“Kacang tanah, tumpang sari dengan Lengkuas”

Friday, August 27, 2010

08 Juli 2010

Pagiku cerahku matahari bersinar

Alarm Rahma yang khas dengan lagu acehnya menggemparkan. Membuatku terbangun dan tak bias memejamkan mata lagi. Baguslah kalau begitu. Tak ada kata tidur pagi selepas sholat subuh (itu kebiasaan buruk yang menyesatkan!!).

Kepengin rasanya telepon abah, umi atau bahkan adikku karena sudah lama tak ku telepon. Tapi aku belum siap menceritakan apa yang kualami sekarang. Karena aku tahu, aku hanya kan ditertawakan mereka jika ku ceritakan ini. Hidup mereka dulu jauh lebih susah daripada ini. Ibuku harus menimba tiap sebelum mandi, karena memang belum ada mesin air waktu itu. Ayahku pun demikian, bahkan jika musim kemarau harus mandi di sungai. Bukankah yang kurasakan ini belum seberapa?

Setelah mandi pagi dan mencuci baju kotor, aku langsung menghangatkan Sop dan menggoreng tahu. Sudah tak tahan rupanya perutku ini.. dan kemudian kami makan bersama. Apapun yang dimakan bersama-sama, akan terasa lebih baik..

Kami ke kebun bapak, menanam kacang tanah tumapng sari dengan lengkuas. Pegawai bapak yang bikin lubang tanam, kami yang memasukkan kacang yang telah dicampur furadan. Angin sepoi berhembus, uh..sejuknya. disebelah barat samar-samar tampak berderet-deret bukit. Feel-ku mengatakan kalau sesaat lagi akan turun hujan. Langit yang tak cerah, dan angin yang membawa uap air.

Kami asyik melakukannya. Bagiku, ini adalah dasgron kedua. He..he.. menjatuhkan kacang tanah, lalu menutup lubangnya dengan kaki. Tak jarang kami berebut tempat, kerja kami jauh lebih cepat dari pagawai bapak yang hanya bertiga menggali lubang tanam. Tentu saja, dari segi sumberdaya kami jauh lebih banyak, dari segi pekerjaan kami jauh lebih mudah. Menikmati saat-saat bercanda, tertawa, dsb.

Benar dugaanku, tak beberapa lama hujan mulai rintik-rinrik turun. Kami bergegas berkumpul di saung untuk berteduh. Dan Pak Bakri menyuruh kami mencuci tangan di Kobak dan istirahat di saung yang jauh lebih nyaman. Setelah hujan agak reda, kami menuju kobak. Wah,, benar-benar indah. Bapak punya banyak empang, dan dipinggir empang itulah berdiri saung yang nyaman. Setelah mencuci tangan, kami istirahat sebentar di saung sebelum akhirnya pulang.

Menuju jalan pulang, kami melewati hamparan kebun kencur. Agak menanjak memang jalannya. Dan kalau kami menoleh ke belakang, hamparan empang yang kami saksikan dari saung tadi terlihat begitu menawan. Pemandangan disini sungguh luar biasa! Kebun kencur yang kami lewati ini sepertinya bekas ditumbuhi bamboo, banyak batang-batangnya yag masih terlihat. Dan jauh di depan kami, berdiri saung lagi. Bahkan ada seperti villa di atas empang. Wah, lucunya…

Sampai dirumah aku langsung memetik daun singkong, memisahkan dari batangnya. Memcuci, memotong-motong lalu kemudian bersama yulia aku memasak oseng-oseng daun singkong. Rasanya aneh, agak sedikit pahit.

Tidur siang, aku sayp-sayup mendengar suara Yulia dan Agustina yang menghitung mundur berapa jam lagi mereka akan kembali menimba. “dua jam lagi”,…”satu jam lima belas menit lagi”.. “sudahlah, tidur dulu. Jangan pikirkan apa yang membebani kita”. Walaupun aku juga tak bias menahan tertawa mendengar keluhan mereka.

Selepas mandi sore, aku dan Rahma masak omlet. Alhamdulillah Bi Nyai kasih kami oseng-oseng kacang panjang. Memang benar, rezeki terkadang datang dari arah yang tidak terduga. Kami mulai makan malam, sepiring berdua. Aku dengan Rahma, Yulia dengan Rahma, Sri dengan Agustina, dan dian sendiri. Aku tak membayangkan ketika kami berpisah nanti, karena hamper setiap kegiatan kami lakukan bersama-sama.

You Might Also Like

0 comments

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA