Wednesday, January 4, 2017

Kumpulan Soal Tes Tertulis Beasiswa Pemerintah Jepang Monbukagakusho

Berhubung saya banyak ambil dai blog orang, maka saya cantumkan saja link blog tersebut

1. Research Student (2007-2010; 2012-2014): Klik disini
2. Semua program (2007-2010): Klik disini
3. D2, D3, S1 (2012-2016): Klik disini

 Cek aja sendiri ya ^^

Japanese Government Scholarship [University Recommendation]*

Ceritanya waktu itu saya bertemu sensei akhir Oktober dan diberi tahu kalau berkas saya harus dikirim ke sensei akhir bulan November. Wah, saya panik setengah mati. Ijazah dan transkrip saya belum jadi karena saya baru akan wisuda awal Desember, dan saya juga belum punya TOEFL. Akhirnya saya gerak cepat, ambil tes yang awal bulan November dengan perkiraan minggu ke-3 sudah keluar hasilnya. Ijazah dan transkrip terus-terusan saya follow up ke bagian wisuda rektorat walaupun hasilnya berkali-kali saya kena marah karena dikira nggak sabaran (tapi lebih nggak logis kalau saya gagal apply cuma gara-gara syarat administrasi padahal sudah wawancara sama sensei) dan nihil nggak bisa diurus percepatan juga. 

Minggu ke 2 November saya dapat email dari sensei melalui pembimbing S2 saya untuk selalu mengecek website MEXT. Nah website-nya ada 2 versi, versi bahasa Jepang dan versi Bahasa Inggris. Karena saya nggak bisa bahasa Jepang, saya dikasih alamat sama sensei yang versi bahasa Inggris, ini alamatnya http://www.mext.go.jp/en/. Tapi informasi disini kurang update, dan akhirnya saya buka versi Jepang-nya dengan konsekuensi tiap hari saya translate update pengumuman terbaru dengan Google Translate. Dan pengumuman itu keluar di minggu terakhir November full dalam bahasa Jepang yang akhirnya saya download semua dokumen dan translate dengan jasa Google translate lagi. Beruntungnya, baru setengah saya translate, teman saya mahasiswa Jepang diminta sensei untuk menerjemahkan informasi tersebut ke saya (Alhamdulillah.. nggak perlu menghabiskan waktu berhari-hari untuk translate).

Minggu pertama Desember perjuangan dimulai. Disela-sela ngasisten dan persiapan wisuda, saya coba meminta rekomendasi Dekan Fakultas Pertanian. Hari pertama, gagal karena Dekan juga sedang gladi resik untuk wisuda esok hari. Sebenarnya untuk wisuda sendiri saya tidak ada persiapan khusus, tapi karena keluarga ke sini rasanya nggak etis kalau saya malah mengerjakan yang lain. Saya sendiri nggak ikut gladi resik, karena nggak ada teman (di Prodi saya cuma berdua yang wisuda) dan saya sudah pernah ikut gladi resik zaman S1 yang isinya kurang lebih sama, dan saya lebih memilih masuk kelas praktikum yang waktu itu sedang presentasi akhir kelompok. Perjuangan dilanjutkan pasca wisuda, saya langsung bertemu Pak Dekan dan Alhamdulillah beliau welcome. Anw, beasiswa S2 saya dulu juga salah satunya atas rekomendasi dari beliau yang waktu itu masih Ketua Departemen. 

TOEFL done, Rekomendasi Done, the Next adalah Ijazah dan Transkrip. Untuk Pascasarjana ini bener-bener ribet sekali urusannya. Ijazah baru bisa diambil seminggu setelah wisuda, nah selanjutnya saya harus mengajukan legalisir dan permohonan pengajuan translate ijazah ke bahasa Inggris yang prosesnya butuh 14 hari kerja. Plan awal saya minggu ke 3 semua berkas harus sudah saya kirim karena Desember ada Natal dan Tahun Baru, banyak liburnya. Kebayang kalau ijazah baru selesai 13 Desember, translatenya sendiri baru bisa diambil 26 Desember, lewat deh target saya.. tinggal deg-degan aja ini berkasnya bisa sampai ke Jepang on time atau enggak. 

Sambil menunggu ijazah saya mengerjakan application form dan field of study and research plan yang sudah saya cicil sejak akhir November kemarin tapi belum di fiksasi. Nah, form kedua ini butuh pemikiran ekstra karena nggak bisa dikerjakan dalam semalam. Banyak yang merekomendasikan untuk mengerjakannya sejak 6 bulan sebelumnya dan saya rasa itu waktu yang optimum. Saya sendiri, karena baru terbayang akan apply MEXT di akhir Oktober, nggak punya waktu banyak, hanya sekitar 2 minggu efektif dan 1 minggu untuk diskusi dengan pembimbing S2 saya untuk mendapatkan pencerahan sekaligus fiksasi. Tanggal 15 Desember, kedua form ini done!

Intinya, untuk field of study ini saya ceritakan tentang background saya dan penelitian saya semasa S2 dan kemudian rencana penelitian saya untuk S3 nanti. Nah kalau proposed study and reseach plan, saya buat menjadi 2 poin, untuk sinopsis rencana penelitian saya di lembar terpisah, untuk proposed study and plan-nya saya buat timeline rencana study selama 3,5 tahun ke depan dengan research student.

Tapi ada masalah baru. Sejak awal Desember saya cek website Kagoshima University belum ada informasi tentang MEXT U to U yang membuat saya sempat khawatir tidak ada slot untuk itu, tapi pas tanggal 15 Desember saya buka tiba-tiba ada syarat tambahan untuk mengirimkan Certificate of Health yang mana itu harus diisi oleh Dokter.  Tanggal 16 nya saya juga dapat email dari sensei untuk mengirimkan Certificate of Health dan dokumen lainnya tanggal 25 Desember. Seketika, Duh! Garuk-garuk kepala. Kenapa baru tau informasinya -_- Alhamdulillah translate ijazah saya selesai 24 Desember. Tapi masih ada masalah. Masalah 1, Dokter nggak akan mau ngisi kalau kita nggak medical check up dulu. Masalah 2, tanggal 25 adalah Libur Internasional yang artinya saya nggak bisa kirim surat. Solusinya, kirim tanggal 24 tanpa Certificate of Health atau kirim lengkap tapi agak lama.

Akhirnya 19 Desember saya ke RSUD Kota Bogor untuk Medical Check Up, tapi saya diminta balik lagi besok paginya dan baru diberitahu kalau saya nanti harus membayar sekitar 550 ribu untuk tes fisik, darah, rontgen thorax dan tes mental. Nah tes mental ini yang paling mahal plus bikin surat sehat saya keluarnya telat karena dokternya lagi di Aceh. Saya konfirmasi katanya selesai Senin 26 Desember, ternyata itu cuti bersama dan baru bisa diambil 27 Desember. Wahhh wallohualam ini banyak-banyak do'a aja.

Selasa, 27 Desember pagi akhirnya saya ke RSUD lagi dan alhamdulillah kata perawatnya suratnya sudah selesai tinggal menunggu tandatangan dokter saja. Saya diminta menunggu sekitar 30an menit, saya googling2 saja di MCU RSUD. Setelah dapat surat, saya rapikan berkas, saya foto suratnya (nggak sempat fotokopi dan scan seperti berkas lainnya) dan langsung gerak cepat naik motor ke kantor pos Bogor Kota karena saya pikir lebih dekat dari RSUD daripada ke Darmaga dan dari Kota pasti langsung dicollect ke Jakarta, lebih cepat 1 step dibanding kalau saya kirim dari Darmaga. Saya pakai EMS (gak mampu kalau pakai DHL) yang per 100 gram-nya sekitar 120an rb. Fix, hari itu selesai. Tinggal banyak-banyak berdo'a dan terus di tracking.

Alhamdulillah berkas sampai tgl 4 mepet banget dengan deadline dari MEXT yaitu tanggal 5 (setelah tertahan 3 hari, anw tgl 1,2 dan 3 Januari itu administrasi di Jepang libur total). Tapi seenggaknya kalau saya gagal, itu bukan karena berkas saya nggak sampai. Wallohu alam.

***


Research Student U to U atau MEXT U to U atau Japanese Government Scholarship University Recommendation adalah istilah yang sama dimana pelamar direkomendasikan oleh universitas tujuan di Jepang kepada MEXT untuk memperoleh beasiswa. Berbeda dengan G to G dimana kita mengirim semua berkasnya ke kedutaan dan di seleksi oleh kedutaan baru direkomendasikan ke MEXT, untuk U to U kita mengirim berkas ke universitas tujuan dan seleksinya dilakukan oleh universitas tujuan itu sendiri baru direkomendasikan ke MEXT.

Info lengkapnya bisa dibaca di web Kedutaan Besar Jepang di Indonesia dan pengumuman tiap tahunnya akan selalu diumumkan di web MEXT (dalam bahasa Jepang) juga website masing-masing universitas. 

Yang harus diperhatikan adalah DEADLINE-nya berbeda-beda tiap universitas, jadi pantengin website-nya jangan sampai kelewat infonya. 

Nah, syaratnya apa aja? Secara Umum adalah:
3. FC Ijazah (bahasa Inggris)
4. FC Transkrip (bahasa Inggris)
5. FC TOEFL, IELTS atau JLPT 
6. FC Passport (halaman yang ada fotonya)
7. Foto berwarna 3.5 x 4.5 ditempel di formulir
8. Rekomendasi dari dekan atau yang lebih tinggi (Tertujunya harus "The President of .... University, pakai kop surat resmi dan di tandatangani asli oleh pemberi rekomendasi)
9. Resume/Abstract Thesis
10. Cek di web uni tujuan kalau ada syarat khusus yang diajukan, seperti saya waktu apply ke Kagoshima University saya diminta mengirimkan "Certificate of Health" yang harus diisi oleh dokter.

 *Ini kesibukan di akhir tahun di sela-sela wisuda dan ngasisten

Friday, September 16, 2016

Menuju GWW dengan Toga Garis Dua

Ini adalah catatan step by step pengajuan SKL hingga daftar wisuda, karena agak riweuh dan belum ada yang bikin artikel-nya, jadi saya iseng-iseng aja nulis :D

Setelah sidang atau ujian tesis, segera kerjakan revisian hingga dosen pembimbing memberikan persetujuan untuk dicetak (hard cover). Sampai sini, jangan langsung dicetak. Perjuangan baru saja dimulai.
  1. Cek format ke SPS, wajib!!
    Bawa draft terakhir yang sudah di ACC dosen pembimbing (untuk dicetak) ke SPS supaya dicek formatnya oleh petugas. Ini penting! Jangan sampe bongkar tesis yang sudah di hard cover hanya karena format yang tidak sesuai. Nanti juga akan dikasih tau harus dijilid merah dengan pita warna sesuai fakultas masing-masing.
  2. Cek ke kaprodi.
    Nggak semuanya melewati prosedur ini, tapi untuk AGH sangat dianjurkan.
  3. Print dan hard cover.
    Umumnya untuk proses ini butuh waktu 1 hari full, perhitungkan ini juga dalam target daftar wisuda.
    Jumlah tesis harus diperbanyak untuk semua pembimbing, prodi, LSI dan pribadi. Kemarin saya cetak 6 eksemplar, print sendiri dan jilid hardcover @Rp 25000, sehingga kurang lebih butuh Rp 200.000 untuk perbanyakan (harga bisa lebih mahal atau murah, pintar-pintar cari celah aja hhehe).
  4. Minta tanda tangan pembimbing dan kaprodi di lembar pengesahan
    Ini juga harus meluangkan waktu lebih menyesuaikan kesibukan dosen. Kalau kemaren Alhamdulillah beruntung bisa selesai dalam 1 hari ;)
  5. Pengajuan SKL dan minta tandatangan dekan untuk pengesahan tesis
    Ini bisa dilakukan bersamaan. Jangan lupa download form pengajuan SKL di web pasca.ipb.ac.id untuk diisi dan dibawa saat pengajuan. Syarat pengajuan SKL adalah fotokopi ijazah S1, draft jurnal, bukti kemajuan jurnal (untuk S2 harus sudah sampai in review untuk jurnal internasional terindeks scopus, kalau belum, nanti proses keluarnya SKL akan tertunda). 
    Proses pengajuan SKL adalah 14 Hari Kerja (2 minggu lebih, secara real-nya) jadi harap bersabar walaupun kuota wisuda terus meroket ekstrim hhehe... Untuk pengesahan tesis sendiri biasanya selesai lebih awal dibandingkan SKL. Rajin-rajin dicek saja :)
  6. Minta form syarat-syarat wisuda ke loket pendaftaran wisuda
    Nanti akan diberi kuitansi bayaran BNI yang akan digunakan untuk membayar wisuda (Rp 525000) melalui teller bank bni, dan juga beberapa berkas lainnya.
    Berkas-berkas untuk mendaftar wisuda antara lain:
    1. SKL asli
    2. Transkrip asli
    3. Fotokopi ijazah S1
    4. Bukti bayar (slip BNI)
    5. Bukti bebas pustaka asli
    6. Bukti penyerahan tesis ke LSI (asli)
    7. Fotokopi abstract/summary judul bahasa inggris
    8. Fotokopi lembar pengesahan tesis
    9. Form pembuatan ijazah, bisa didownload di pasca.ipb.ac.id
  7. Penyerahan tesis dan softfile-nya ke petugas di Lt 2 LSI
    Setelah tesis selesai ditandatangi dekan (saya kemarin sih cuma 3 hari), nanti akan dieri formulir kemana saja tesis harus diberikan. Pertama, langsung ke LSI menuju lantai 2. Di sana nanti ada loket penyerahan tesis dimana kita harus memasukkan data-data tesis kita seperti judul, penulis dan kata kunci. Jangan lupa juga serahkan softfile dalam CD yang berisi tesis full dengan lembar pengesahan yang telah discan. Setelah selesai, nanti kita akan diberi bukti penyerahan tesis oleh LSI yang akan digunakan sebagai syarat untuk daftar wisuda. Jangan lupa juga serahkan form yang diberikan SPS tadi untuk ditandatangi oleh petugas, nanti form ini akan diperlukan dalam pengambilan ijazah.
  8. Minta surat bebas pustaka dari LSI
    Selesai dari Lt 2 LSI langsung menuju loket di depan untuk menyelesaikan bebas pustaka. Cukup menyerahkan KTM dan setelah dicek tidak ada masalah, kita akan diberikan surat bebas pustaka yang juga akan dipakai untuk daftar wisuda.
  9. Daftar Wisuda
    Setelah SKL selesai dan diperbanyak, SKL dan transkrip asli akan kita gunakan untuk daftar wisuda beserta syarat-syarat lainnya. Kita segera menuju ke loket pendaftaran wisuda, minta map dan masukkan semua syarat ke dalamnya, tuliskan nama, NIM dkk dicover map. Lalu kita serahkan ke petugas untuk dicek. Nanti kita akan diberi kartu nomor untuk foto ke bagian studio foto di dalam rektorat. Setelah foto, kita kembali ke loket, dan nanti kita akan diberi nomor urut wisuda.
    Tahap sampai sini selesai!! See you soon di GWW :)
  10. Mengisi SKW
    Nahh untuk bisa daftar ulang wisuda kita harus mengisi SKW atau survei kepuasan wisuda di skw.ipb.ac.id. Nanti setelah mengisi, kita bisa minta cap ke Direktorat MAnajemen Mutu Lt 3 rektorat yang nantinya kita pakai untuk daftar ulang wisuda.
    *) Kalau ke sini sekalian fotokopi dan legalisir akreditasi instansi, untuk IPB dan prodi S2 AGH biar nggak bolak-balik, karena suatu saat ini dibutuhkan.
  11. Menyerahkan tesis ke pembimbing dan program studi
    Selanjutnya, kita harus menyelesaikan isian form yang diberikan SPS tadi dengan emberikan tesis ke pembimbing dan program studi. Syarat bebas administrasi di Departemen AGH antara lain dengan menyerahkan
    1. tesis/disertasi
    2. CD tesis/disertasi
    3. Fotokopi dr cover hingga daftar isi halaman tesis/disertasi
    4. SKL dan transkrip (fotokopi)
    5. pas foto berwarna 3 x 4
    6. Biodata alumni (form bisa minta ke sekretariat prodi)
    7. Mengisi kuesioner kepuasan pelanggan (form diambil di sekretariat prodi) 
  12. Pengembalian Toga dan Pengambilan Ijazah
    Dengan form bukti penyerahan teis/disertasi yang diberikan sps tadi dan toga wisuda, dan KTM, ijazah bisa diambil. Nah.. setelah ini kita bisa mengajukan terjemahan ijazah ke bahasa Inggris dan juga melakukan legalisir.


    Sekian tulisan ini, semoga dapat membantu kawan2 semua :)


Friday, September 2, 2016

Fase Baru

Setelah semua tahap-tahap terlewati rasanya 'nyes' juga. Ancaman bayar 6 juta lewat sudah, SKL sudah diajukan, paling2 tinggal deg-degan daftar wisuda apakah masih dapet kuota Oktober (Fyi, kelajuannya cepet banget). 

Beda sama jaman S1 dimana fase-fase kayak gini tu sangat mengggembirakan, bisa jalan-jalan sesuka hati, bisa nonton film sepuasnya sebelum stress dengan dunia kerjaan. Mungkin karena dulu udah merasakan seperti itu, sekarang lebih antisipasi. Berasa kemenangan itu hanya beberapa jam sejak keluar dari ruang sidang aja, setelah itu otak mulai mikir carut marut lagi. Jadilah cepet-cepet selesaiin revisian biar gak keburu galau lagi. 

Nah, sekarang aja pas perbanyakan draft trus ngajuin SKL rasanya udah kayak 'wahh kedepannya gimana ya.." Hmm.. Emang bener, satu tahapan terlewati bukan berarti kita selesai, tapi pasti ada tahapan selanjutnya yang gak kalah bikin galaunya, inilah hidup. 

Menurutku, inilah tahapan paling galau. Saat SKL sudah diajukan, status mahasiswa mulai dipertanyakan, Ijazah keluarnya lama, dan belum bisa apply kerjaan. Okeehh sedikit pengecualian kalau tahapan selanjutnya adalah menikah. 

Terus, rencana selanjutnya apa? 
Gw punya plan A dan plan B. Tapi ternyata ada juga punya plan A dan plan B buat hidup gw, begitu juga orang tua. Okelahh disini plan A, plan B, ataupun plan C bisa saja berubah dalam sekejap. Buat gw, jalani aja apa yang bisa dikerjakan sekarang, sambil mempersiapkan plan A, plan B, plan C yang nggak mungkin bisa terwujud secepat kilat. Dan, dari semua plan-plan itu, semoga Alloh menuntunku pada plan yang paling baik.

Thursday, December 31, 2015

Daily days of 2015: Catatan Akhir Tahun

Tahun ini memang berwarna sekali, meskipun rasanya masih belum maksimal. At least ada beberapa hal yang walaupun itu bukan pencapaian tapi terkenang. 

Finally panen, yapp!! Memang meleset dari perkiraan, jadi akhirnya padi baru bisa dipanen persis satu bulan sebelum Ramadhan. But whatever, alhamdulillah that my research going well. Sambil mempersiapkan naskah buat Oktober, pengamatan tetep jalan.

First time of snorkeling. Yah agak norak sih, tapi akhirnya bisa ngerasain berenang di laut beneran meskipun masih pakai pelampung dan masih belajar cara pakai alat bantu pernapasan. But overall saya ketagihan, dan besok-besok bakal mau snorkeling lagi. Walaupun belum bisa naik gunung, minimal udah bisa menikmati alam dengan sebaik-baiknya. 

Demisioner dari BPH FORSCA, rasanya seperti nyess masuk ke dalam air laut yang ombaknya tenang dan segar, airnya jernih dan bisa menghirup udara tanpa polusi. Selepas banyak banget masalah di dalamnya dan saya gak mau bahas karena cuma membuka luka lama, tapi yang patut saya syukuri adalah I found abundant of friends since then :)

Part of IPB-Ibaraki Summer Course, meskipun sebenarnya hanya iseng-iseng ikutan. Harapannya bisa memperlancar ngomong bahasa Inggris, trus juga nambah kawan dari Jepang. Sempat diamanahi juga jadi Kapten group D disini, yes everything goes well walaupun diakhir gak dapet kesempatan buat ikutan winter ke Jepang.. tapi ada yang lebih baik dari itu.

International Symposium of Root Research di Canberra, Australia. Yap, Alhamdulillah dapat kesempatan go International lagi meskipun saat ini baru bisa berkontribusi sebatas poster presentation aja.. The next harus lebih baik. Seneng bisa ketemu dengan orang-orang yang selama ini cuma bisa kenal nama mereka dari publikasi yang disitasi, seneng dapet kenalan dari berbagai negara, seneng akhirnya bisa menginjakkan kaki di benua lain, seneng bisa diskusi dengan orang-orang kritis..

Kesempatan ke Australia sendiri itu juga membuat saya banyak belajar survive, belajar berani mengambil keputusan sendiri, karena nggak ada siapa-siapa di sana dan cuma modal kenalan di facebook akhirnya punya kenalan yang whateverlah saya sangat bersyukur bisa kenal dengannya. As my work paid off with a lot of experiences and new friends.

terimakasih Ya Alloh untuk kesempatan berharga ini.

Yang agak meleset memang belum bisa lulus tahun ini, tapi Insya Alloh dalam sebulan ke depan. 

So, the next wishes nggak muluk-muluk..

1. Lulus S2 itu pasti number one
2. Kerja dan fokus ke karir
3. Nikah (bismillah)
4. Minimal bisa berkunjung ke 1 negara lagi di tahun ini, buat urusan akademik atau ibadah

Tuesday, November 3, 2015

Australia vs Indonesia

As I know Indonesia for long time and have a week visit Australia for a moment, I see that Indonesia and Australia both multicultural countries. Tapi bedanya, Indonesia multikultur karena banyak suku dan budaya di negara tersebut, sedangkan Australia multikultur karena penduduknya berasal dari berbagai etnis dunia.

Thursday, October 29, 2015

Solo Travel : anxiety which become addiction

First time of go abroad, I was took my own flight alone transit to Thailand. It was also my first flight, can you imagine it? Anxious? Of course! But I said to myself that I should be brave, and I did. 

When almost of my friends went abroad together with their Indonesian friends, taking many pictures and look very happy,  I was by myself and start to make a connection with new people around me. I met Nepal people and had a long conversation in the plane. 

Then, I met with other Indonesian student which also went to Japan at the same time as me in Thailand. Did you know what I felt? I was very happy that time, although I didn't knew them very well. It was also I felt that they were my brother, just because we were Indonesian among them. 

All the days in Japan was guided by my Korean friend. But then, when I should came back to Narita, I was alone because I was the only one who had earlier flight. The one I was afraid of is about the language, how if I cannot communicate well, because some of Japanese cannot speak English well. But, I'm afraid of nothing! 

Even I got lost, didn't know which Line should I took.. I came to information center and asked them. They were very kind, explained me well. If they could not speak English well, they used pen and wrote it to me so I understood. And I could get Narita safely! 

And then I becoming brave to go alone in Indonesia, especially Jakarta, Special Capital Region. I got lost so many times, but I'm not afraid again. 


It was a year ago, my first chance to go overseas...

Recently, I had another opportunity to joined  symposium in Canberra, Australia.  I was alone, yes, from the beginning. Although it partially funded, but I should managed it well because Australia known as one of the expensive country in the world. 

I was alone and have no relative in Australia, especially Canberra. When my friends usually went somewhere for conference had someone else arranged their needs, I should made it by myself. I started looking for Indonesian people there, and started making connection. Google and Facebook was my closest friends during that time. I was looking for Embassy of Indonesia, Indonesian Students Association (PPI Australia), many groups with correlates between Indonesia and Australia, Backpacker Dunia, etc and started to made connections. Not only about that, the accomodations during symposium, such as hostel and transportation, I should managed it well by myself, then I asked to Indonesian people which stayed in Australia to made it clear for me. 

Someone said to me that arranged the trip was interesting as the trip itself. And then, I believed it! 

It took more than 2 weeks just to arranged my trip from Melbourne to Canberra, and also from Canberra to Sydney. Which the landmark should I visited? What will I do there? How should I go there? 

Then, when I didn't catch the bus as I planned before, it was shocked me and I didn't know what should I did. I just want to cry! But, that was not the answer. I should arranged another plan quickly. Yes, I made it. Although in the bus, really, I was crying. I realized that I should depend on myself, so don't be weak people!!

When I cannot did something alone, it was lead me to asked someone did it for me. It was lead me to the new connection. Yes, of course! 

The last day in Canberra and Sydney, I made it alone. Walking arround the landmark area, and enjoyed it. From the City Hill to Capital Hill, from Darling Harbour to Opera House. Many people also walking alone, so what the matter if I walk by myself? 

When no body to be asked, I just follow my feeling to take the direction. Sometimes its true, but sometime it drive me to the other interest places. 

Walking like a crazy, and when I was tired just looking for the nearest bench or bus stop to sit and take a deep breath. 

It very contrast with Indonesian people, when after my arrival my friends ask me 'you did all by yourself?' and with confidence I said 'yes!'. Although I understood why they asked me that, because Indonesia is communal country. 

Someone told me that having trip with others isn't good idea if you want to enjoy something. I didn't think like that, if then my partner have the same vision with me. But if not, I prefer walking alone. 

Overall, Solo travel is teach me so many things.

Do not afraid! 
Do not depend in other! Whether if you cannot managed by yourself, you can ask other. 
Do not afraid of getting lost! you'll find new way
Do not afraid of failed! You always have chance to start it again

And if I have another chance, I want to travel alone again! It becomes Addiction.