Friday, February 12, 2016

Desperate

Entah rasanya pengin ngomong pakai bahasa planet mana gitu biar nggak ada yang tau sekalian.

Akhir-akhir ini rasanya yang semua udah dikerjakan jauh-jauh hari seperti sia-sia. Dua bulan sejak pulang dari Australia ngejar translate jurnal, ternyata reject sia-sia nggak disetujui buat dijadikan jurnal syarat kelulusan. Jadi bener-bener dua bulan yang sia-sia. 

Lalu lanjut sidang komisi bahas data buat nampilin data yang lebih simple, karena 23 varietas itu bikin data nggak bisa dipangkas dan menghabiskan 38 lembar baru buat data aja. 3 minggu kemudian setelah ngotak atik SAS, karena data yang udah selesai diuji lanjut DMRT semua ternyata suruh ganti pake BNT yang gak mau running kalau ada data hilang se-biji aja. Dan setelah maju revisian, ternyata data yang harus ditampilin itu harus lengkap walaupun gak bisa di olah pake statistik. Cuma bisa tarik napas, tepuk jidat dan ngeluh sendiri. Lah, bukannya kemaren data udah lengkap disuruh sederhana. Sekarang data sederhana suruh balik ke awal lagi.. Duh, rasa2 3 minggu ngolah ulang data itu sia-sia banget... Dan target seminar Februari mulai diatas awang-awang lagi. 

Dulu S1 sih nggak begini, ah tapi nanti jatuhnya banding2in pembimbing. Iya S1 step-nya lebih sederhana, gak perlu sidkom dan gak perlu publikasi jurnal. Jadi gak perlu ngiri sama anak S1 yang udah 2 generas lulus dan aku masih disini-sini aja.

Antara desperate dan pengin maju tapi kelajuan kayak keong. Belum lagi dimana-mana pada nanya kapan lulus, kapan seminar dan kapan sidang. Ya mungkin selama ini dikiranya ngak ada usaha buat nyelesaiin tesis, makanya sampe ditanya begitu. Belum lagi kalau dibanding-bandingin itu si A cepet, kenapa kamu lama banget sih? Ah rasany pengen nyumpel itu mulut yang ngomong. Walaupun kadang juga dibebal-bebalin, karena itu tandanya masih ada yang care. 

Disuruh ngedesak dosen buat cepet2 seminar dan sidang, duh nyaliku gak sebesar itu. Tata krama masih ada di nuraniku, dan toh kalaupun sudah siap pasti ada acc buat seminar ataupun sidang. 

Ah entahlah.. nggak tau lagi harus gimana. Nyalahin orang? Siapa yang mau disalahin. Antara desperate dan muka tembok yang hampir-hampir gak ada beda. Duh gini ya nasib mahaiswa telat lulus itu. Pertanyaan dan perhatian orang jadi seperti suatu ancaman. Mau dikeluhkan, ah aku lebih takut kalau dah gak ada lagi yang peduli denganku.

Mungkin sholatku kurang khusyu', sedekahku kurang banyak, dan puasa-ku nggak bener. Sampai2 hidup pun rasanya sulit sekali.


Thursday, December 31, 2015

Daily days of 2015: Catatan Akhir Tahun

Tahun ini memang berwarna sekali, meskipun rasanya masih belum maksimal. At least ada beberapa hal yang walaupun itu bukan pencapaian tapi terkenang. 

Finally panen, yapp!! Memang meleset dari perkiraan, jadi akhirnya padi baru bisa dipanen persis satu bulan sebelum Ramadhan. But whatever, alhamdulillah that my research going well. Sambil mempersiapkan naskah buat Oktober, pengamatan tetep jalan.

First time of snorkeling. Yah agak norak sih, tapi akhirnya bisa ngerasain berenang di laut beneran meskipun masih pakai pelampung dan masih belajar cara pakai alat bantu pernapasan. But overall saya ketagihan, dan besok-besok bakal mau snorkeling lagi. Walaupun belum bisa naik gunung, minimal udah bisa menikmati alam dengan sebaik-baiknya. 

Demisioner dari BPH FORSCA, rasanya seperti nyess masuk ke dalam air laut yang ombaknya tenang dan segar, airnya jernih dan bisa menghirup udara tanpa polusi. Selepas banyak banget masalah di dalamnya dan saya gak mau bahas karena cuma membuka luka lama, tapi yang patut saya syukuri adalah I found abundant of friends since then :)

Part of IPB-Ibaraki Summer Course, meskipun sebenarnya hanya iseng-iseng ikutan. Harapannya bisa memperlancar ngomong bahasa Inggris, trus juga nambah kawan dari Jepang. Sempat diamanahi juga jadi Kapten group D disini, yes everything goes well walaupun diakhir gak dapet kesempatan buat ikutan winter ke Jepang.. tapi ada yang lebih baik dari itu.

International Symposium of Root Research di Canberra, Australia. Yap, Alhamdulillah dapat kesempatan go International lagi meskipun saat ini baru bisa berkontribusi sebatas poster presentation aja.. The next harus lebih baik. Seneng bisa ketemu dengan orang-orang yang selama ini cuma bisa kenal nama mereka dari publikasi yang disitasi, seneng dapet kenalan dari berbagai negara, seneng akhirnya bisa menginjakkan kaki di benua lain, seneng bisa diskusi dengan orang-orang kritis..

Kesempatan ke Australia sendiri itu juga membuat saya banyak belajar survive, belajar berani mengambil keputusan sendiri, karena nggak ada siapa-siapa di sana dan cuma modal kenalan di facebook akhirnya punya kenalan yang whateverlah saya sangat bersyukur bisa kenal dengannya. As my work paid off with a lot of experiences and new friends.

terimakasih Ya Alloh untuk kesempatan berharga ini.

Yang agak meleset memang belum bisa lulus tahun ini, tapi Insya Alloh dalam sebulan ke depan. 

So, the next wishes nggak muluk-muluk..

1. Lulus S2 itu pasti number one
2. Kerja dan fokus ke karir
3. Nikah (bismillah)
4. Minimal bisa berkunjung ke 1 negara lagi di tahun ini, buat urusan akademik atau ibadah

Tuesday, November 3, 2015

Australia vs Indonesia

As I know Indonesia for long time and have a week visit Australia for a moment, I see that Indonesia and Australia both multicultural countries. Tapi bedanya, Indonesia multikultur karena banyak suku dan budaya di negara tersebut, sedangkan Australia multikultur karena penduduknya berasal dari berbagai etnis dunia.

Thursday, October 29, 2015

Solo Travel : anxiety which become addiction

First time of go abroad, I was took my own flight alone transit to Thailand. It was also my first flight, can you imagine it? Anxious? Of course! But I said to myself that I should be brave, and I did. 

When almost of my friends went abroad together with their Indonesian friends, taking many pictures and look very happy,  I was by myself and start to make a connection with new people around me. I met Nepal people and had a long conversation in the plane. 

Then, I met with other Indonesian student which also went to Japan at the same time as me in Thailand. Did you know what I felt? I was very happy that time, although I didn't knew them very well. It was also I felt that they were my brother, just because we were Indonesian among them. 

All the days in Japan was guided by my Korean friend. But then, when I should came back to Narita, I was alone because I was the only one who had earlier flight. The one I was afraid of is about the language, how if I cannot communicate well, because some of Japanese cannot speak English well. But, I'm afraid of nothing! 

Even I got lost, didn't know which Line should I took.. I came to information center and asked them. They were very kind, explained me well. If they could not speak English well, they used pen and wrote it to me so I understood. And I could get Narita safely! 

And then I becoming brave to go alone in Indonesia, especially Jakarta, Special Capital Region. I got lost so many times, but I'm not afraid again. 


It was a year ago, my first chance to go overseas...

Recently, I had another opportunity to joined  symposium in Canberra, Australia.  I was alone, yes, from the beginning. Although it partially funded, but I should managed it well because Australia known as one of the expensive country in the world. 

I was alone and have no relative in Australia, especially Canberra. When my friends usually went somewhere for conference had someone else arranged their needs, I should made it by myself. I started looking for Indonesian people there, and started making connection. Google and Facebook was my closest friends during that time. I was looking for Embassy of Indonesia, Indonesian Students Association (PPI Australia), many groups with correlates between Indonesia and Australia, Backpacker Dunia, etc and started to made connections. Not only about that, the accomodations during symposium, such as hostel and transportation, I should managed it well by myself, then I asked to Indonesian people which stayed in Australia to made it clear for me. 

Someone said to me that arranged the trip was interesting as the trip itself. And then, I believed it! 

It took more than 2 weeks just to arranged my trip from Melbourne to Canberra, and also from Canberra to Sydney. Which the landmark should I visited? What will I do there? How should I go there? 

Then, when I didn't catch the bus as I planned before, it was shocked me and I didn't know what should I did. I just want to cry! But, that was not the answer. I should arranged another plan quickly. Yes, I made it. Although in the bus, really, I was crying. I realized that I should depend on myself, so don't be weak people!!

When I cannot did something alone, it was lead me to asked someone did it for me. It was lead me to the new connection. Yes, of course! 

The last day in Canberra and Sydney, I made it alone. Walking arround the landmark area, and enjoyed it. From the City Hill to Capital Hill, from Darling Harbour to Opera House. Many people also walking alone, so what the matter if I walk by myself? 

When no body to be asked, I just follow my feeling to take the direction. Sometimes its true, but sometime it drive me to the other interest places. 

Walking like a crazy, and when I was tired just looking for the nearest bench or bus stop to sit and take a deep breath. 

It very contrast with Indonesian people, when after my arrival my friends ask me 'you did all by yourself?' and with confidence I said 'yes!'. Although I understood why they asked me that, because Indonesia is communal country. 

Someone told me that having trip with others isn't good idea if you want to enjoy something. I didn't think like that, if then my partner have the same vision with me. But if not, I prefer walking alone. 

Overall, Solo travel is teach me so many things.

Do not afraid! 
Do not depend in other! Whether if you cannot managed by yourself, you can ask other. 
Do not afraid of getting lost! you'll find new way
Do not afraid of failed! You always have chance to start it again

And if I have another chance, I want to travel alone again! It becomes Addiction.

Monday, October 26, 2015

Menghargai Kebaikan Demi Tumbuhnya Kebaikan-kebaikan Lainnya

Beberapa waktu lalu saya sempat kehilangan HP, atau lebih tepatnya saya menjatuhkannya secara tidak sengaja setelah nonton semifinal badminton Pasca Cup di GOR Lama IPB. Saya sudah ikhlaskan kalau memang rezeki ya balik, tapi kalau bukan yasudah biarkan. Ternyata seseorang menemukan HP saya dan memposting ke semua grup yang saya ikuti bahwa saya diminta menghubungi dan menemui dia. Besok paginya informasi itu sampai ke saya, dan langsung ditindaklanjuti. Menurut cerita yang menemukan, alarm HP saya bunyi terus-terusan dari jam 2 pagi dan itu yang membuat dia menyadari kalau ada HP yang jatuh. Dia mengambil HP saya dan memposting informasi kalau dia menemukan HP saya. Beberapa waktu kemudian saya putuskan untuk mengirimi pulsa ke nomor orang yang menemukan HP saya tersebut, walaupun mungkin orangnya bakal menolak kalau saya kasih secara langsung. 

Dia punya kesempatan untuk mengambil dan memanfaatkan HP saya sesuka dia karena dia yang menemukan. Dia bisa menjual dan mendapatkan uang lebih besar dari smartphone yang dia temukan. Tapi dia memilih untuk mengembalikan ke pemiliknya walaupun dia nggak akan mendapatkan apa-apa. 

Inilah patut dihargai, pilihannya untuk jujur. 

Walaupun nggak banyak, bukan hanya sekedar bentuk terimakasih, dan tentu saja bukan membentuk pola pikir berbuat baik agar mendapat balasan orang yang lebih banyak. Pola pikir ini bukan membentuk budaya sedikit-sedikit memberi, tapi bagaimana kita menghargai kejujuran dan kebaikan. Saya hanya berharap dengan adanya apresiasi ini akan lebih banyak orang yang berbuat kebaikan. 

Bahkan ketika merepotkan seseorang untuk melakukan ini itu, walaupun orang itu mengatakan tidak mengapa, tapi saya tetap ingin mengapresiasi kebaikannya dengan memberi sesuatu walaupun itu kecil. 

Jika berbuat kebaikan dan kejahatan mendapat perlakuan yang sama, apa bedanya? 

Seorang yang telah berbuat kebaikan harus mendapatkan apresiasi agar semakin banyak orang berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan.

Saturday, October 24, 2015

7th Day in Australia - Sydney!

Itinerary awal saya adalah saya jalan aja lurus sepanjang Pitt steet, nanti saya ketemu Sydney tower dan terus aja lurus nanti ketemu Circular Quay dan tinggal jalan saja mau ke Sydney Harbour Bridge dulu atau ke Opera House dulu. Cuma sekita 30 menit jalan kaki, jadi gak jauh lah ya sambil jalan santai. Toh saya bakal stay di sana kurang lebih 2 jam. 

Tapi setelah tadi malem lihat-lihat peta dan ternyata Paddy's Market sama Chinatown itu gak sampai 10 menit dari hostel saya, jadi saya ubah itin. Paddy's Market di website tulisannya jam 9, berarti saya mulai jalan jam 08.30 aja.

Saya check out jam 8.30 am setelah sarapan dan ngenet di lobby hampir 2 jam. Nggak lupa saya beli postcard dulu, karena saya gak yakin beli di tempat lain ada yang lebih murah dari ini. 

Perjalanan dimulai menuju ke arah Hay street. Nggak jauh beda dengan Canberra, kalau jam segini memang masih sepi jalanan. Sepertinya memang benar dugaan saya pas pertama kali di Melbourne, budaya Australia adalah menikmati malam sampai larut dan memulai aktivitas agak siang. Jauh banget sama kebiasaan saya dimana jam 10 atau 11 itu sudah maksimal, dan jam 4 harus sudah bangun. Jadi kalau mau cari suasana sepi, atau mau ambil objek gambar saat sepi biar lebih leluasa, cobalah bangun dan mulai aktivitas dari jam 7 pagi.


Paddy's Market & Chinatown

Kenapa saya bahas ini dan apa sih pentingnya? hhehe. Buat para pemburu oleh-oleh, disinilah lokasi yang tepat. Paddy's Market dengan harga yang lumayan, atau ke Chinatown yang harganya lebih miring tapi buatan China semua. Its up to you!
Paddy's Market
Ya walaupun akhirnya disini sama cuma foto-foto doang, karena ternyata bukanya jam 10.00 dan gak mungkin dong saya nunggu sampai jam 10.00. Saya masih pengin ke Harbour Bridge dan jam 2 harus udah berangkat ke Airport.
China Town
Selanjutnya saya jalan ikutin kata hati saja, pokoknya tujuannya ke Harbour Bridge dan saya akan teru pantau MAPS.ME kalau-kalau saya berjalan menjauhi target. Sepanjang masih di rute yang benar, mau belok-belok pun terserah. Jalan nggak perlu sekaku itu kan? hhehe

Tiba-tiba saya melihat arah jalan menuju Darling Harbour (Harbour street) dan feeling saya Darling Harbour nggak jauh dari sini. Akhirnya saya ikuti jalan tersebut sambil sesekali memperhatikan Map. Nggak jauh, hanya sekitar 0.5 km saya sudah merasakan suasana pantai. Dan hmm, tepat di depan saya sudah pantai.


Darling Harbour

Sengaja saya ambil gambar dari beberapa sudut, karena satu gambar gak akan mewakili semua. Di sini ada Sydney Sea Aquarium, tapi tentu saja berbayar. Saya nyarinya yang gratis-gratis aja, hhehe. Kebanyakan kapal-kapal disini memang buat cruise sih, dan tentu saja itu gak murah.
Darling Harbour (1)
Darling Harbour (2)
Darling Harbour (3)
Darling Harbour (4)
Menyusuri Pantai
Dari Darling Harbour, saya jalan terus saja mengikuti garis pantai sampai ketemu King Street Wharf dan terus jalan sampai Bangaroo point. Sesekali kalau menemukan kursi saya istirahat, foto-foto sambil menikmati pemandangan. Lagi-lagi yang saya bersyukur, pedestriannya nyaman banget! Kapan lagi saya bisa berjalan sepanjang garis pantai yang menggambarkan dua sisi kontras, sebelah kanan bangunan-bangunan tinggi dan sebelah kiri pantai. 

Jalan kaki tuh nggak cuma karena ngirit, tapi banyak moment yang terlewatkan kalau kita nggak menjelajahinya sambil jalan kaki. Kadang-kadang saya tertawa geli dengan julukaan Institut Perbesaran Betis, plesetan kepanjangan IPB, karena kita sering banget berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain. Kenyataannya, itu nggak seberapa dibanding di luar negeri dan saya bersyukur sudah terlatih buat berjalan kaki sejauh itu.

Sydney Tower
Bangaroo ini ternyata panjang sekali, hingga diujung saya melihat bukit yang lebih tinggi dari sekitarnya dan saya melihat menara yang tinggi. Saya nggak tau itu tower apa, tapi firasat kok menyuruh saya mengabadikan lewat video. Nah, setelah sampai di Indonesia dan googling-googling, lalu saya amat-amati lagi video itu dn saya baru tau kalau itu Sydney Tower.
Saya rekam semua dari ujung ke ujung. Dan, hmm sepertinya akan ada hal yang mengejutkan selepas saya berjalan melewati bukit itu.

Perjalanan kali ini dimana saya lebih banyak mengikuti feeling saya, ternyata malah membawa saya melihat banyak hal daripada rencana awal saya. Nggak ada salahnya mengikuti feeling, setelah perencanaan yang matang.

Kecepatan jalan saya tentu sangat menurun dibanding kemarin di Canberra. Ya tentu saja, kaki yang lecet nggak akan sembuh dalam semalam. Jadi hari ini saya banyak luangkan waktu untuk berjalan, sedikit-sedikit istirahat. Bukan karena lelah, tapi karena makin jalan makin perih luka-nya. Jadi pelajaran berikutnya, kalau pergi jangan lupa bawa sandal terbuka buat antisipasi kalau lagi kayak gini.

Saya jalan dan terus berjalan sampai perih kaki nggak terasa lagi. Angin pantai rasanya sejuk walaupun terik matahari mulai menyengat. Sepanjang bukit, saya banyak dengar orang berbicara bahasa Indonesia dengan serius. Iyah, banyak orang Indonesia di Sydney dan lebih banyak dibanding Canberra. 

Setelah belokan, saya lihat jembatan besar sekali dan ada 2 bendera Australia berkibar di atasnya. Whaaa itu Sydney Harbour Bridge, bener-bener hadiah atas kelelahan sepanjang jalan.

Sydney Harbour Bridge dari sudut pertama kali saya lihat
Saya tahu setelah ini rute-rute sudah terduga, tapi tetep saya nggak tau seberapa jauh saya harus jalan sampai bisa melihat Circular Quay dan Opera House. Prinsip saya jalan aja, semuanya bakal terbayar!

Bener.. gak berselang lama saya lihat Opera House dari jauh.. Trus kompleks bangunan yang padat di kawasan Circular Quay. Ah, saya melewatkan satu tempat yaitu the Rocks dimana saya melewatinya tapi sama sekali nggak ngambil gambar di sana. Lalu sengaja saya ambil satu objek dari banyak sudut, yeah nice!

Dari arah Sydney Harbour Bridge

Dari sudut sebelum circular Quay saya duduk di pinggir pantai, ya ada kayu yang bisa buat duduk. Saya ambil gambar Opera House dari sudut sini. Hati-hati HP nyebur ke laut, gak bisa diambil! Sebelah saya seorang turis yang juga sedang benerin kamera-nya ngelihat ke arah saya yang sedari tadi asyik selfie dan foto-foto, lalu dia bersuara agak nggak jelas tapi buat saya kaget sampe saya bersuara 'aa?' Si turis juga kaget dan langsung melihat ke arah saya *noted!! Di sini tuh yang turis kamu za!! Hhaha*. Kalau memang dia niat komunikasi, pasti dia senyum ke arah saya, lah ini saya senyum dia ngelihat saya aneh. Walah.. woles lah!!

Eh, anw saya baru sadar kalau sepanjang saya di Sydney saya gak lihat orang berjilbab di tempat-tempat wisata, nggak seperti di Floriade kemarin dimana banyak banget orang berjilbab. Oh ya, kalau lihat orang yang muka-muka Indonesia jangan terlalu yakin kalo dia bener dari Indonesisa sampe kamu denger dia bicara, bisa jadi dia dari Malaysia. Udah beberapa kali awak tertipu penampilan.
Pas dibawah Sydney Harbour Bridge

Saya terus jalan melewati Circular Quay atau mungkin lebih pas disebut dermaga kali ya.. Terus mengikuti jalan dan saya masuk di kawasan Opera House.  Di kawasan opera house sudah nggak ada peneduh lagi, kuat nggak kuat, sanggup nggak sanggup ya panas-panasan. Puanas-nya nyengat pula. Kalau dari Opera house, saya nggak bisa ngambil gambar yang bagus. Eh tunggu, ada tangga ke arah Royal Botanic Garden dan saya naik ke sana. Dan memang benar, karena posisinya lebih tinggi maka saya bisa ambil gambar 2 object sekaligus. 

Setelah puas selfie dan ambil gambar dari Royal Botanic Garden, saya jalan lagi ke Opera House dan menyusuri sepanjang jalan. Eh, ketemu anak SMP yang lagi study tour dan seragam-nya mirip Harry Potter, wkwkwk. Saya naik lagi dan makin panas, ya iya, irang udah jam 11 lewat.
The best selfie, ever! Hhaha
Dua object yang saya ambil dari Royal Botanic Garden
Karena jalan-jalan itulah saya tau kalau ternyata bagian depan Opera House itu restoran. Nah, foto-foto di sepanjang jalan ini mah gfatis. Tapi kalau mau masuk ke Gedung Opera, bayar. Gedung opera yang besar itulah yang bener-bener buat penampilan orkestra *ah sotoy ni* 

Dari pinggiran Opera House saya lihat ke arah Harbour Bridge berdiri tegak dengan angkuhnya. Waw!! Akhirnya saya ambil gambar juga dari sudut sini. Memang bener, tiap sudut menawarkan keindahan yang berbeda. 

Saya masih kuat-kuatin buat terus jalan muterin Opera House, tapi saya gak sanggup muterin Royal Botanic Garden *kebayang muterin Kebun Raya Bogor* Tapi pas jam 12.00 saya langsung jalan ke arah Circular Quay lagi. 

Saya laper dan pengin makan sih sebenernya, tapi saya gak mau makan di sini. Nanti aja di bandara biar puas, sekarang mah minum aja. Tapi kok susah nyari yang jual air mineral. Dan sebenernya mikir juga kalo beli air mineral 3 AUD, muahall. 
Circular Quay Station
Yap, saya jalan mencari Circular Quay Station dan rencananya saya mau ke bagian informasi aja biar dibantu cara beli tiket. Ehh, beli tiketnya pake mesin ternyata. Kalo bahasa Inggris sih saya gak masalah, tapi ketika saya di depan mesin saya-nya yang bingung seketika. Trus saya bilang ke orang di belakang saya "I'm sorry, can you teach me how to buy the tickey?" dan dia langsung mendikte-kan prosedurnya ke saya "Oh.. just choose the ticket type you will buy.." katanya sambil nunjuk layar touch screen. Saya pilih 'one way'. "Then your destination" dan saya tekan 'International Airport' dan terakhir 'are you student?' Lalu saya tekan 'student' dan keluarlah nominal yang harus saya bayar. Itupun saya gak lihat monitor dan malah bertanya 'how much' tapi si ibu di belakang saya bilang 14 AUD sambil nunjuk ke monitor dan saya baru sadar kalau ada di monitor. Saya punya receh banyak, tapi saya gak yakin kalau itu cukup, jadi saya masukkan 20 AUD dan keluarlah tiket beserta kembaliannya. 

"Thank you very much" kata saya sambil bungkuk-kan badan. Duh bawaan budaya, bawaan bener-bener bawaan. "Yes.. and have a safe trip till your destination" katanya. Kereta saya 2 menit lagi, dan saya terus lihat platform. Saya harus naik ke platform 2 dimana kereta saya akan berhenti. Saya langsung naik eskalator dan pas saya sampai, kereta berhenti. Saya langsung naik dan memilih duduk di atas. Keretanya tingkat lhoo... dann sepi!! 

Kebingungan saya pas di Jepang ternyata jadi pelajaran tersendiri. Di sini saya nggak bingung lagi nyari platform, ya memang sih gak sebanding, karena di jepang banyak banget line-nya. 

Saya milih duduk dibelakang yang satu kursi, biar gak repot pas turun. Nah, kebetulan saya sudah print map kereta NSW nih, jadinya saya keluarin dan cek seberapa jauh yang harus saya tempuh. Dann.. di depan ada tulisan stasiun mana kita akan berhenti, nanti juga ada pemberitahuan lewat pengeras suara. Dan semuanya dalam bahasa Inggris, jadi tenang aja, hhehe. 

NSW Train

Keretanya tingkat ^^

Platform-nya banyak banget di Sydney Central

Kemaren sempat ragu-ragu mau naik kereta dari Sydney Central, iya untung gak.naik dari situ. Buat newbie mending jangan, karena pasti bingung setengah mati. Platform-nya juga buanyak banget. Ini saya fotoin dari dalam kereta. 

Selama di Australia, cuma tram yang belum saya rasain. Kemaren di Melbourne ada sebenernya. 


Sydney Kingsford Smith International Airport
Setelah sampai airport, saya langsung naik. Dan mulai mencari-cari lokasi check in-nya. Karena saya udah jalan dari A sd H, akhirnya saya tanya ke pusat informasi sambil nunjukin tiket saya. Lalu dikasih tau, harus-nya di H tapi sepertinya counter baru akan dibuka 3 jam lagi. 

Okay, saya laper dan mau makan dulu kalo gitu. Sekalian ngabisin uang koin, hehe. Saya selalu inget kalau uang koin gak bisa digukar di moneu changer. 

Saya makan nasi oriental pake chicken teriyaki, yang gitu doang harhanya 9 dollar. Tapi porsinya besar sih, dan sangat cocok dengan saya yang kelaperan meskipun gak bisa ngabisin dalam waktu cepat. Akhirnya saya buka hp dan sambungin ke wifi gratisan di bandara, sambil browsing dan ngirim whatsapp ke temen-temen. Sambil juga posting soal praktikum dasgron di LiNE mereka, wanti-wanti ntar malem pada nanya pas saya lagi di pesawat. 

Nah, tetiba gabut dan iseng-iseng saya buka google map penasaran sama radius yang saya tempuh hari ini. Daebak! 4 km lebih ternyata.. Itu kalo saya lewat Pitt Street, lah ini saya muterin pinggir-pinggir pantai itu.. pasti 7 km pun lewat itu.. Saya gak mau ngitung tadi, karena kalau saya tau pasti saya udah putus asa, apalagi dengan kaki yang begitu keadaannya. Wajar juga sih, saya jalan terus dari jam 8 sd 12 siang, yang berhentinya paling cuma 5 menit - 5 menit aja.. Wuahh daebak! Pasti saya tepar sampe kosan. Dan padahal besok pagi ngasprak. 

Tapi puas! Meskipun saya tepar di Bandara dan cuma duduk nunggu counter check in sambil baca buku dan ngenet. 


Fyi, sampai tulisan ini saya selesaikan (kurang lebih udah 2 minggu) kaki saya yang lecet baru sembuh dan jempol kaki kiri saya masih sakit kalau buat jalan. Overall, its okay!

6th Day in Australia - Canberra!

Rute 'jalan pagi sehat' menyusuri Canberra ^^
Dari City Hill ke Capital Hill
Seperti rencana tadi malam, saya check out tepat jam 7.00 pm dan langsung jalan menuju Capital Hill. Saya tau sih perkiraan jalan paling lama cuma 1 jam, tapi saya pengin jalan santai dan bakal banyak mampir-mampir. Jam 8.00 di Parliament House, jam 9.30 ke Canberra Mosque mau sholat dan istirahat agak lamaan, baru jam 11.00 ke KBRI karena yang namanya festival pasti rame banget.

Huuufff...... saya menarik napas panjang, perjalanan ini akan panjang dan menyenangkan. Udara pagi yang masih dingin ini membuat saya tetap memakai jaket, meskipun saya yakin siang nanti cuaca akan berubah drastis. Sebenernya ada bus no 900, tapi waktu saya check kok cuma sampai bus stop depan Albert Hall dan setengahnya lagi saya masih harus jalan, halah nanggung. Akhirnya saya memutuskan buat jalan aja.
jalan pintas buat pedestrian dari London Circuit
Daebak! Sepagi ini pun banyak banget yang udah jogging, dan sepanjang Lake Burley Griffin penuh orang olahraga. Atau, ah ya saya melupakan sesuatu. Hari ini kan tanggal 10 Oktober 2015, 2 hari terakhir Floriade tahun ini dibuka untuk umum, mungkin mereka mau ke Floriade *gumamku dalam hati*
Pedestrian di Regatta point, dekat Commonwealth Park dimana Floriade diselenggarakan
Saya suka jalan pagi, saat udara masih segar dan jalanan masih lengang. Berasa lega sekali. Sambil menikmati pemandangan dan sambil buka GPS kalau-kalau 'nyasar' atau berbelok ke arah jalan yang semakin menjauh dari tujuan utama. Berjalan sendiri membuat saya berani. Berani jalan sendiri, berani nyasar, berani bertanya, dan berani menentukan keputusan. Kalau tiba-tiba saya bingung, saya akan berhenti duduk sebentar di trotoar atau halte bus untuk sekedar minum air putih dan menenangkan pikiran.

Memang ada bedanya cuaca di Indonesia dan Canberra, meskipun pagi hari udaranya sejuk tapi kelembapannya rendah. Jadi badan kuat, capek nggak berasa, tapi kalau dipaksa napasnya makin sesak. Jadi tiap capek sedikit saya istirahat, dan memang harusnya bawa minum yang banyak. 
Pedestrian menuju Albert Hall
Nah, sampai di depan Albert Hall saya udah nggak kuat. Atau mungkin efek bawaan saya yang riweuh dan tas punggung yang berat. Eh bukan itu, tapi kaki saya yang udah lecet duluan karena kemaren udah pemanasan muter-muter Lake Burley Griffin berasa jadi dikit-dikit harus istirahat. 

Tapi yang jauh bikin saya tetep semangat terus jalan adalah, rugi jauh-jauh ke Australia nggak maksimalkan waktu buat ngunjungi tempat-tempat bagus atau iconic. Sejauh ini pemandangan di Canberra bagus-bagus dan ramah lingkungan, jadi semangat buat mengunjungi lebih banyak tempat semaksimal yang saya mampu.
 
Rehat sebentar di bus stop depan Albert Hall
Setelah mulai seger lagi, saya lanjut jalan. Keisengan saya makin menjadi-jadi, ngefotoin gulma yang kira-kira unik, pedestrian, daun-daun kering, dll. Gak papalah iseng, daripada nyampe Indonesia nyesel gak ngambil gambar. 


Parliament House
 
Nah, selain pake GPS saya juga banyak ngikutin feeling. Kalo dari GPS harusnya saya lurus aja ikutin jalan raya, tapi waktu nemu rute pedestrian ke Parliament House feeling saya bilang ikutin aja pedestrian ini, kalo nyasar toh ada GPS ini. 

Pedestrian street menuju Parliament House
Akhirnya saya ikutin rute khusus pedestrian ini, dan jalannya bener-bener sepi. Mungkin saya adalah orang pertama yang lewat jalan ini sepagi ini. Seperti kebun yang dibuat jalan setapak. Saya ikutin terus jalan, sampai ketemu jalan raya besar dimana sebelah kanan adalah Parliament House dan yang kiri Old Parliament House. 

Old Parliament House
Wow, keren yaa.. 

Nggak cuma keren bangunannya, tapi keren manajemennya. Meskipun udah nggak kepake lagi, tapi Old Parliament House tetep dijaga. Dengan posisi yang berhadapan pun memungkinkan orang tetep inget dengan Old Parliament House ketika mengunjungi Parliament House (new).

Parliament House (New)
Diantara dua Parliament House inilah saya akhirnya duduk aja di rumput (biasa kalau di luar negeri mah) naroh semua barang bawaan dan mulai menjalankan misi titipan foto dari temen-temen. Jadi kebiasaan di Indonesia, kalau ada kawan keluar negeri selalu dititipin foto beserta ucapan sukses dan fotonya diambil di tempat iconic negara tersebut. Berat kan? hhaha, enggak juga. Sebagai ganti oleh-oleh yang sejak awal saya bilang saya gak baka beli oleh-oleh, jadi saya perjuangin-lah ini. 

Setelah selesai tugas negara, lanjut selfie. Resiko ngetrip sendiri ya begini, kalau siang sih enak banyak orang lalu lalang yang bisa diminta tolong fotoin, lah kalo pagi ya begini, wkwk. Tapi inget target, jam 2 saya harus udah berangkat ke Sydney. Jadi semuanya harus udah dikunjungi sebelum jam 2 siang. 

Over all saya enjoy. Nggak perlu malu-malu, toh nggak ada yang kenal. Yang penting lagi, kalau malu ya nggak punya foto, udah itu aja. 

Terus saya istirahat sebentar, sambil minum air putih. Ngelihat langit yang birunya cerah banget, woahh pengin rasanya berbaring di lapangan yang rumputnya hijau-hijau ini. Rasanya pengin disini lama, sampai siang kalau bisa dan ikutan tour ke dalam Parliament House.


Muterin State Circuit

Ini mah gara-gara saya salah lihat peta, harusnya saya balik arah buat ke International Embassy biar lebih deket. Tapi saya malah jalan lurus. Memang gak salah sih, tapi muternya jauh banget. Tapii, yasudahlah ikutin sakja. Seperti tadi, jalan aja semampunya dan kalau capek istirahat. Toh feeling gak pernah bohong, pasti ada sesuatu yang bakal ditemui nantinya.

Sepanjang jalan, cuma saya seorang yang jalan kaki sepanjang State Circuit. Tapi lah biarin aja, gak ada yang kenal ini wkwkwk. Sepanjang ada pedestrian, itu aman. Tapi makin rame jalan, makin banyak simpangan, makin hati-hati nyeberangnya. Sempat sekali kelelahan dan berhenti di bus stop.

Saya hafalin, pokoknya kalau udah lewat Perth Avenue langsung belok kiri. Setelah itu, KBRI ada di kanan jalan. Lurus aja sampe nemu persimpangan jalan, terus ke kiri dikit, nanti ada masjid. Dan.. WOW!! Di persimpangan Perth Avenue ke Darwin Avenue banyak sekali mobil diparkir, dan saya denger suara mikrofon pake bahasa Indonesia. Ya, itu KBRI.


Kanguru

Di tengah kelelahan saya, saat saya mau menyeberang jalan menuju Canberra Mosque, di Stirling Park tepat di persimpangan Perth Avenue dan Empire Circuit (depan Embassy of Mexico), tiba-tiba saya lihat 3 kanguru melompat-lompat. Whoaa... Kanguru! Refleks pengin ambil gambar, tapi belum sempat kamera keluar dari saku, si Kanguru udah lmenghilang.

Bener kata Daniel kemaren, kalo beruntung kita bisa lihat di taman kota :)) *merasa beruntung*. Saking beruntungnya sampai nggak sempat ngambil gambar atau merekam video. Tapi pokoknya udah lihat Kanguru di Australia :)


Canberra Mosque

Lokasinya di Empire Circuit Yarralumla, dari Perth Avenue belok kiri nggak sampai 10 meter saya sudah melihat kubahnya. Walaupun nggak seperti masjid-masjid di Indonesia, saya tetep bisa mengenalinya kalau itu sebuah masjid. Pertama, GPS saya mengatakan kalau ini lokasi masjid. Kedua, lagi-lagi feeling.

Setelah mengambil gambar masjid dari luar, saya langsung masuk ke dalam. Feeling saya pasti ada orang, karena ada 2 mobil parkir di depan halaman masjid. Seketika saya masuk, saya bengong, ternyata masih halaman, jadi gak mungkin dipakai istirahat. Saya taruh tas di kursi yang tersedia, kalaupun nggak bisa masuk ke dalam masjid seenggaknya saya bisa istirahat di luar. 

Canberra Mosque
Ternyata saya salah. Beberapa saat kemudian seorang ikhwan keluar dan bertanya pada saya dalam bahasa Inggris yang intinya apakah saya mau istirahat? Kalau iya sebaiknya di dalam saja, sebab disini banyak orang berlalu lalang. Di dalam saya bisa lebih nyaman, bisa sholat ataupun istirahat sambil menyalakan AC *ini udah dingin kok masih ditawarin nyalain AC*. Then, tiba-tiba dia bertanya "You will go to Indonesian Embassy?" dan saya jawab "Yes". "So, you are Indonesian" katanya. "Yes" saya jawab lagi. "Saya juga orang Indonesia mbak" katanya sambil senyum. "Oh" kata saya. Muka saya pucat kecapekan banget waktu itu, sampe nggak bisa ngenalin si mas ini yang jelas-jelas pronounciation-nya Indonesia banget. 

"Mau istirahat di sini apa di sana?" tanyanya. "Di sini aja" jawab saya. Bener-bener kalau udah kecapekan gak bisa basa-basi lagi. Lalu saya diantar ke tempat wanita, ada tempat wudlu, bisa sholat dan ada AC. Karena saya lihat ada kode di pintu, lalu saya tanya apa pintunya ada kode-nya? Kata mas-nya iya kalau dari luar, kalau dari dalam nggak ada. Saya tutupkan pintunya. "Remote AC-nya di atas ya mbak" masnya teriak sebelum saya naik tangga. Gak sempat nanya namanya siapa, dari mana ataupun sekolah dimana. Bener-bener akut saya -_- 
Muara dari kegilaan ini: Canberra Mosque
Setelah meletakkan tas, saya langsung menyalakan AC dan kemudian meluruskan kaki. Alhamdulillah. Sambil istirahat, saya baca buku 'student traveler'-nya kak Annisa Hasanah. Saking serunya, saya nggak ma berhenti. Saat traveling dan baca buku traveling, jadi nambah semangat.

Kaki saya yang lecet mulai agak baikan, lalu saya sempatkan charging HP pake universal adaptor yang selalu saya bawa kemana-mana. Perjalanan saya masih lama dan saya butuh GPS minimal sampe saya sampai Sydney Central malam ini. Lalu saya turun ambil wudhu, seneng rasanya lihat toilet basah lagi, hhaha (Biasa hidup dengan toilet basah, tetiba dihadapkan toilet kering rasanya bikin stress).
 
Saya sholat dhuha 2 rakaat, lalu banyak merenung dengan pertanyaan-pertanyaan dalam benak saya. Seberapa jauh perjalanan saya hingga berujung di tempat ini sekarang. Terimakasih ya Alloh atas segala yang Engkau berikan, kesempatan untuk bisa menginjakkan kaki di Australia dan merasakan bisa sholat di masjid setelah hampir 1 minggu tak mendengar adzan.

Canberra Mosque adalah tempat yang pertama kali masuk dalam ittinerary saya sejak memutuskan ikut simposium. Kenapa? Sejauh-jauh kita pergi, bukankah pada akhirnya yang kita nantikan adalah ketika berkumpul dengan teman se-agama atau se-bangsa?  Saya punya impian untuk dapat mengunjungi masjid di setiap negara yang saya kunjungi dan alhamdulillah Canberra Mosque adalah masjid yang pertama kali saya kunjungi selama di luar negeri. Selain untuk beribadah dan berkumpul dengan sesama muslim, saya ingin tau sejarah pembangunan tiap-tiap masjid yang pasti berbeda-beda di setiap negara. Dengan begitu saya bisa tau kehidupan muslim di setiap negara. Semoga saja saya mendapat kesempatan keluar negeri lagi kedepannya, aamiin.

Oh ya, karena penasaran saya sempat googling tentang sejarah Canberra Mosque:

The idea of establishing a mosque in Canberra was initiated in the late 1950s by the then Indonesian Ambassador to Australia, Dr A Y Helmi, who discussed the potential project with Sir Gordon Freeth, the then Australian Federal Minister for the Interior and Minister for Works. Dr Helmi also sought support for the idea and financial contribution towards the project from three Muslim governments which had representations in Canberra.

Canberra Mosque, designed in Melbourne, was built in 1960 for £18,000 provided jointly by the three governments through their diplomatic missions in Canberra – the Embassy of the Republic of Indonesia, the High Commission of Malaya (before the formation of Malaysia) and the High Commission of Pakistan – on a block of land located at Block I, Section 22, Yarralumla, ACT. The land was a perpetual grant by the Commonwealth Government at one shilling per annum rental. These three Missions, later became the founding members of the Canberra Mosque Incorporated (CMI).


Melihat sudah jam 10.50 saya bergegas mengemasi barang dan turun menuju ruangan tadi. Ternyata ruangan sudah nggak seramai tadi, dan mas tadi udah nggak ada. Jadi mau gak mau saya harus menyapa orang yang di dalam dengan bahasa Inggris.

"Assalamu'alaikum" sapaku memulai pembicaraan. Bapak yang di dalam menjawab salam saya dan keluar "Wa'alaikumsalam". Lalu saya bilang "I just wanna say thank you for can take a rest in the mosque" tapi sepertinya bapak ini salah nangkap dan malah bertanya "do you want to take a rest in the mosque? but..." saya kurang inget, tapi intinya dia nggak tau kode pintu yang di dalam. Lalu saya bilang "Oh, no thank you. Now I'll go to Indonesian Embassy" dan bapak itu menjawab "Oh yes, today is open house. So just take your time there!" dan saya lalu keluar dari masjid sambil sekali lagi menucapkan salam.


Embassy of Indonesia (KBRI): Festival Indonesia 2015

Saya kaget ngelihat deretan parkiran mobil makin tambah banyak. Wah, daebak bener ini! Nggak sampai 5 menit jalan kaki saya sudah sampai di depan KBRI, di Darwin Avenue. Nah pas mau nyeberang jalan, tiba-tiba ada orang muka korea berhenti dan turun dari mobil pas di depan saya. Saya melempar senyum ke dia dan akhirnya kita sama-sama menyeberang jalan ke KBRI. 

Pas masuk stand-stand pertama kali, saya lihat laki-laki yang pake baju batik dan feeling saya mengatakan kalau saya familiar dengan orang ini. Tapi loh apa-apaan saya aja gak tau siapa dia kok bisa merasa familiar, kan aneh. Saya tetep jalan ke dalam dan seperti yang dibilang kak Ravi saya cari stall no 14. Nahh.. ternyata di stall gak ada tulisan nomornya, bingung-lah saya padahal saya udah muter sampe depan panggung utama. Pasti ada cara buat nemuin-nya! 

Saya balik ke depan dan di pintu registasi saya tanya mbak yang pake baju batik "Mbak, boleh tau stall-nya PPIA University of Canberra itu yang mana ya?" dan sama mbak-nya malah ditunjukin "itu nomor 2 yang ada di pojokan" dan ternyata ada tulisannya bro, gedhe banget PPIA UC.. *haduhh saya iniii*. 

Setelah bilang makasih, saya langsung ke stall itu dan ditawarin sama mas-nya mau beli apa. Bukannya jawab, saya malah balik nanya. "Mas yang jaga stall ini?" trus masnya bilang iya. "Kak Ravi-nya ada?" tanyaku. "Wah, dia muter terus. Tadi sih ada di sini, sekarang nggak tau kemana" jawabnya. Waahh, apa yang tadi pake batik ya? Soalnya tadi lihat sepintas di sini tapi sekarang nggak ada. Dan mas-nya langsung nanya "Mbak namanya siapa?". "Saya Arinal, udah janjian sih kemaren. Tapi saya nggak ada nomor Australia jadi gak bisa ngontak langsung. Lama ya mas?" trus malah saya di kasih tau kalau jam 12 nanti kak Ravi ada penampilan dulu. "Saya tunggu aja deh mas, soalnya saya juga nggak tau orangnya yang mana" kataku. Jawaban yang aneh, mau ketemu tapi nggak tau orangnya yang mana. Trus saya ditawarin roti, tapi begitu ngelihat teh kotak saya lebih tertarik beli teh kotak akibat dehidrasi seharian dan gak nemuin isi ulang air di jalan. 

Ketika saya bertemu orang baru, entah lebih tua atau lebih muda dari saya, saya prefer manggil 'kak' sebagai bentuk penghormatan saya. 

Setelah saya bayar, bukannya nunggu tapi saya malah jalan. Feeling saya bilang kalau saya lebih baik jalan ke panggung utama, kalau sampai jam 12 gak ketemu nanti saya bisa titip ke temen-temennya di stall tadi karena saya harus ngejar bus jam 2. Emang tujuan utama saya ketemu kak Ravi dulu karena udah janji, baru setelah itu saya bisa jalan-jalan bebas sesuka hati di KBRI. Gak seru kan jauh-jauh ke Canberra kalau gak ketemu sekalian, pun kalau balik ke Indonesia belum tentu bisa ketemu juga. 

Eh saya lihat mas yang tadi pakai baju batik, ah sepertinya ini kok kak Ravi. Kalo salah yaudah, tapi daripada nggak berusaha, padahal udah jelas saya gak pegang alat komunikasi yang bisa dihubungi. Saya langsung jalan ke arah kak Ravi, tapi dia jalannya juga cepet banget. Akhirnya saya panggil "Kak Ravi.. kak Ravi..." barulah dia berhenti dan noleh ke saya. Biar nggak keburu bingung, saya langsung kenalin diri "Saya Arinal kak..". "Kok bisa tau saya?" duh udah saya duga bakal ditanya ini dan gak tau harus jawab apa, masak iya feeling, padahal emang iya ngerasa familiar. Dan akhirnya saya jawab "dari facebook" padahal sempat buka-buka pun enggak.

Kadang buat bertemu orang yang belum kita kenal itu cuma modal berani nyapa duluan aja. Kalau nggak berani, ya sampai kapan kita nggak bakal bisa ketemu orang itu. Ibaratnya moment yang langka, iya atau enggak sama sekali.

Anw, tiap kali saya kenalin diri 'Arinal' pada akhirnya orang lebih suka manggil saya 'Izza' 

Denah Festival Indonesia 2015 di KBRI Canberra
Saya langsung masuk ke KBRI muter-muter ke stall-stall yang lain karena sedari tadi belum sempat merhatiin satu-satu. Tapi diakhir saya lebih tertarik masuk ke Rumah Budaya. Meskipun saya orang Indonesia, saking banyaknya budaya, melihat koleksi lengkapnya tetep membuat saya senang. Ibarat saya orang Jawa, lihat culture batak, sumatera, dll itu juga jarang. 

Becak: yang jadi spot foto favorit para turis (eh turisnya siapa ya? hhaha)
Bangunan KBRI juga menarik menurut saya, patung-patung yang ada di pagar itu ternyata berbeda-beda dan tertulis namanya di tiap patung. Menggambarkan 'wah' banget budaya Indonesia ni, banyak banget! Disamping banyak objek atau moda transportasi tradisional yang dipajang di sini. Becak ini terlihat unik di mata mereka, sampai banyak yang berfoto di becak ini. 


Balai Wisata Budaya, KBRI Canberra
Saya lanjutkan masuk ke Balai Wisata Budaya dimana saya disapa mbak-mbak di depan pintu. Karena lihat saya orang Indonesia, mbaknya tersenyum. Saya masuk ke dalam dan ternyata ada yang biasanya buat jualan wedang ronde itu, hhehe. Waktu saya kecil masih sering lihat, kalau sekarang paling bisa dihitung dengan jari. Saya  lihat sedari tadi ibu-ibu di depan saya interest banget foto-foto, dan saya menawarkan diri untuk mengambil gambar. "Do you want me to take your picture?" kata saya. "Is it okay?" katanya. "Yes, off course!" jawab saya sambil mengambil kamera dari tangannya. Setelahnya, gantianlah dia tawarin buat ngambil gambar saya, hihii.. 
Narsis setelah menawarkan ngambil foto seorang Chinese yg interest banget sama budaya Indonesia
Seseorang bilang ke saya, kalau cara berinteraksi paling mudah dengan orang asing adalah menawarkan mengambil foto atau minta tolong difoto.

Lihat gamelan, tangan langsung gatel pengin main
Didalam wisata budaya banyak banget benda-benda khas budaya Indonesia, dari wayang, gamelan, dst. Rasanya, ini seperti di Indonesia. Hmm ya iyalah, ini kan Kedutaan Besar Republik Indonesia, rumahnya orang Indonesia di luar negeri.
Festival Indonesia 2015, KBRI Canberra
Setelah itu saya ke Festival Indonesia, ke panggung utama. Wah, dangdut. Biasanya saya biasa aja kalau denger dangdut di Indonesia, tapi di sini kok jadi sesuatu yah.. Dari yang musik-musiknya gak saya kenal tiba-tiba denger musik familiar, tiba-tiba langsung ikutan nyanyi. Nggak cuma dangdut, tapi musik-musik modern Indonesia juga.

Makin siang makin panas dan akhirnya saya buka jaket saya, panasnya nyengat euy! Meskipun kalau dari temperatur, Indonesia masih lebih panas (biasanya sampe 32 pun nggak masalah), tapi 26 C buat saya udah panas di Canberra, karena mataharinya langsung nyengat ke kulit.

Karena capek berdiri, saya nyari tempat yang bisa buat duduk, dan ternyata nggak ada. Tapi ada satu tempat di kedutaan yang dari tadi saya penasaran, picnic area tu seperti apa ya? Saya berjalan ke belakang deh. Dan ternyata ada hamparan rumput yang udah disediakan tempat duduk ataupu tikar buat duduk-duduk. Iya, pas banget buat picnic keluarga. Tapi sendiri juga tetep seru kok, hhehe. Saya foto-foto kegiatan mereka yang asik ngobrol-ngobrol di sini. 

Lalu ada pihak KBRI yang survey, dan saya yang pertama kali di tanya, lagi-lagi karena saya Indonesia. Terkait kelayakan tempat ini buat istirahat, dan saya bilang nyaman kok pak, tapi nggak ada peneduh aja makanya mereka milih berkumpul di bawah pohon, jawabku. Iya emang bener logikanya, panasnya nyengat lhoo.. Lalu bapak itu gantian survey ke mereka para turis. (Sebenernya yang turis itu siapa sih za? Hahaha).

Di panggung utama masih ada banyak penampilan, yang saya inget sih lagunya we are the world-nya Michael Jackson ikut dinyanyikan. Lalu ada tari saman dari PPIA UC yang sempat saya lihat sebelum pergi, dan ada penampilan tari kecak juga.

Taxi! Mengejar Murray Bus jam 2.00 am

Saya ke Jolimont Center naik taksi, thanks to kak Ravi yang udah manggilin taksi ke kedutaan. Bener-bener kaki lecet parah dan gak sanggup diajak kompromi lagi, saking excited-nya jalan-jalan. Capek sih enggak, tapi lecet-nya menghambat gerakan kaki.

Tapi yang penting lagi, bus saya jam 2.00 am atau saya harus beli tiket lagi buat keberangkatan selanjutnya. Untung banget jalanan lancar, dan yang paling lama cuma di deket Floriade karena rame banget, selanjutnya lancar-lancar aja, jadi perjalanan cuma 5 menit dan sampai Jolimont Center saya langsung lari-lari ke Bay dimana Murray mau berangkat. "Is this the bus for 2 am?" teriakku ke driver yang masih nunggu di depan. "Yes, what is your first name?" saya masih ngos-ngosan dan bukannya bilang nama ssaya malah nyari-nyari tiket di tas. "Sorry, whats is your first name?" dia tanya lagi. "Arinal" jawabku. "Okay!" dan saya langsung naik ke dalam bus, lupa naruh barang di bagasi bawah dan akhirnya saya duduk unyek-unyekan dengan tas saya sendiri. Waduh! Dannn ini kali pertama saya berangkat mepet di negeri orang, biasanya selalu lebih awal 30-60 menit sebelumnya.

Sepanjang perjalan, saya sempat melihat kincir angin yang perkiraan saya ini sudah di NSW, bukan Canberra lagi. Wah, negeri ini!! Sepanjang jalan juga kanan-kirinya padang rumput yang banyak ternak-nya.

Karena sebelah saya asyik dengan gadgetnya, sementara saya gak terkoneksi dengan internet sama sekali, akhirnya saya memilih tidur.


Sydney Central

Perjalanan dari Jolimont Centre ke  Sydney Central kurang lebih menempuh 3.5 jam. Sampai Sydney central jam 5.30 (dan itu kayak setengah 4an kalau di Indonesia), ternyata memang benar klau Sydney Central YHA itu tinggal nyeberang jalan aja dari pemberhentian bus. Dan sini memang Sydney Central Train dan Bus Station, dan saya langsung merasakan atmosfer yang sangat mencolok antara Canberra dan Sydney. Sydney mirip Melbourne, dan Canberra bener-bener sepi.

Saya langsung check in, ke kamar naruh barang dan turun lagi ke lantai 1 buat ngenet pakai fasilitas Wifi gratis. Sayang kalau bayar 5$ buat bayar Wifi premium yang saya nikmatin gak sampai 12 jam pun. Saya kasih kabar ke kak Ravi kalau sudah sampai Sydney, dan kirim foto ke teman-teman di Indonesia. Terutama lagi ngontak mereka yang besok berkepentingan sama saya. Saya bakal landing jam 21.30 dan kalau naik Damri bakal sampai Bogor tengah malam, jadi kudu ada yang jemput ke BS karena angkot jam segitu pun rasanya nggak aman.

Sydney Centra YHA ini lebih besar dibandingin Canberra. Ada 8 lantai kalo gak salah, dan saya dapet lantai 7. Jadi bolak balik kudu naik lift (kalo di Canberra kemarin saya manual aja pake tangga) dan ngantri. Lantai 1 untuk dapur dan ruang bersama, ada bioskopnya juga. Dapurnya besar, jadi pasti leluasa banget. Sambil makan, saya suka sambil ngenet di sini (eh kebalik ya, makan-nya sambil ngenet). Cuma sayangnya karena banyak orang, jadi kamar mandinya agak gak sebersih yang di Canberra kemaren. O iya, saya sempat lihat postcard harganya 5$ dapet 10, besok beli-lah sebelum pulang.. kemaren di Floriade masak 1 biji 1$. 

Pas di kamar dan buka jendela, whoaa Sydney Central Station kalau malem keren banget!!