“Foto Bayangan”

Friday, August 27, 2010

10 Juli 2010

Akhir-akhir ini selalu berasa dingin tiap kali bangun tidur. Pertanda tak baik nih kalau menuruti kedinginan terus. Bakal tak mandi, dan yang jelas tak kan beraktivitas seharian. Harus memaksa diri untuk bergegas air wudlu tatkala bangun tidur, agar tak berlarut-larut dalam kedinginan.

Rencana hari ini beli nasi uduk, makan dan pergi ke pasar Gobang. Sepertinya tak usah mandi dulu, jalanan becek sekali dan aku yakin kakiku akan kotor sekali hari ini. Aku, Rahma, Yulia dan Fatma pergi ke pasar berempat. Jalanan lengket-lengket, kebanyakan tanah liat bercampur debu nih!! Lengket plus licin di kaki. Bikin sandal “high heel” alias “naik pangkat” saja. Kita agak amnesia, lupa jalan. Dan akhirnya kami sempat berputar-putar.

Luar biasa perjuangan untuk menuju jalan utama dan naik angkot. Baru di sekitar pemukiman warga saja sudah becek bukan main. Melewati lapangan bola yang biasa di pakai anak laki-laki tiap sore, hamparan kebon lengkuas, dan tiba saatnya kami harus menyeberang jembatan. Dan inilah tempat terparah beceknya dan licin g ketulungan. Bh..

Sebenarnya jembatannya sih biasa saja dan tak befitu menyeramkan, tapi entah kenapa aku selalu berjalan sangat lambat ketika melewati jembatan ini. Dan aku jadi bahan tertawaan kawan-kawan yang lain. Setelah melewati jembatan, kami mulai melewati jalan setapak yang luar biasa ekstrim untuk pengendara motor pemula. Jalan ini tak terlalu licin, dan aku sangat menikmati segarnya udara pagi tatkala melewati hutan karet ini. Kami berjalan, dan melihat bayangan jatuh tepat di bawah kami dan terlihat begitu menarik. Seperti foto di tepi pantai, jadi kami sempatkanlah foto bayangan disini.

Kami melanjutkan perjalanan ke jalan utama, dan disana telah menunggu mobil carry berwarna merah yang siap mengantarkan akmi ke pasar Gobang. Masih sempat narsis pula kami di dalam mobil, berfoto ria. Dasar!!

Belanja agak banyakan agar awet kurang lebih untuk seminggu ke depan. Akan lebih baik, karena ongkos ke pasar juga sangat mahal. Beras 10 liter yang harga per liternya 4200, telur 1 kg Rp 15.000, cabe keriting, ikan asin, tahu, tempe, aqua gelas 2 kardus. Oke..sip!! besok-besok tinggal beli saja sayur di tempat Ibu Ira.

Pulangnya fatma naik ojek dan membawa belanjaan yang ekstra banyak. Aku, Yulia dan Rahma berjalan ke pintu depan pasar untuk naik angkot kembali. Aku, selalu dapat bagian pembawa telor tiap kali pulang dari pasar. Dan memang, aku jarangmemecahkan telor sampai rumah. He..he..

Turun dari angkot kami kembali jalan melewati hamparan hutan karet. Kami berjalan santai, tanah sudah tak sebecek tadi pagi dan rasanya enjoy berjalan sambil ngobrol. Tiba-tiba ada laki-laki dewasa lagi ngomong sendiri. Yulia bilang “mungkin lagi telepon”. Dan kami masih berjalan tenang. Beberapa saat kemudian dia sudah nyanyi-nyanyi tak karuan, kontan kami bertiga saling berpandangan. Dan kami mempercepat langkah kami. Di tengah hutan seperti ini, hi..mengerikan. jalan kami yang tadinya santai jadi ngos-ngosan. Sandal naik pangkat pula, menambah beban perjalanan ini.

Kami agak lega setelah melewati jembatan, bapak itu tak lagi bejalan dibelakang kami. Dan kami mulai santai lagi berjalan.

Sampai di rumah, fatma sudah membuat teh hangat. Sedikit teh cukup melegakan. Kusempatkan memenuhi diary-ku lagi sampai akhirnya aku tertidur.

Segera setelah sholat dhuhur, aku membantu Yulia memasak di dapur. (sebenarnya bukan dapur, tapi kamar tidur yang untuk sementara ini kami sulap menjadi dapur). Mungkin aku lebih pas di cap sebagai “ahli memotong dan membagi lauk” dan “juru masak nasi” karena aku sering menyela orang yang ada di kamar mandi untuk minta air buat masak. Tapi semua maklum kok, sebab kalau tak, mereka tak akan masak. (waduh..bergaya lagi nih bicaranya)

Hari ini aku agak sensi. Entah aku sendiri, atau yang lain juga merasakannya ya.. aku merasa kok ada yang tiap harinya enak-enakan Cuma makan dan tidur. Kalau kami ke pasar, dia enak-enakan tidur. Padahal ke pasar itu luar biasa capeknya. Kalau kami masak, dia enak-enakan main HP sambil tiduran di atas bantal yang empuk. Udah gitu, saking pengiritannya kami hari ini tak diberi ongkos angkot ke pasar sehingga kami merogoh kocek sendiri. Ah..ogah gw ke pasar lagi klo bgitu. Udah capek di badan, ngluarin ongkos pula. Nyampe rumah langsung kerja lagi, dan yang paling menyesakkan adalah harus menyaksikan dia bersantai di saat kami bekerja. Emang disini kami babu dia yang harus melayani dia? Kurang ajar tuh orang.

You Might Also Like

0 comments

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA