“Buka Lahan” session 1

Monday, August 30, 2010

“Seindah apapun rencana kita, rencana Tuhan untuk kita jauh lebih indah”

Apapun yang kita alami sekarang, sungguh hanya akan terjadi atas kehendak Alloh SWT. Walaupun aku sangat memimpikan kota-kota di Jerman yang begitu indahnya, tapi aku tak mau men-judge Indonesia, membanding-bandingkan dengan Negara lain sedangkan aku sendiri tak tau seperti apa indahnya negeriku ini.

Ketidaksukaan alias kesan negative selalu timbul di awal, shock-shock juga pada mental. Tapi sesungguhnya dibalik itu semua itu, keindahan alam desa ini sunnguh memiliki charisma tersendiri. Sungguh indah, tiada bandingnya. Dan menurutku terbilang istimewa, sebuah desa di tengah kebun karet. Pengalaman sebulan yang akan menjadi novel indah dalam hidupku. (Duh, yang suka sekali menulis…)

Pengalamanku memang masih dibilang sangat sedikit, tapi aku tidak pesimis karena usiaku yang masih terbilang muda dan energik. Aku akan terus menimba dan menimba pengalaman demi meningkatkan pengetahuanku. Keterbatasan bukanlah alas an untuk terus maju mencapai kesuksessan. Apa yang bisa dilakukan, dan apa yang menjadi semangat kami bocah-bocah yang tak tahu apa-apa, hanyalah mimpi yang mampu menggerakkan kami untuk meraihnya.

Modal nekat dan keberanian yang mengalir di darah-darah kami, merasuk dalam-dalam ke sumsum tulang kami. Menjiwai semangat hidup kami untuk terus berjuang. Berjuang dan teruslah berjuang! Karena inti dari kehidupan adalah perjuangan! Yang muda yang selalu bersemangat dan energik!

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Ayah Jupe (M Haikal Catur), kawan kami se-departemen (baca: jurusan) meninggal dunia. Semoga diberi kesabaran dan ketabahan bagi yang ditinggalkannya. Amin…

Pagi-pagi sekali aku bangun, wudlu dan sholat jama’ah bareng Dian (lagi-lagi aku yang jadi imam! Jadi juru imam lama-lama). Ngaji dulu, dan seperti kebiasaan harian tuk menulis buku harian. Tak lupa menjemur pakaian yang masih setengah kering (di sini, hanya dua hari saja aku bisa menjemur pakaian sehari langsung kering. Sisanya, butuh waktu minimal dua hari untuk mengeringkan baju). Ngobrol lagi dan ngobrol lagi, menurutku jauh lebih baik daripada tidur.

Ibu penjual nasi uduk datang. Hilang dech rasa kantukku, aku bergegas bangun dan membuka pintu yang masih di-slotkan. Beli nasi satu, 2 bala-bala. Kata Yulia (bala berarti “berantakan”, sayurnya campur aduk padahal kalau menurutku sebut saja bakwan).

Jam setengah 9 euy!! Mau berkebun,, aku sich takut orang mengira kita orang aneh. Umunya orang berkebun jam 06.00-07.00. inget!! Kebanyakan bindes itu gagal karena terlalu siang. Waktu 1 jam sangat berarti sekali untuk orang desa, karena mereka bisa melakukan apa saja. Dan kita semua memakai topi IPB Go Field 2010, kecuali Dian (habisnya, punya dia ketinggalan sih..). he..he.., ketimbang g pake sama sekali ntar di sangka orang aneh, tak berinisial. Kan tuh topi emang khusus buat go field, saying-sayang kalau g dipake. Tapi masih bisa kok dipake buat praktiku lapang,..

Kita ke rumah bapak dulu, pinjem alat-alat untuk ngebabat rumput di lahan depan rumah bapak. Ada 1 cangkul, 1 garpu, kored dan belati. Aku pegang cangkul dan mulai mencangkul dari sebelah barat, banyak batunya euy..jadi susah dicangkul. Dian yang parah, dia pegang garpu. Gmana kerjanya ya..,berat n ribet pula. Dan lumayan, tangan kananku sudah mulai kapalan lagi gara-gara megang kored (setelah beberapa minggu tak praktikum lapang). Tapi lumayan hebat pula, setengah lahan lumayan beres. Dan untuk pertama kalinya aku menemukan “patikan kebo” setelah beberapa hari berjalan di daerah sini tak kunjung menemukannya.

Ngos-ngosan…tapi ibu sudah menyiapkan air putih. Kami minu dan istirahat barang 5 menit. Setelah itu cuci tangan dan kaki di sumur, lalu jajan untuk sekedar mengisi perut. Beli es, kue bolu dan soba mie. Mumpung jajan masih g malu, biasanya kalau dirumah suruh jajanin Arini.

Nyampe rumah, cepat kali jajananku habis. Lalu aku tidur dengan pulasnya karena kecapekan (biasa, pekerja lapang sekalinya capek, pasti lama tidurnya. Itu adalah bagian dari adaptasi, suatu saat aku pasti terbiasa). Fatma, Yulia dan Agustin belanja sekalian beli bakso dan nugget goreng. Aku nitip sajalah.., ingin istirahat dulu. Ketika mereka datang aku langsung bangun. He..he..he..nafsu makan langsung kembali.

Mandi siang, dan langsut sholat dhuhur. Ngeliat orang enak sekali tidur, aku jadi ikutan tidur. Untung aku tak benar-benar tidur, karena tiba-tiba Pak Bakri datang ke rumah kami bersama Pak dodo dan Pak Yana. Aku langsung ngabur ke kamar, begitu juga yang lain. Malah ada yang sempat bawa bantal pula masuk ke dalam ruang barang-barang kita. Alamak…

Kami disuruh ganti pakaian dan ke rumah bapak. Nanti ngobrol-ngobrol di sana.

Lumayan,..dari obrolan kami dan sharing-sharing, kami mendapat support untuk program kami dan sedikit banyak memberikan suntikan semangat buat kami.

Ini hari yang memalukan.. aku beli tolak angin di warung (karena aku merasa badanku mulai tak enak), dan waktu jalan pulang aku tersandung hanger yang tergeletak di jalan. “aduw..”teriakku. aku diketawain ama anak yang disitu. “ati-ati neng kalau jalan’. Ih…parah!

Aku, Dian, Yulia dan Rahma makan nasi di rumah pake tempe orek. Cukup menambah tenaga, coz sedari siang kami belum makan. Dan rutinitas rumah tangga berlanjut,.. selesai mandi sore, aku bantu Yulia meracik bumbu dapur untuk masak Sop jamur tiram.

You Might Also Like

0 comments

El Haq Boutique

Instagram

ARINAL NURRAHMA