Pola Pikir Pedagang dan Intelek

Friday, August 27, 2010

6 Juli 2010

Alarm HP-ku telah berbunyi pukul empat, beberapa saat setelah ku terbangun. Karena tak ada air di kamar mandi untuk berwudlu, kembali ku tidur. Mau keluar menimba air di sumur, tapi langit masih terlalu gelap dan sedikit menyisakan rasa takut. Baru kemudian setelah pukul 5, kami keluar berwudlu di sumur tetangga (sumur belakang rumah yang kami tempati belum dipasang timbanya). Kami sholat berjama’ah, dan ku selesaikan bacaan qur’an 2 halaman (Qur’an yang ku baca adalah Qur’an ayat pojok, sehingga q sering menggunakan halaman sebagai batas akhirku membaca) disambung dengan bacaan ma’tsurat.

Aktivitas selanjutnya adalah mandi pagi. Kami bertujuh, dan membutuhkan waktu cukup lama untuk menunggu antrean. Maka aku memulainya segera setelah menyelesaikan rutinitas shubuh-q agar yang paling akhir mandi tidak terlalu siang mandinya. “Tak ada yang gratis di dunia ini”, mungkin agak kurang tepat..tapi bisa menggambarkan-lah kondisi kami disana. (he..he…). Sebelum mandi, ya kudu nimba air dulu. Bukan sepele sih, karena setelah nimbi mesthi ngangkut dulu pake ember dibawa ke kamar mandi. Dan tak cukup sekali, dua kali nimba, meski berkali-kali. Sekali angkut ember, minimal 2-3 kali nimba. Padahal untuk mandi saja, butuh minimal 2 ember. Jadi, sekali mandi (tanpa mencuci) butuh 5-6 kali nimba.

Rencana hari ini adalah jalan-jalan, mencari suasana baru. Hmm..inilah yang ku inginkan (seperti tak pernah melihat hamparan tanaman menghijau saja diriku ini). Setelah meminjam gembok untuk mengunci pintu rumah, kami bertujuh segera bergegas keluar rumah. Agak kesiangan memang, untuk jalan-jalan seperti ini lebih baik berangkat pukul 06.00-07.00 pagi. Ini,..jam 10.00 baru berangkat. Bagaimana tak kepanasan, sedangkan sinar matahari sudah mulai menyengat kulit.

Menuju kebun karet, dan sebagian dari kami mengeluh kepanasan tak mau melanjutkan perjalanan (padahal aku masih ingin berjalan jauh, penasaran dengan apa saja yang ada disana). Berdirilah kami di samping pagar kebun milik orang (yang ku ketahui kemudian kalau dikebun itu ditanami lengkuas. Aku orang yang parah, hampir tak bisa membedakan daun semua jenis empon-empon). Tak lama kemudian, lewatlah mobil gundul di depan kami. Kami pulang dengan menumpang mobil tersebut. Dan ah..,,kapan lagi kami merasakan yang seperti ini? Akan sangat memalukan memberhentikan mobil di tengah jalan hanya untuk menumpang. Iya kan? Tapi itu tak berlaku di desa dengan sarana transportasi susah seperti ini.

Aku, Dian, Fatma, Yuli dan Rahma masih penasaran dengan daerah dengan lokasi berlawanan dari yang telah kami lalui tadi. Kami melanjutkan perjalanan sementara Sri dan Agustina kembali ke rumah tempat tinggal sementara kami. Perbedaan menonjol, di daerah ini sepanjang kanan-kiri jalan terbentang tanaman singkong. Setelah capai, kami istirahat dan menikmati es doger yang kami beli sambil mengobrol.

Tidur siang yang sangat nyenyak. Dan aku terbangun tatkala si ibu datang mengantar makan siang. Alamak…….knapa menunya jadi daging?? Bikin uang kami tambah keropos saja untuk bertahan hidup sebulan kedepan. Ya sudah, pokoknya malam ni harus ada keputusan untuk masa depan kami selanjutnya.

Ba’da dzuhur, kami bertujuh turut serta ibu tetangga sebelah (namanya Bi Nyai) ke kebun membantu memetik cabai. Rame euy!! Serunya berkebun dengan anak-anak kecil. Bi Nyai member kami beberapa cabai hasil petikan kami, singkong, daun singkong, dan labu air. (Jujur, aku baru lihat yang namanya labu air di sini. He..he..)

Sholat Ashar, dilanjutkan dengan main bekel dengan anak-anak. Ceritanya in memorial masa kecil gitu dech!! He..he.. ternyata kemampuanku main bekel masih seperti dulu, belum luntur. Bhh…bergaya amat sich!!

Rencana sich kami mau mengembalikan gembok ke rumah Pak Bakri, trus kami mau ngobrol-ngobrol. Tapi Bapak ternyata masih capai selepas memasok barang ke pasar. Ya sudahlah, kami terima tawaran untuk kembali selepas maghrib.

Kencur baik ditanam di tanah merah. Hmm..aku menyangka tanah di sini mengandung sedikit liat, karena sekali injak langsung amblas dan yang terpenting kalau basah, ada rasa lengketnya. Kenapa petani tak mau memakai benih walaupun sudah tersertifikasi dan terjamin baik? Ya..kalau mereka bias memperbanyak sendiri dan hasilnya jauh lebih baik, tentunya mereka lebih memilih memperbanyak sendiri dunk.. bagi mereka ini akan menghemat beaya, ketimbang harus beli merk ternama tetapi pada waktu ditanam masih tergantung juga dengan factor lingkungan. (Wah, ilmu benih dan PMT-ku mulai keluar! He..he..). yah bolehlah dibantah dengan argumentasi ilmiah apapun. Dan menurutku, ini adalah tantangan untuk orang-orang teknologi benih ke depan. Memproduksi benih berkualitas saja tidak cukup, jika tidak mampu menjelaskan kepada para petani pentingnya benih bermutu itu.

Yang banyak dilirik pengusaha itu “hal yang member keuntungan besar”! kalau misalnya jahe emprit harganya jatuh, maka ya masih lebih baik menanam jahe gajah yang bias laku keras dan harganya mahal. Padahal dari segi kualitas, jahe emprit jauh lebih baik daripada jahe gajah. Jahe gajah kalau dibuat minuman, akan menimbulkan rasa pahit.

Dari begitu panjang penjelasan yang diberikan bapak, kurang lebih aku menangkap poin-poin seperti itu. Aku tak yakin yang lain bias menyerap apa yang sudah dijelaskan bapak. Dengan kondisi kami yang sudah muali kantuk seperti ini, dan nyamuk yang sungguh kurangajar mengganggu konsentrasi kami menyimak penjelasan bapak. Tapi aku yakin, dari sedikit penjelasan yang kutangkap, suatu saat pasti akan bermanfaat.

You Might Also Like

0 comments

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA