membuatku semakin mengerti banyak hal yang kumengerti sebelumnya.

You Might Also Like

0 comments

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA