Friday, September 16, 2016

Menuju GWW dengan Toga Garis Dua

Ini adalah catatan step by step pengajuan SKL hingga daftar wisuda, karena agak riweuh dan belum ada yang bikin artikel-nya, jadi saya iseng-iseng aja nulis :D

Setelah sidang atau ujian tesis, segera kerjakan revisian hingga dosen pembimbing memberikan persetujuan untuk dicetak (hard cover). Sampai sini, jangan langsung dicetak. Perjuangan baru saja dimulai.
  1. Cek format ke SPS, wajib!!
    Bawa draft terakhir yang sudah di ACC dosen pembimbing (untuk dicetak) ke SPS supaya dicek formatnya oleh petugas. Ini penting! Jangan sampe bongkar tesis yang sudah di hard cover hanya karena format yang tidak sesuai. Nanti juga akan dikasih tau harus dijilid merah dengan pita warna sesuai fakultas masing-masing.
  2. Cek ke kaprodi.
    Nggak semuanya melewati prosedur ini, tapi untuk AGH sangat dianjurkan.
  3. Print dan hard cover.
    Umumnya untuk proses ini butuh waktu 1 hari full, perhitungkan ini juga dalam target daftar wisuda.
    Jumlah tesis harus diperbanyak untuk semua pembimbing, prodi, LSI dan pribadi. Kemarin saya cetak 6 eksemplar, print sendiri dan jilid hardcover @Rp 25000, sehingga kurang lebih butuh Rp 200.000 untuk perbanyakan (harga bisa lebih mahal atau murah, pintar-pintar cari celah aja hhehe).
  4. Minta tanda tangan pembimbing dan kaprodi di lembar pengesahan
    Ini juga harus meluangkan waktu lebih menyesuaikan kesibukan dosen. Kalau kemaren Alhamdulillah beruntung bisa selesai dalam 1 hari ;)
  5. Pengajuan SKL dan minta tandatangan dekan untuk pengesahan tesis
    Ini bisa dilakukan bersamaan. Jangan lupa download form pengajuan SKL di web pasca.ipb.ac.id untuk diisi dan dibawa saat pengajuan. Syarat pengajuan SKL adalah fotokopi ijazah S1, draft jurnal, bukti kemajuan jurnal (untuk S2 harus sudah sampai in review untuk jurnal internasional terindeks scopus, kalau belum, nanti proses keluarnya SKL akan tertunda). 
    Proses pengajuan SKL adalah 14 Hari Kerja (2 minggu lebih, secara real-nya) jadi harap bersabar walaupun kuota wisuda terus meroket ekstrim hhehe... Untuk pengesahan tesis sendiri biasanya selesai lebih awal dibandingkan SKL. Rajin-rajin dicek saja :)
  6. Minta form syarat-syarat wisuda ke loket pendaftaran wisuda
    Nanti akan diberi kuitansi bayaran BNI yang akan digunakan untuk membayar wisuda (Rp 525000) melalui teller bank bni, dan juga beberapa berkas lainnya.
    Berkas-berkas untuk mendaftar wisuda antara lain:
    1. SKL asli
    2. Transkrip asli
    3. Fotokopi ijazah S1
    4. Bukti bayar (slip BNI)
    5. Bukti bebas pustaka asli
    6. Bukti penyerahan tesis ke LSI (asli)
    7. Fotokopi abstract/summary judul bahasa inggris
    8. Fotokopi lembar pengesahan tesis
    9. Form pembuatan ijazah
  7. Penyerahan tesis dan softfile-nya ke petugas di Lt 2 LSI
    Setelah tesis selesai ditandatangi dekan (saya kemarin sih cuma 3 hari), nanti akan dieri formulir kemana saja tesis harus diberikan. Pertama, langsung ke LSI menuju lantai 2. Di sana nanti ada loket penyerahan tesis dimana kita harus memasukkan data-data tesis kita seperti judul, penulis dan kata kunci. Setelah selesai, nanti kita akan diberi bukti penyerahan tesis oleh LSI yang akan digunakan sebagai syarat untuk daftar wisuda. Jangan lupa juga serahkan form yang diberikan SPS tadi untuk ditandatangi oleh petugas, nanti form ini akan diperlukan dalam pengambilan ijazah.
  8. Minta surat bebas pustaka dari LSI
    Selesai dari Lt 2 LSI langsung menuju loket di depan untuk menyelesaikan bebas pustaka. Cukup menyerahkan KTM dan setelah dicek tidak ada masalah, kita akan diberikan surat bebas pustaka yang juga akan dipakai untuk daftar wisuda.
  9. Daftar Wisuda
    Setelah SKL selesai dan diperbanyak, SKL dan transkrip asli akan kita gunakan untuk daftar wisuda beserta syarat-syarat lainnya. Kita segera menuju ke loket pendaftaran wisuda, minta map dan masukkan semua syarat ke dalamnya, tuliskan nama, NIM dkk dicover map. Lalu kita serahkan ke petugas untuk dicek. Nanti kita akan diberi kartu nomor untuk foto ke bagian studio foto di dalam rektorat. Setelah foto, kita kembali ke loket, dan nanti kita akan diberi nomor urut wisuda.
    Tahap sampai sini selesai!! See you soon di GWW :)
  10. Mengisi SKW
    Nahh untuk bisa daftar ulang wisuda kita harus mengisi SKW atau survei kepuasan wisuda di skw.ipb.ac.id. Nanti setelah mengisi, kita bisa minta cap ke Direktorat MAnajemen Mutu Lt 3 rektorat yang nantinya kita pakai untuk daftar ulang wisuda.
  11. Menyerahkan tesis ke pembimbing dan program studi
    Selanjutnya, kita harus menyelesaikan isian form yang diberikan SPS tadi dengan emberikan tesis ke pembimbing dan program studi. Syarat bebas administrasi di Departemen AGH antara lain dengan menyerahkan
    1. tesis/disertasi
    2. CD tesis/disertasi
    3. Fotokopi dr cover hingga daftar isi halaman tesis/disertasi
    4. SKL dan transkrip (fotokopi)
    5. pas foto berwarna 3 x 4
    6. Biodata alumni (form bisa minta ke sekretariat prodi)
    7. Mengisi kuesioner kepuasan pelanggan (form diambil di sekretariat prodi)

  12. Pengembalian Toga dan Pengambilan Ijazah
    Dengan form bukti penyerahan teis/disertasi yang diberikan sps tadi dan toga wisuda, dan KTM, ijazah bisa diambil. Nah.. setelah ini kita bisa mengajukan terjemahan ijazah ke bahasa Inggris dan juga melakukan legalisir.


    Sekian tulisan ini, semoga dapat membantu kawan2 semua :)


Friday, September 2, 2016

Fase Baru

Setelah semua tahap-tahap terlewati rasanya 'nyes' juga. Ancaman bayar 6 juta lewat sudah, SKL sudah diajukan, paling2 tinggal deg-degan daftar wisuda apakah masih dapet kuota Oktober (Fyi, kelajuannya cepet banget). 

Beda sama jaman S1 dimana fase-fase kayak gini tu sangat mengggembirakan, bisa jalan-jalan sesuka hati, bisa nonton film sepuasnya sebelum stress dengan dunia kerjaan. Mungkin karena dulu udah merasakan seperti itu, sekarang lebih antisipasi. Berasa kemenangan itu hanya beberapa jam sejak keluar dari ruang sidang aja, setelah itu otak mulai mikir carut marut lagi. Jadilah cepet-cepet selesaiin revisian biar gak keburu galau lagi. 

Nah, sekarang aja pas perbanyakan draft trus ngajuin SKL rasanya udah kayak 'wahh kedepannya gimana ya.." Hmm.. Emang bener, satu tahapan terlewati bukan berarti kita selesai, tapi pasti ada tahapan selanjutnya yang gak kalah bikin galaunya, inilah hidup. 

Menurutku, inilah tahapan paling galau. Saat SKL sudah diajukan, status mahasiswa mulai dipertanyakan, Ijazah keluarnya lama, dan belum bisa apply kerjaan. Okeehh sedikit pengecualian kalau tahapan selanjutnya adalah menikah. 

Terus, rencana selanjutnya apa? 
Gw punya plan A dan plan B. Tapi ternyata ada juga punya plan A dan plan B buat hidup gw, begitu juga orang tua. Okelahh disini plan A, plan B, ataupun plan C bisa saja berubah dalam sekejap. Buat gw, jalani aja apa yang bisa dikerjakan sekarang, sambil mempersiapkan plan A, plan B, plan C yang nggak mungkin bisa terwujud secepat kilat. Dan, dari semua plan-plan itu, semoga Alloh menuntunku pada plan yang paling baik.

Thursday, December 31, 2015

Daily days of 2015: Catatan Akhir Tahun

Tahun ini memang berwarna sekali, meskipun rasanya masih belum maksimal. At least ada beberapa hal yang walaupun itu bukan pencapaian tapi terkenang. 

Finally panen, yapp!! Memang meleset dari perkiraan, jadi akhirnya padi baru bisa dipanen persis satu bulan sebelum Ramadhan. But whatever, alhamdulillah that my research going well. Sambil mempersiapkan naskah buat Oktober, pengamatan tetep jalan.

First time of snorkeling. Yah agak norak sih, tapi akhirnya bisa ngerasain berenang di laut beneran meskipun masih pakai pelampung dan masih belajar cara pakai alat bantu pernapasan. But overall saya ketagihan, dan besok-besok bakal mau snorkeling lagi. Walaupun belum bisa naik gunung, minimal udah bisa menikmati alam dengan sebaik-baiknya. 

Demisioner dari BPH FORSCA, rasanya seperti nyess masuk ke dalam air laut yang ombaknya tenang dan segar, airnya jernih dan bisa menghirup udara tanpa polusi. Selepas banyak banget masalah di dalamnya dan saya gak mau bahas karena cuma membuka luka lama, tapi yang patut saya syukuri adalah I found abundant of friends since then :)

Part of IPB-Ibaraki Summer Course, meskipun sebenarnya hanya iseng-iseng ikutan. Harapannya bisa memperlancar ngomong bahasa Inggris, trus juga nambah kawan dari Jepang. Sempat diamanahi juga jadi Kapten group D disini, yes everything goes well walaupun diakhir gak dapet kesempatan buat ikutan winter ke Jepang.. tapi ada yang lebih baik dari itu.

International Symposium of Root Research di Canberra, Australia. Yap, Alhamdulillah dapat kesempatan go International lagi meskipun saat ini baru bisa berkontribusi sebatas poster presentation aja.. The next harus lebih baik. Seneng bisa ketemu dengan orang-orang yang selama ini cuma bisa kenal nama mereka dari publikasi yang disitasi, seneng dapet kenalan dari berbagai negara, seneng akhirnya bisa menginjakkan kaki di benua lain, seneng bisa diskusi dengan orang-orang kritis..

Kesempatan ke Australia sendiri itu juga membuat saya banyak belajar survive, belajar berani mengambil keputusan sendiri, karena nggak ada siapa-siapa di sana dan cuma modal kenalan di facebook akhirnya punya kenalan yang whateverlah saya sangat bersyukur bisa kenal dengannya. As my work paid off with a lot of experiences and new friends.

terimakasih Ya Alloh untuk kesempatan berharga ini.

Yang agak meleset memang belum bisa lulus tahun ini, tapi Insya Alloh dalam sebulan ke depan. 

So, the next wishes nggak muluk-muluk..

1. Lulus S2 itu pasti number one
2. Kerja dan fokus ke karir
3. Nikah (bismillah)
4. Minimal bisa berkunjung ke 1 negara lagi di tahun ini, buat urusan akademik atau ibadah

Tuesday, November 3, 2015

Australia vs Indonesia

As I know Indonesia for long time and have a week visit Australia for a moment, I see that Indonesia and Australia both multicultural countries. Tapi bedanya, Indonesia multikultur karena banyak suku dan budaya di negara tersebut, sedangkan Australia multikultur karena penduduknya berasal dari berbagai etnis dunia.

Thursday, October 29, 2015

Solo Travel : anxiety which become addiction

First time of go abroad, I was took my own flight alone transit to Thailand. It was also my first flight, can you imagine it? Anxious? Of course! But I said to myself that I should be brave, and I did. 

When almost of my friends went abroad together with their Indonesian friends, taking many pictures and look very happy,  I was by myself and start to make a connection with new people around me. I met Nepal people and had a long conversation in the plane. 

Then, I met with other Indonesian student which also went to Japan at the same time as me in Thailand. Did you know what I felt? I was very happy that time, although I didn't knew them very well. It was also I felt that they were my brother, just because we were Indonesian among them. 

All the days in Japan was guided by my Korean friend. But then, when I should came back to Narita, I was alone because I was the only one who had earlier flight. The one I was afraid of is about the language, how if I cannot communicate well, because some of Japanese cannot speak English well. But, I'm afraid of nothing! 

Even I got lost, didn't know which Line should I took.. I came to information center and asked them. They were very kind, explained me well. If they could not speak English well, they used pen and wrote it to me so I understood. And I could get Narita safely! 

And then I becoming brave to go alone in Indonesia, especially Jakarta, Special Capital Region. I got lost so many times, but I'm not afraid again. 


It was a year ago, my first chance to go overseas...

Recently, I had another opportunity to joined  symposium in Canberra, Australia.  I was alone, yes, from the beginning. Although it partially funded, but I should managed it well because Australia known as one of the expensive country in the world. 

I was alone and have no relative in Australia, especially Canberra. When my friends usually went somewhere for conference had someone else arranged their needs, I should made it by myself. I started looking for Indonesian people there, and started making connection. Google and Facebook was my closest friends during that time. I was looking for Embassy of Indonesia, Indonesian Students Association (PPI Australia), many groups with correlates between Indonesia and Australia, Backpacker Dunia, etc and started to made connections. Not only about that, the accomodations during symposium, such as hostel and transportation, I should managed it well by myself, then I asked to Indonesian people which stayed in Australia to made it clear for me. 

Someone said to me that arranged the trip was interesting as the trip itself. And then, I believed it! 

It took more than 2 weeks just to arranged my trip from Melbourne to Canberra, and also from Canberra to Sydney. Which the landmark should I visited? What will I do there? How should I go there? 

Then, when I didn't catch the bus as I planned before, it was shocked me and I didn't know what should I did. I just want to cry! But, that was not the answer. I should arranged another plan quickly. Yes, I made it. Although in the bus, really, I was crying. I realized that I should depend on myself, so don't be weak people!!

When I cannot did something alone, it was lead me to asked someone did it for me. It was lead me to the new connection. Yes, of course! 

The last day in Canberra and Sydney, I made it alone. Walking arround the landmark area, and enjoyed it. From the City Hill to Capital Hill, from Darling Harbour to Opera House. Many people also walking alone, so what the matter if I walk by myself? 

When no body to be asked, I just follow my feeling to take the direction. Sometimes its true, but sometime it drive me to the other interest places. 

Walking like a crazy, and when I was tired just looking for the nearest bench or bus stop to sit and take a deep breath. 

It very contrast with Indonesian people, when after my arrival my friends ask me 'you did all by yourself?' and with confidence I said 'yes!'. Although I understood why they asked me that, because Indonesia is communal country. 

Someone told me that having trip with others isn't good idea if you want to enjoy something. I didn't think like that, if then my partner have the same vision with me. But if not, I prefer walking alone. 

Overall, Solo travel is teach me so many things.

Do not afraid! 
Do not depend in other! Whether if you cannot managed by yourself, you can ask other. 
Do not afraid of getting lost! you'll find new way
Do not afraid of failed! You always have chance to start it again

And if I have another chance, I want to travel alone again! It becomes Addiction.

Monday, October 26, 2015

Menghargai Kebaikan Demi Tumbuhnya Kebaikan-kebaikan Lainnya

Beberapa waktu lalu saya sempat kehilangan HP, atau lebih tepatnya saya menjatuhkannya secara tidak sengaja setelah nonton semifinal badminton Pasca Cup di GOR Lama IPB. Saya sudah ikhlaskan kalau memang rezeki ya balik, tapi kalau bukan yasudah biarkan. Ternyata seseorang menemukan HP saya dan memposting ke semua grup yang saya ikuti bahwa saya diminta menghubungi dan menemui dia. Besok paginya informasi itu sampai ke saya, dan langsung ditindaklanjuti. Menurut cerita yang menemukan, alarm HP saya bunyi terus-terusan dari jam 2 pagi dan itu yang membuat dia menyadari kalau ada HP yang jatuh. Dia mengambil HP saya dan memposting informasi kalau dia menemukan HP saya. Beberapa waktu kemudian saya putuskan untuk mengirimi pulsa ke nomor orang yang menemukan HP saya tersebut, walaupun mungkin orangnya bakal menolak kalau saya kasih secara langsung. 

Dia punya kesempatan untuk mengambil dan memanfaatkan HP saya sesuka dia karena dia yang menemukan. Dia bisa menjual dan mendapatkan uang lebih besar dari smartphone yang dia temukan. Tapi dia memilih untuk mengembalikan ke pemiliknya walaupun dia nggak akan mendapatkan apa-apa. 

Inilah patut dihargai, pilihannya untuk jujur. 

Walaupun nggak banyak, bukan hanya sekedar bentuk terimakasih, dan tentu saja bukan membentuk pola pikir berbuat baik agar mendapat balasan orang yang lebih banyak. Pola pikir ini bukan membentuk budaya sedikit-sedikit memberi, tapi bagaimana kita menghargai kejujuran dan kebaikan. Saya hanya berharap dengan adanya apresiasi ini akan lebih banyak orang yang berbuat kebaikan. 

Bahkan ketika merepotkan seseorang untuk melakukan ini itu, walaupun orang itu mengatakan tidak mengapa, tapi saya tetap ingin mengapresiasi kebaikannya dengan memberi sesuatu walaupun itu kecil. 

Jika berbuat kebaikan dan kejahatan mendapat perlakuan yang sama, apa bedanya? 

Seorang yang telah berbuat kebaikan harus mendapatkan apresiasi agar semakin banyak orang berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan.

Saturday, October 24, 2015

7th Day in Australia - Sydney!

Itinerary awal saya adalah saya jalan aja lurus sepanjang Pitt steet, nanti saya ketemu Sydney tower dan terus aja lurus nanti ketemu Circular Quay dan tinggal jalan saja mau ke Sydney Harbour Bridge dulu atau ke Opera House dulu. Cuma sekita 30 menit jalan kaki, jadi gak jauh lah ya sambil jalan santai. Toh saya bakal stay di sana kurang lebih 2 jam. 

Tapi setelah tadi malem lihat-lihat peta dan ternyata Paddy's Market sama Chinatown itu gak sampai 10 menit dari hostel saya, jadi saya ubah itin. Paddy's Market di website tulisannya jam 9, berarti saya mulai jalan jam 08.30 aja.

Saya check out jam 8.30 am setelah sarapan dan ngenet di lobby hampir 2 jam. Nggak lupa saya beli postcard dulu, karena saya gak yakin beli di tempat lain ada yang lebih murah dari ini. 

Perjalanan dimulai menuju ke arah Hay street. Nggak jauh beda dengan Canberra, kalau jam segini memang masih sepi jalanan. Sepertinya memang benar dugaan saya pas pertama kali di Melbourne, budaya Australia adalah menikmati malam sampai larut dan memulai aktivitas agak siang. Jauh banget sama kebiasaan saya dimana jam 10 atau 11 itu sudah maksimal, dan jam 4 harus sudah bangun. Jadi kalau mau cari suasana sepi, atau mau ambil objek gambar saat sepi biar lebih leluasa, cobalah bangun dan mulai aktivitas dari jam 7 pagi.


Paddy's Market & Chinatown

Kenapa saya bahas ini dan apa sih pentingnya? hhehe. Buat para pemburu oleh-oleh, disinilah lokasi yang tepat. Paddy's Market dengan harga yang lumayan, atau ke Chinatown yang harganya lebih miring tapi buatan China semua. Its up to you!
Paddy's Market
Ya walaupun akhirnya disini sama cuma foto-foto doang, karena ternyata bukanya jam 10.00 dan gak mungkin dong saya nunggu sampai jam 10.00. Saya masih pengin ke Harbour Bridge dan jam 2 harus udah berangkat ke Airport.
China Town
Selanjutnya saya jalan ikutin kata hati saja, pokoknya tujuannya ke Harbour Bridge dan saya akan teru pantau MAPS.ME kalau-kalau saya berjalan menjauhi target. Sepanjang masih di rute yang benar, mau belok-belok pun terserah. Jalan nggak perlu sekaku itu kan? hhehe

Tiba-tiba saya melihat arah jalan menuju Darling Harbour (Harbour street) dan feeling saya Darling Harbour nggak jauh dari sini. Akhirnya saya ikuti jalan tersebut sambil sesekali memperhatikan Map. Nggak jauh, hanya sekitar 0.5 km saya sudah merasakan suasana pantai. Dan hmm, tepat di depan saya sudah pantai.


Darling Harbour

Sengaja saya ambil gambar dari beberapa sudut, karena satu gambar gak akan mewakili semua. Di sini ada Sydney Sea Aquarium, tapi tentu saja berbayar. Saya nyarinya yang gratis-gratis aja, hhehe. Kebanyakan kapal-kapal disini memang buat cruise sih, dan tentu saja itu gak murah.
Darling Harbour (1)
Darling Harbour (2)
Darling Harbour (3)
Darling Harbour (4)
Menyusuri Pantai
Dari Darling Harbour, saya jalan terus saja mengikuti garis pantai sampai ketemu King Street Wharf dan terus jalan sampai Bangaroo point. Sesekali kalau menemukan kursi saya istirahat, foto-foto sambil menikmati pemandangan. Lagi-lagi yang saya bersyukur, pedestriannya nyaman banget! Kapan lagi saya bisa berjalan sepanjang garis pantai yang menggambarkan dua sisi kontras, sebelah kanan bangunan-bangunan tinggi dan sebelah kiri pantai. 

Jalan kaki tuh nggak cuma karena ngirit, tapi banyak moment yang terlewatkan kalau kita nggak menjelajahinya sambil jalan kaki. Kadang-kadang saya tertawa geli dengan julukaan Institut Perbesaran Betis, plesetan kepanjangan IPB, karena kita sering banget berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain. Kenyataannya, itu nggak seberapa dibanding di luar negeri dan saya bersyukur sudah terlatih buat berjalan kaki sejauh itu.

Sydney Tower
Bangaroo ini ternyata panjang sekali, hingga diujung saya melihat bukit yang lebih tinggi dari sekitarnya dan saya melihat menara yang tinggi. Saya nggak tau itu tower apa, tapi firasat kok menyuruh saya mengabadikan lewat video. Nah, setelah sampai di Indonesia dan googling-googling, lalu saya amat-amati lagi video itu dn saya baru tau kalau itu Sydney Tower.
Saya rekam semua dari ujung ke ujung. Dan, hmm sepertinya akan ada hal yang mengejutkan selepas saya berjalan melewati bukit itu.

Perjalanan kali ini dimana saya lebih banyak mengikuti feeling saya, ternyata malah membawa saya melihat banyak hal daripada rencana awal saya. Nggak ada salahnya mengikuti feeling, setelah perencanaan yang matang.

Kecepatan jalan saya tentu sangat menurun dibanding kemarin di Canberra. Ya tentu saja, kaki yang lecet nggak akan sembuh dalam semalam. Jadi hari ini saya banyak luangkan waktu untuk berjalan, sedikit-sedikit istirahat. Bukan karena lelah, tapi karena makin jalan makin perih luka-nya. Jadi pelajaran berikutnya, kalau pergi jangan lupa bawa sandal terbuka buat antisipasi kalau lagi kayak gini.

Saya jalan dan terus berjalan sampai perih kaki nggak terasa lagi. Angin pantai rasanya sejuk walaupun terik matahari mulai menyengat. Sepanjang bukit, saya banyak dengar orang berbicara bahasa Indonesia dengan serius. Iyah, banyak orang Indonesia di Sydney dan lebih banyak dibanding Canberra. 

Setelah belokan, saya lihat jembatan besar sekali dan ada 2 bendera Australia berkibar di atasnya. Whaaa itu Sydney Harbour Bridge, bener-bener hadiah atas kelelahan sepanjang jalan.

Sydney Harbour Bridge dari sudut pertama kali saya lihat
Saya tahu setelah ini rute-rute sudah terduga, tapi tetep saya nggak tau seberapa jauh saya harus jalan sampai bisa melihat Circular Quay dan Opera House. Prinsip saya jalan aja, semuanya bakal terbayar!

Bener.. gak berselang lama saya lihat Opera House dari jauh.. Trus kompleks bangunan yang padat di kawasan Circular Quay. Ah, saya melewatkan satu tempat yaitu the Rocks dimana saya melewatinya tapi sama sekali nggak ngambil gambar di sana. Lalu sengaja saya ambil satu objek dari banyak sudut, yeah nice!

Dari arah Sydney Harbour Bridge

Dari sudut sebelum circular Quay saya duduk di pinggir pantai, ya ada kayu yang bisa buat duduk. Saya ambil gambar Opera House dari sudut sini. Hati-hati HP nyebur ke laut, gak bisa diambil! Sebelah saya seorang turis yang juga sedang benerin kamera-nya ngelihat ke arah saya yang sedari tadi asyik selfie dan foto-foto, lalu dia bersuara agak nggak jelas tapi buat saya kaget sampe saya bersuara 'aa?' Si turis juga kaget dan langsung melihat ke arah saya *noted!! Di sini tuh yang turis kamu za!! Hhaha*. Kalau memang dia niat komunikasi, pasti dia senyum ke arah saya, lah ini saya senyum dia ngelihat saya aneh. Walah.. woles lah!!

Eh, anw saya baru sadar kalau sepanjang saya di Sydney saya gak lihat orang berjilbab di tempat-tempat wisata, nggak seperti di Floriade kemarin dimana banyak banget orang berjilbab. Oh ya, kalau lihat orang yang muka-muka Indonesia jangan terlalu yakin kalo dia bener dari Indonesisa sampe kamu denger dia bicara, bisa jadi dia dari Malaysia. Udah beberapa kali awak tertipu penampilan.
Pas dibawah Sydney Harbour Bridge

Saya terus jalan melewati Circular Quay atau mungkin lebih pas disebut dermaga kali ya.. Terus mengikuti jalan dan saya masuk di kawasan Opera House.  Di kawasan opera house sudah nggak ada peneduh lagi, kuat nggak kuat, sanggup nggak sanggup ya panas-panasan. Puanas-nya nyengat pula. Kalau dari Opera house, saya nggak bisa ngambil gambar yang bagus. Eh tunggu, ada tangga ke arah Royal Botanic Garden dan saya naik ke sana. Dan memang benar, karena posisinya lebih tinggi maka saya bisa ambil gambar 2 object sekaligus. 

Setelah puas selfie dan ambil gambar dari Royal Botanic Garden, saya jalan lagi ke Opera House dan menyusuri sepanjang jalan. Eh, ketemu anak SMP yang lagi study tour dan seragam-nya mirip Harry Potter, wkwkwk. Saya naik lagi dan makin panas, ya iya, irang udah jam 11 lewat.
The best selfie, ever! Hhaha
Dua object yang saya ambil dari Royal Botanic Garden
Karena jalan-jalan itulah saya tau kalau ternyata bagian depan Opera House itu restoran. Nah, foto-foto di sepanjang jalan ini mah gfatis. Tapi kalau mau masuk ke Gedung Opera, bayar. Gedung opera yang besar itulah yang bener-bener buat penampilan orkestra *ah sotoy ni* 

Dari pinggiran Opera House saya lihat ke arah Harbour Bridge berdiri tegak dengan angkuhnya. Waw!! Akhirnya saya ambil gambar juga dari sudut sini. Memang bener, tiap sudut menawarkan keindahan yang berbeda. 

Saya masih kuat-kuatin buat terus jalan muterin Opera House, tapi saya gak sanggup muterin Royal Botanic Garden *kebayang muterin Kebun Raya Bogor* Tapi pas jam 12.00 saya langsung jalan ke arah Circular Quay lagi. 

Saya laper dan pengin makan sih sebenernya, tapi saya gak mau makan di sini. Nanti aja di bandara biar puas, sekarang mah minum aja. Tapi kok susah nyari yang jual air mineral. Dan sebenernya mikir juga kalo beli air mineral 3 AUD, muahall. 
Circular Quay Station
Yap, saya jalan mencari Circular Quay Station dan rencananya saya mau ke bagian informasi aja biar dibantu cara beli tiket. Ehh, beli tiketnya pake mesin ternyata. Kalo bahasa Inggris sih saya gak masalah, tapi ketika saya di depan mesin saya-nya yang bingung seketika. Trus saya bilang ke orang di belakang saya "I'm sorry, can you teach me how to buy the tickey?" dan dia langsung mendikte-kan prosedurnya ke saya "Oh.. just choose the ticket type you will buy.." katanya sambil nunjuk layar touch screen. Saya pilih 'one way'. "Then your destination" dan saya tekan 'International Airport' dan terakhir 'are you student?' Lalu saya tekan 'student' dan keluarlah nominal yang harus saya bayar. Itupun saya gak lihat monitor dan malah bertanya 'how much' tapi si ibu di belakang saya bilang 14 AUD sambil nunjuk ke monitor dan saya baru sadar kalau ada di monitor. Saya punya receh banyak, tapi saya gak yakin kalau itu cukup, jadi saya masukkan 20 AUD dan keluarlah tiket beserta kembaliannya. 

"Thank you very much" kata saya sambil bungkuk-kan badan. Duh bawaan budaya, bawaan bener-bener bawaan. "Yes.. and have a safe trip till your destination" katanya. Kereta saya 2 menit lagi, dan saya terus lihat platform. Saya harus naik ke platform 2 dimana kereta saya akan berhenti. Saya langsung naik eskalator dan pas saya sampai, kereta berhenti. Saya langsung naik dan memilih duduk di atas. Keretanya tingkat lhoo... dann sepi!! 

Kebingungan saya pas di Jepang ternyata jadi pelajaran tersendiri. Di sini saya nggak bingung lagi nyari platform, ya memang sih gak sebanding, karena di jepang banyak banget line-nya. 

Saya milih duduk dibelakang yang satu kursi, biar gak repot pas turun. Nah, kebetulan saya sudah print map kereta NSW nih, jadinya saya keluarin dan cek seberapa jauh yang harus saya tempuh. Dann.. di depan ada tulisan stasiun mana kita akan berhenti, nanti juga ada pemberitahuan lewat pengeras suara. Dan semuanya dalam bahasa Inggris, jadi tenang aja, hhehe. 

NSW Train

Keretanya tingkat ^^

Platform-nya banyak banget di Sydney Central

Kemaren sempat ragu-ragu mau naik kereta dari Sydney Central, iya untung gak.naik dari situ. Buat newbie mending jangan, karena pasti bingung setengah mati. Platform-nya juga buanyak banget. Ini saya fotoin dari dalam kereta. 

Selama di Australia, cuma tram yang belum saya rasain. Kemaren di Melbourne ada sebenernya. 


Sydney Kingsford Smith International Airport
Setelah sampai airport, saya langsung naik. Dan mulai mencari-cari lokasi check in-nya. Karena saya udah jalan dari A sd H, akhirnya saya tanya ke pusat informasi sambil nunjukin tiket saya. Lalu dikasih tau, harus-nya di H tapi sepertinya counter baru akan dibuka 3 jam lagi. 

Okay, saya laper dan mau makan dulu kalo gitu. Sekalian ngabisin uang koin, hehe. Saya selalu inget kalau uang koin gak bisa digukar di moneu changer. 

Saya makan nasi oriental pake chicken teriyaki, yang gitu doang harhanya 9 dollar. Tapi porsinya besar sih, dan sangat cocok dengan saya yang kelaperan meskipun gak bisa ngabisin dalam waktu cepat. Akhirnya saya buka hp dan sambungin ke wifi gratisan di bandara, sambil browsing dan ngirim whatsapp ke temen-temen. Sambil juga posting soal praktikum dasgron di LiNE mereka, wanti-wanti ntar malem pada nanya pas saya lagi di pesawat. 

Nah, tetiba gabut dan iseng-iseng saya buka google map penasaran sama radius yang saya tempuh hari ini. Daebak! 4 km lebih ternyata.. Itu kalo saya lewat Pitt Street, lah ini saya muterin pinggir-pinggir pantai itu.. pasti 7 km pun lewat itu.. Saya gak mau ngitung tadi, karena kalau saya tau pasti saya udah putus asa, apalagi dengan kaki yang begitu keadaannya. Wajar juga sih, saya jalan terus dari jam 8 sd 12 siang, yang berhentinya paling cuma 5 menit - 5 menit aja.. Wuahh daebak! Pasti saya tepar sampe kosan. Dan padahal besok pagi ngasprak. 

Tapi puas! Meskipun saya tepar di Bandara dan cuma duduk nunggu counter check in sambil baca buku dan ngenet. 


Fyi, sampai tulisan ini saya selesaikan (kurang lebih udah 2 minggu) kaki saya yang lecet baru sembuh dan jempol kaki kiri saya masih sakit kalau buat jalan. Overall, its okay!