Gobang dan Rajaban

Friday, August 27, 2010

7 Juli 2010

Alhamdulillah atas segala nikmat dan karunia yang telah Kau limpahkan kepada kami, hamba-Mu yang hanya mampu memohon.

Masih seperti kemaren, bangun tidur langsung menuju sumur untuk berwudlu dan melakukan rutinitas subuh-ku. Selepas itu, saatnya mencuci baju. Sudah dua hari, biar tak menumpuk baju kotorku. Lama tak menimba di rumah, semenjak rumahku di pasang mesin air, tiba-tiba menimba segitu banyak.. tanganku mulai terasa pegal-pegal juga. Ah,..sudahlah! tak usah terlalu dijadikan beban. Karena masih lama ku disini,.. enjoy ajha!! Lambat laun, suatu saat, tak bias dipungkiri pasti aku akan merasakan hal ini juga. Syukuri saja sampai hari ini masih dapat menghirup udara segar tanpa halangan apapun.

Jam 08.00, aku, yulia dan fatma ikut Bi Nyai ke pasar “Gobang”. Cukup jauh kami harus berjalan untuk mencapai jalan utama. Sepanjang jalan yang kami lalui, sungguh hamparan hutan karet terlihat sangat luasnya. Diselingi kebun-kebun lengkuas, sehingga pemandangan itu terasa tak monoton. Di balik hamparan karet, terlihat bukit-bukit nan indah. Hmm, pemandangan luar biasa. Tadi pagi buta hujan deras mengguyur, sehingga jalanan yang kami lalui sangat licin. Tanah-tanah itu dengan tak tahu diri terus saja menempel di bawah sandal-ku, membuat langkahku semakin terasa berat saja.

Sampai di ujung jalan utama, mobil “Cary” sudah menunggu. Wah..keren sekali angkutan umum disini ya? Ha..ha..ha..

Kami belanja keperluan memasak beberapa hari kedepan. Mondar-mandir mencari bahan yang kami butuhkan. Ternyata, cukup banyak juga pengeluaran kita hari ini ya?? Tapi setidaknya bias menekan kebutuhan makan kami beberapa hari ke depan.

Kami pulang dibonceng tetangga yang kebetulan juga sedang berbelanja. Dan ini kali pertama merasakan dibonceng melewati jalan yang track-nya luar biasa mengerikan. Hi!!

Selepas menghitung jumlah pengeluaran kami disesuaikan dengan uang yang tersisa, aku, yilia dan fatma lantas segera memasak. (kami mendapat pinjaman magic com, seperangkat alat makan, gelas dan dandang dari bi Nyai. Ada tetangga lain yang meminjamkan kami kompor gas beserta tabungnya, jadi kami tinggal membeli isi ulangnya saja.) Menu hari ini adalah sop dengan lauk tempe goreng. Walaupun tak seenak masakan di rumah, tapi Alhamdulillah untuk makanan yang bias kami nikmati hari ini.

Sore harinya Pak Bakri datang bersama samsul, anaknya memasang timba di sumur belakang rumah kami. Mulailah kegiatan bersih-bersih dan menimba air untuk mandi. Lumayanlah sedikit mengurangi rasa capek, karena tak harus mengangkut air dari luar untuk mandi, etc.

Ada hal kocak yang menurutku aneh juga. Ini berkaitan dengan “shock terapi II” kemaren, dan dampaknya masih terasa sampai sekarang. Tak seorangpun dari kami mau jadi yang pertama buang hajta. Ha..ha..ha.. mau ditunggu sampai kapan pun, pasti akan tiba juga saatnya. Kenapa harus menunggu “the first personnya”??

Malam ini, di desa ada Rajaban. Dan kami disuruh Pak Bakri untuk turut menghadirinya. Kami dipersilakan duduk didepan rumah warga, duduk disofa (yang meskipun tak begitu bagus), sedangkan warga yang lain duduk di karpet yang digelar di depan mushola. Hmm,,kenapa kami mesti diistimewakan? Akhirnya kami turun, duduk bersama warga mendengarkan ceramah sambil menikmati snack ringan yang dihidangkan.

Cowok-cowok itu selalu kurang kerjaan benar. Malakukan hal yang membuat kami tak nyaman. Memang tak ada bedanya cowok kota ataupun desa. Hanya pendidikan yang matang dan akhlak yang tertanam yang akan menjadi benteng diri.

You Might Also Like

0 comments

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA