“Buka Lahan” session II

Monday, August 30, 2010

14 Juli 2010

What happen this day? The day’s of “nyabit”, he..he…

Lumayan melelahkan hari ini. Sebenarnya aku sudah bangun jam 4 pagi, dan dingin sekali rasanya. Pengin sekali buru-buru wudlu, masih ada waktu untuk sholat malam atau seenggaknya dapet sholat witir. Sayangnya…,aku lagi tak sholat.

Setelah anak-anak yang lain selesai sholat, Yilia masak air dan aku stanf by ambil pop mie dan menyeduh teh. Kita makan mie dengan teh hangat. Cukup mengusir rasa dingin, walaupun tak cukup mengenyangkan. Setidaknya sudah member sedikit tenaga untuk bekerja ekstra keras lagi hari ini. Selamat berjuang kawan!

Agak BT tiap kali harus bertngkar masalah tugas rumah tangga (tugas masak, nimbi dank e pasar). Apa iya harus setiap hari bertengkar? Toh kami sudah sama-sama dewasa, seharusnya saling mengerti apa kebutuhan kami. Bukan egois, merasa sangat rugi kalau melakukan hal sedikit untuk kebutuhan bersama. Kita hidup bersama, setidaknya saling melengkapi. Tak bisa masak bukanlah masalah besar bagiku, toh masih ada aku dan Yulia yang bisa memasak. Tapi, aku hanya minta pengertian bahwa kalaupun kami sedang memasak dan minta tolong berbagai hal harap di maklumi.

Seperti janji kami berempat kemaren, kami tak akan ke pasar hari ini. Aku ingin tahu bagaimana kalau dia yang ke pasar, apakah mampu mendapatkan barang yang bagus dengan harga miring?

Puncak rasa jengkel kami berlarut-larut hingga kami kembali membabat rumput di lahan depan rumah pak Bakri. Biarlah, daripada kami terlalu lama memendam rasa ketidaksukaan kami atas tingkah lakunya yang bergaya seperti Bos.

Adik kecil yang lucu itu pemalu banget ternyata. Hm..kemaren dia teriak “prikitiuw” berkali-kali. Trus waktu nongol dari pagar rumah, kalau aku sapa “adek,..namanya siapa?” adeknya langsung lari balik ke rumah. Keluar lagi, masuk lagi… hm,, lucu juga tuh anak.

Habis nyabitin rumput, kita balikin alat dan bilang ke ibu mau minta daun singkong. Trus ibu ikut ke empang ngambil daun singkong. Alamak…yakin aku g akan melupakan peristiwa ini. “itu dek ada daun singkongnya’. Rahma langsung metik, aku dan Yulia langsung menghambur metik daun singkong di sisi lain. “lho dek, itu mau diapain?”. Kami berempat mukanya setengah pucat, takut salah mengambil yang harusnya tak boleh diambil. “mau disayur bu”, jawab fatma sekenanya. Si ibu ketawa, si Rahma (dengan tanpa rasa bersalahnya juga ikutan ketawa. “itu daun tua dek..”. “ngambil ma daun yang masih dipucuk, yang masih muda”. Grr…kami pun langsung ketawa semuanya. Wk..wk..wwk…,,aku tak akan melupakan hal memalukan ini. Memetik daun singkong dengan cara yang baik dan benar.

Lalu kita turun untuk memetik adun singkong lebih banyak, karena daun singkong yang kita petik tadi sudah habis. Aku mulai curiga waktu Rahma perlahan-lahan mulai menghentikan langkahnya. Pak Bakri sudah teriak “Awas, jangan turun. Ada yang mandi!” ih..lagi asyik-asyik menikmati pemandangan gunung, terganggu dech!

Ibu cerita orang yang mandi itu g waras. Belum mampu tapi udah nyoba nolongin orang, karena g sanggup ya santetnya malah kena dirinya sendiri. Pernah di obtain karena itu, tapi setelah sembuh malah marah-marah. Malah kata ibu juga pernah mati suri. Hm,,ini kan orang yang jalan di belakang kami sewaktu kami pulang dari pasar melewati kebun karet itu.

Kami pamit pulang karena merasa sayur yang sudah kami petik cukup untuk dimasak. Lewat kebun, dan jajan di warung. Dian dan Agustin sudah pulang dari pasar dan langsung bergabung, kemudian Sri datang. Kami menghabiskan jajanan di warung tersebut.

Nimba air bareng Yulia. Aku yang nimba dan Yulia yang nuangin ke dalam bak. Tapi kemudian kami hentikan karena ada anjing yang tiba-tiba nongol.

Masak lagi, dan lagi-lagi aku dan Yulia. Dari ngiris bawang merah, bawang putih, dll. Nyuci telur dan dipisahin dari yang pecah. Lumayan, 1 hancur dan 1 retak. Yang retak masih bisa diselamatkan. Merebus daun singkong, lalu diperas. Goreng tahu dan tempe untuk dimasak balado, tiba-tiba bu Leli dan temannya dating. Walah..walah..,,kita gempar lagi. Kita ngobrol tentang rencana program kita.

Masak lagi, nyuci piring, makan siang bersama-sama. Alhamdulillah, lezat. Nimbi, luar biasa capek. Mandi keramas, nyuci. Setelah badan kembali segar, aku ikut ke kebon wt nggali singkong. Aku, Fatma, Rahma dan Yulia. Sebelumnya kami mampir ke rumah Bi nyai dulu, karena kami denger kabar kalau kaki anaknya yang paling kecil tersiram air panas.

Ngambilnya euy..goyang kanan, goyang kiri, kekanan lagi, dank e kiri lagi. Setelah agak ringan, tarik sekuat-kuatnya. Wk..wkk..wk.. untung g jatuh ke belakang. Setelah yakin tak ada satupun umbi yang tertinggal, kita foto-foto.

Jam 16.00 kami menuju ke rumah pak RT dan pak RW. Di rumah pak RT, responnya agak garing juga sich.. kemudian kita lanjutkan ke rumah Pak RW. Ya ampun…,rumahnya ditengah-tengah hutan. Serem nih klo gelap. Kami ngobrol-ngobrol sebentar, alamak…pake bahasa sunda pula. G ngerti aku, paling ngerti tapi dikit banget.

Yang aku tangkep sich, suruh waspada dengan ular tanah alias ular “derik” coz klo kena mematikan. Jadi tegang,, ya iyalah sekali gigit langsung berdarah-darah. Kan serem jadinya.,,

You Might Also Like

0 comments

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA